Terpaksa Menikahi Gadis Cacat

Terpaksa Menikahi Gadis Cacat
Permintaan maaf Alby


__ADS_3

Maura tak berhenti menangis, memandangi wajah Alby yang dipenuhi perban, akibat banyaknya luka pasca kecelakaan yang menimpanya.


Setelah 4 jam melewati masa keritisnya, akhirnya Alby sadarkan diri dan meminta kedua orang tua serta kedua adiknya untuk mendekat kearahnya.


Tangan lemahnya bergerak, berusaha menggapai wajah sang mama, menangis tanpa suara, ingin rasanya mengatakan semua yang ingin ia katakan, namun apalah daya untuk saat ini ia tak mampu berbicara banyak.


"Ma..? m-maafkan Al by ma, A-alby su-sudah melakukan banyak do-dosa selama ini, B-ben ti-tidak bersalah, aku_ aku yang menyebabkan a-adek meninggal, pa-pa maafkan alby." ujar Alby dengan suara terputus-putus.


"Al." ucap Maura dengan bibir bergetar, sembari menggenggam tangan Alby yang kini terasa sangat dingin.


"Ma-af ma,"


"Sudah nak cukup, jangan berbicara lagi, kamu perlu istirahat!" potong Maura sembari menangis tersedu-sedu.


"B-ben ma-maafkan aku Ben_" lanjut Alby melirik kearah Ben, dengan sisa tenaga yang ia miliki.


Ben mendekat perlahan, "Sudahlah Al, lupakan saja, semuanya sudah berlalu, aku sudah memaafkanmu." jawab Ben yang tampak santai dengan dihiasi senyum tulus dari bibirnya.


"Ter_" suaranya tercekat di tenggorokan dengan mata yang melebar, dan detik kemudian matanya tertutup rapat, membuat keempat orang yang berada di ruangan itu berteriak histeris, terutama Maura.


"Alby, apa yang terjadi cepat panggil Dokter!" Maura mencoba mengguncang-guncangkan tubuh Alby yang sudah tak berdaya, sementara Darrel bergegas keluar mencari keberadaan Dokter.


"Alby bangun, Al?" Maura tampak putus asa membangunkan Alby yang tak kunjung bangun.

__ADS_1


Sementara Ben dan Rama terdiam di sampingnya, dan sesekali mengusap buliran bening yang berjatuhan mengenai pipinya.


"Ma, tenang ma, biar Dokter periksa dulu keadaan Alby ya ma?" ujar Rama yang tak bosan menenangkannya.


"Tenang papa bilang! bagaimana mama bisa tenang, sedangkan keadaan Alby seperti ini." bentak Maura dengan raut wajah yang terlihat kacau.


Tak lama Dokter dan 2 perawat lainnya datang bersama Darrel, dan bergegas memeriksa keadaan Alby.


Dokter terdiam, memandangi kedua perawat itu sembari menggelengkan kepala, kemudian beralih tatap kearah Rama dan Maura, "Mohon maaf pak bu, pasien sudah meninggal."


Deg!


"Apa dok,?" Maura melangkah lebih dekat kearah Dokter, untuk mendengar lebih jelas dengan apa yang baru saja di dengarnya.


Setelah mengatakan hal itu, Dokter dan kedua perawatnya berpamitan untuk keluar dari ruangan tersebut.


Sementara Maura, terduduk lemas, dengan perasaan syok yang membuat dadanya seketika terasa sesak.


*****


Proses pemakaman Alby pagi ini diiringi dengan isak tangis pilu Maura yang tiada henti, kehilangan anak kesayangan nya membuat Maura benar-benar merasa sangat terpukul.


Sementara Putri, saat acara pemakaman berlangsung hingga selesai, tak sedetikpun melepaskan genggamannya dari tangan Ben yang terlihat sama terpukul nya dan di selimuti duka.

__ADS_1


Tak lupa keduanya menyempatkan diri untuk menghadiri pemakaman Sandra yang dilakukan di TPU yang sama.


"Lho Ri, kamu disini juga?" sapa seseorang yang tak lain adalah Rezza.


"Eh kak Rezza,?" balas Putri seraya tersenyum ramah, yang tanpa sadar membuat Ben geram dan kesal.


"Kamu kenal Alby, Sandra juga?"


"Iya kak, Alby kakak ipar ku."


"Terus Sandra?"


"Umz S-sandra_" Putri terlihat bingung dan gelagapan, menoleh kearah Ben yang kini memasang wajah datar tanpa ekpresi.


"Mantan kekasih suami kamu?" lanjut Rezza sembari memandang Ben dengan tatapan sinis.


Merasa keadaan semakin mencekam, Putri pun berinisiatif mengakhiri percakapan mereka, mengajak Ben untuk segera pulang.


"Kak maaf ya, aku lagi nggak enak badan, jadi kita pamit pulang duluan ya!" Putri menarik tangan Ben agar segera mengikutinya, sementara Rezza hanya bisa menghela nafas melihat kepergian keduanya.


"Move on dari kamu, kenapa sesusah ini sih Ri." gumam Rezza.


.

__ADS_1


.


__ADS_2