Terpaksa Menikahi Gadis Cacat

Terpaksa Menikahi Gadis Cacat
Masalalu Anita


__ADS_3

Anita memperbaiki posisi duduknya, walau hanya bergeser beberapa Centi saja dari posisi semula, kedua tangan saling bertaut, untuk menguatkan dirinya sendiri, bahwa ia akan baik-baik saja saat ini.


Kedua pandangan ia arahkan kedepan, mulai menceritakan kepingan dari masa lalunya.


#Flashback On..


Sore itu, seperti biasa setiap pukul 4 sore Anita pulang dari tempat kerjanya di sebuah pabrik susu tempatnya bekerja, pabrik tersebut bukan miliknya dan juga bukan milik Arfan suaminya, namun milik orang lain, disana sehari-hari Anita bekerja untuk membantu kebutuhan ekonomi keluarganya.


Karena penghasilan Arfan saat itu tak mampu untuk mencukupi kebutuhan keluarga kecil mereka, Arfan memang memiliki pabrik kecil-kecilan, namun di posisi yang saat itu semuanya tak mampu menutupi kebutuhan mereka sepenuhnya, terlebih saat itu Putri kecil mereka tak ingin meminum Asi dari Anita, dan pada akhirnya harus diberikan susu formula sebagai gantinya.


Demi keluarga dan juga kedua buah hatinya, Anita terpaksa bekerja banting tulang, meski berat rasanya bagi ia untuk menitipkan anak-anaknya pada orang lain, meski itu adalah Yani sahabatnya sendiri.


"Mama pulang nak,"


"Eh, mama pulang! dek mama pulang tuh, ayok!" Algar yang saat itu berusia 11 tahun, menggendong tubuh adiknya tanpa beban, mendekati sang mama untuk kemudian menyalaminya.


"Anak pinter!" Anita mengelus kepala keduanya, setelahnya ia celingukan mencari sosok Yani yang tidak berada disamping kedua anaknya.


"Cari siapa ma?" Algar yang menyadari sang mama terlihat sedang mencari-cari sesuatu akhirnya memutuskan untuk bertanya.


"Tante Yani kemana, papa juga apa belum pulang."


"Ada kok tante Yani ada, papa juga ada udah pulang sejak satu jam yang lalu."

__ADS_1


"Tumben, terus sekarang mereka dimana?"


"Katanya sih mau kedapur, mau masak."


"Yaudah, kalau gitu kamu tunggu disini ya, mama lihat papa sama tante Yani dulu, jagain adeknya."


"Iya ma!"


Tidak ada rasa curiga sedikitpun yang tumbuh dalam hati Anita selama ini terhadap keduanya, karena yang ia tahu selama ini suaminya begitu mencintainya, meski berulang kali ia mendapati wanita yang bergelar sahabat, sekaligus pengasuh kedua anaknya itu sering terlihat sedang mengobrol bersama dengan suaminya.


Namun hari ini, ia dibuat melongo ketika mendapati dua orang tersebut tengah saling suap-suapan makanan dengan sendok dari piring yang sama.


"Yani, mas?" ujar Anita pelan yang membuat keduanya repleks berdiri, bahkan sendok berisi makanan yang akan kembali Yani berikan pada Arfan pun terjatuh begitu saja.


"Kalian sedang apa, Yani kamu masak?" tanya Anita santai, seolah ia tidak melihat apapun, dan kini menarik kursi di hadapan keduanya yang berdiri mematung.


Sementara Arfan dan Yani saling pandang, dan kemudian sama-sama memalingkan wajahnya.


"Aku mau coba masakannya boleh? kebetulan aku lapar sekali." lanjut Anita, wanita yang sering di sapa Linda itu jika sedang berada dirumah.


"I-iya Lin, sebentar aku ambilin!" dengan tangan gemetar Yani segera menuangkan makanan yang baru saja dimasaknya keatas piring, dan segera memberikannya pada Anita.


"Terimakasih ya Yan, oh iya anak-anak ada di depan berduaan, boleh aku titip sebentar!" ujar Anita lembut, yang kemudian di angguki oleh Yani.

__ADS_1


"Mas tunggu, mau kemana kamu?" ujar Anita yang membuat langkah Arfan yang hendak menyusul keluar terhenti seketika, dan menoleh kearah Anita yang terlihat sedang mengaduk-aduk makanannya, tanpa berniat untuk sekedar mencicipinya.


Diam beberapa saat dengan kedua mata yang menyorot tajam menatap suaminya.


"Kamu tidak mau menjelaskan sesuatu padaku,?" ujar Anita tenang, bahkan sangat tenang.


"Menjelaskan apa?" kedua alis Arfan saling bertaut, seolah ia bingung dan tidak mengerti apapun yang dikatakan Anita.


"Sampai kapan, dan di mulai dari kapan kalian seperti ini di belakangku, bahkan saat anak-anak ada di rumahpun kalian berani melakukan hal seperti ini, sungguh memalukan!" Anita berdiri seraya memukul kan sendok keatas piring hingga membuat bunyi dentingan yang cukup keras.


"Maksud kamu apa sih?" elak Arfan.


"Apa, kamu tanya maksud aku apa, seharusnya aku yang bertanya bukan kamu, maksud kamu apa? kenapa kamu melakukan ini di belakangku mas?" ujar Anita yang kini mulai hilang kendali.


"Kamu tega ya mas, kamu tahu aku ikut bekerja demi membantu kamu memenuhi kebutuhan keluarga kita, kamu tahu seharusnya tugasku hanya merawatmu dan juga anak-anak kita, seharusnya aku setiap hari dan setiap saat berada disamping mereka."


"Tapi aku rela jauh dari mereka, semuanya karena apa, karena kamu, karena aku peduli sama kamu, tapi apakah ini balasan terbaik yang kamu berikan ke padaku, kamu jahat!"


"Lin_ Lin, dengar dulu kamu itu salah paham, aku sama Yani nggak ada hubungan apa-apa." ujar Arfan berusaha menenangkan.


.


.

__ADS_1


__ADS_2