Terpaksa Menikahi Gadis Cacat

Terpaksa Menikahi Gadis Cacat
Gaun pengantin


__ADS_3

"Nyari siapa?" tanya Anita, saat memperhatikan Algar yang sejak tadi celingukan seperti sedang mencari-cari sesuatu.


"Eh itu ma, mama inget nggak tentang istrinya si Ben yang waktu itu pernah aku ceritain ke mama."


"Oh yang kata kamu mirip mama itu."


"Nah iya itu."


"Memangnya kenapa Al?"


"Tadi dia juga ada disini, waktu mama lagi angkat telpon."


"Terus sekarang?"


Algar menggidikan bahu, "Pergi mungkin!"


"Yasudah mungkin belum waktunya aja mama ketemu dia." Anita menggamit tangan putranya lalu berjalan menuju kasir.


*******


Mengingat waktu menuju resepsi pernikahannya yang semakin mepet, sore ini juga Ben mengajak Putri untuk mencoba gaun pengantin pilihannya, yang sudah ia pesan dua minggu yang lalu.


Seperti ucapannya beberapa hari lalu Ben akan mempercepat resepsi pernikahannya dengan Putri, sebagai salah satu bukti bahwa ia benar-benar serius dengan perasaannya.


Begitupun dengan undangan yang sudah selesai, bahkan sebagiannya sudah tersebar.


Di pintu utama butik seseorang nampak tersenyum manis menyambut Ben dan Putri seolah mereka tahu akan kedatangannya.


Pelayan butik berwajah cantik, dengan tubuh semampai itu menunduk hormat, mempersilahkan keduanya masuk dengan sangat ramah.


"Gimana pesanan saya tempo hari, sudah selesai?" tanya Ben dengan kedua tangan yang ia masukan kedalam saku celana, sementara pandangannya tertuju pada wajah Putri yang berjalan disampingnya tanpa menatap sang pelayan butik.


"Sudah pak, anda boleh melihatnya secara langsung, semoga anda tidak kecewa dengan hasil rancangan kami." jawab sang pelayan yang kemudian menyuruh keduanya memasuki ruangan yang lebih kecil di banding beberapa ruangan yang sudah mereka lewati.


"Ini dia gaun yang seperti bapak inginkan, semoga sesuai dengan keinginan nya ya!" menunjukan gaun pengantin yang begitu indah yang terpajang disalah satu patung manekin di ruangan itu.


"Dan ini jasnya, semoga bapak juga menyukainya." pelayan butik tersebut kembali menunjuk kan jas pesanan Ben.


"Baiklah, kami berdua akan mencobanya."


"Cobalah gaunmu." bisik Ben, yang kemudian melangkah mengambil jasnya sendiri untuk ia coba.

__ADS_1


Sementara itu Putri tampak memasuki ruangan ganti dengan di temani pelayan wanita tadi untuk membantunya mengenakan gaun pengantin.


Sepuluh menit, hanya waktu sepuluh menit saja Ben telah selesai mengenakan jasnya, keluar dari ruang ganti, duduk santai menunggu istrinya di sebuah sofa ruangan itu.


Dan lima menit kemudian sang istri keluar dengan menggunakan gaun pengantinnya berjalan anggun mendekati Ben yang menatapnya tanpa berkedip.


Gaun indah putih bersih berpadu dengan wajah cantik dan terkesan imut itu menjadikan diri Putri benar-benar terlihat seperti Putri kayangan dalam dongeng.


Cantik luar biasa, dimata Ben.


Begitupun dengan Putri ia begitu terpana dengan penampilan Ben saat ini, tubuh tinggi tegap dan tampan itu dibalut dengan kemeja dan jas yang tampak cocok dengan tubuhnya.


Membuat Ben terlihat lebih gagah dan berwibawa.


Tak ingin terlihat terlalu memperhatikannya, Putri memilih menunduk, lalu menatap kesembarang arah.


"Apa yang kau lihat?" tanya Ben mengikuti arah pandang Putri yang entah kemana.


"Apa tirai disana terlihat lebih mengagumkan dibanding denganku?" lanjut Ben dengan nada suara yang terdengar kesal, saat menyadari tatapan Putri mengarah pada tirai penutup ruang ganti laki-laki di belakangnya.


Putri terlihat gelagapan, dan sontak menatapnya, membuat kedua pasang netra bening itu saling tatap dan mengunci satu sama lain hingga beberapa saat.


"Kamu cantik!" ucap Ben lirih, yang terdengar seperti sebuah gumaman.


***********


Malam harinya seperti biasa, Putri akan berbalas pesan chat bersama Rara, dan setelahnya menonton film drama Korea favorit nya diatas sofa yang berada di sudut kamar.


Sementara itu Ben tampak segar, karena baru saja selesai mandi, mengambil laptop, menjatuhkan tubuhnya disisi ranjang sembari memangku laptop tersebut diatas pangkuannya.


Sesekali ia melirik kearah Putri yang tengah cekikikan menahan tawa, dengan kedua bola mata yang tetap fokus pada layar menyala dari benda pipih ditangannya.


Tanpa sadar Ben menyunggingkan senyum, melihat tingkah sang istri yang menurutnya sangat menggemaskan, ia ingin sekali menghampiri Putri untuk sekedar memeluk dan menciumnya, namun untuk saat ini Ben belum memiliki keberanian sebesar itu.


Ia tak ingin terlalu terburu-buru dalam mengambil langkah untuk mendekati istri kecilnya itu, ia ingin memberi waktu untuk Putri agar terbiasa dengan dirinya, dan juga cinta yang ia berikan padanya.


Yang terpenting bagi Ben saat ini Putri sudah mengetahui perasaannya yang sesungguhnya.


Ben mengerti, saat ini Putri masih canggung terhadapnya, atau bahkan merasa sedikit trauma, dengan sikap ia selama ini, yang sudah benar-benar keterlaluan.


Jika ada yang mengatakan dia bodoh, tentu saja ia memang bodoh, karena sudah menyia-nyiakan istri secantik dan sebaik Putri.

__ADS_1


Dari hitungan detik, menit, hingga 3 jam berlalu, Ben berkutat mengerjakan pekerjaannya melalui benda segi empat yang sejak tadi bertengger manis diatas pangkuannya.


Ben merenggangkan ototnya yang sedikit pegal, akibat terlalu fokus dan terus menunduk, ia kembali menoleh kearah Putri yang masih berekspresi sama dari 3 jam yang lalu, senyum-senyum sendiri, dan sesekali menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Sungguh menggemaskan!


Drrttt... drrttt...


Layar dari benda pipih Putri bergetar dan berkedip-kedip yang menandakan sebuah panggilan telpon masuk, bertuliskan "kak Ilham."


Sempat ragu untuk mengangkatnya, namun ia khawatir terjadi sesuatu dengan Rara sahabatnya, pasalnya 3 jam yang lalu Rara sempat memberi tahunya lewat pesan chat bahwa ia tengah membeli beberapa novel cetak bersama Ilham disebuah toko buku besar yang berada disamping Mall yang tidak jauh dari kostan Rara.


"Hallo kak,?" Putri bertanya terlebih dahulu begitu telpon tersambung.


"Lagi ngapain Ri?"


"Euhmz ini, lagi_ lagi duduk aja kak, Rara dimana?" tanyanya canggung sembari menoleh kearah Ben yang terlihat masih menunduk fokus pada laptopnya.


Mengobrol dengan laki-laki lain meski dalam sambungan telpon tentu saja adalah hal tidak baik menurut Putri, terlebih saat ini ia tengah berada di ruangan yang sama bersama Ben sang suami.


"Rara udah saya antar pulang ke kostannya."


"Yasudah kalau gitu! saya lega dengernya."


"Ri_"


"Ehhhmmmm!" Deheman keras Ben serta raut wajah yang terlihat ganas membuat Putri repleks berdiri dari duduknya, menatap Ben takut-takut.


"Siapa yang menelpon malam-malam begini?" tanyanya dengan Nada suara yang terdengar jengkel, merebut ponsel dari tangan Putri lalu melihat nama sang penelpon.


Mata Ben memicing, menatap sebuah nama dilayar ponsel Putri, lalu tatapannya beralih menatap Putri dengan penuh selidik.


Tak ingin memperkeruh suasana, yang berakhir dengan keributan, Putri merebut kembali ponsel nya dari tangan Ben, kemudian mematikan telponnya, tanpa berniat berpamitan pada si penelpon terlebih dahulu.


"Siapa?" tanya Ben dengan suara berat, kedua bola matanya begitu tajam menatap Putri seperti ingin menelannya hidup-hidup, membuat Putri sedikit terlonjak dan gelagapan.


"I-itu, kak Ilham temen kuliah!" jawab Putri dengan wajah tertunduk, karena tak sanggup menatap wajah menakutkan milik sang suami.


"Ngapain nelpon malem-malem?"


.

__ADS_1


.


__ADS_2