Terpaksa Menikahi Gadis Cacat

Terpaksa Menikahi Gadis Cacat
Resepsi Pernikahan 3


__ADS_3

"Lo yakin, mau melakukannya?" tanya Sandra dengan senyum meremehkan.


"Kenapa lo ragu, atau lo takut jika kalah dalam pertarungan ini."


"Maksud lo?"


"Ck lo nggak paham?"


"Gini aja, lo inget nggak, dulu gue pernah cerita tentang apa yang pernah gue lakukan ke si Ben semasa kecil."


"Tentang keguguran nyokap lo, atau tentang_"


"Semuanya." sela Alby cepat.


"Jadi gimana, lo masih ragu dengan kemampuan gue?" lanjut Alby yang memasang wajah angkuhnya.


"Al, lo ngerasa nggak sih, kalau sejauh ini lo itu benar-benar telah menjadi sosok seorang kakak yang kejam banget terhadap adik lo!"


"Lo yakin, masih mau melakukannya, lo masih mau menghancurkan kehidupan adik lo?" lanjut Sandra memastikan.


"Kenapa sih lo, bukannya harusnya lo senang jika kita bekerja sama."


Sandra menggeleng, seraya tersenyum misterius, "Gue senang bekerja sama dengan manusia yang tidak punya hati seperti elo, dengan begitu gue nggak perlu takut jika suatu saat lo akan berhenti dan menjadi seorang pengkhianat."


"So?"


"Deal!" keduanya berjabat tangan dan saling melemparkan senyum penuh Arti.


***


"Gar woy, lo kagak denger! itu ponsel lo bunyi terus anjir!" Arsen menendang kaki kursi yang sedang diduduki Algar.


"Ck nggak penting, paling kang kredit kompor!"


"Eh sembarangan kamp ret, lihat dulu napa siapa tahu penting!" ucap Arsen dengan sedikit desakan.

__ADS_1


"Elahhh, handphone gue elo yang sewot!" gerutu Algar bersungut-sungut, seraya merogoh benda pipih yang ia simpan didalam saku celananya.


Dan ia tercengang, kala melihat sebuah nama yang telah menelponnya berkali-kali.


"Mama! mampus gue." gumamnya, dengan segera ia menghubungi balik nomor sang mama.


"Kenapa ma?" tanyanya, saat telpon tersambung.


"Kamu kemana aja sih, mama telponin nggak diangkat?"


"Maaf ma, tadi itu euhmz anu_"


"Lama ah, buruan jemput mama didepan gerbang!"


"Mama udah sampai?"


"Hmmm, cepetan!"


Setelah menutup telponnya Algar melangkah lebar menuju gerbang gedung tersebut yang terbilang cukup jauh.


"Algar pikir mama nggak jadi kesini ma," seru Algar saat bertemu dengan mamanya.


"Oh begitu, yaudah yuk masuk!"


"Tunggu dulu!" Anita menahan lengan Putranya yang hendak berjalan kembali kedalam gedung.


"Kenapa ma?"


"Jadi tadi itu kemana dulu, sampai nggak nerima telpon dari mama, kamu ngapain aja hah, sampai tidak sempat begitu?"


"Maaf ma, tadi itu aku pikir yang nelpon tukang kredit kompor yang biasa lewat depan rumah kita_ Awww,!" pekik Algar saat perutnya dicubit sang mama dengan sangat kencang.


"Sembarangan!" ujar Anita yang kini berjalan memasuki gedung terlebih dahulu, sementara Algar mengikutinya dengan masih meringis memegangi perutnya.


Deg!

__ADS_1


Anita tertegun di ambang pintu, saat mendapati sosok mempelai wanita yang tengah tersenyum manis kearah para tamu undangan yang tengah menyalami serta mengucapkan selamat padanya.


Bukan karena kecantikannya yang membuat ia takjub, namun karena wajahnya begitu persis ketika saat ia muda dulu.


"Ma, kok bengong sih?" tanya Algar saat sang mama hanya diam dengan sorot mata yang lurus kedepan.


"Ehmmm, nggak Al, mama_ mama hanya merasa bahwa ucapan kamu memang benar, itu_"


"Oh, Putri yang mama maksud?" sela Algar, saat menyadari tatapan sang mama yang terpaku pada sosok Putri, yang berstatus sebagai istri sahabatnya itu.


"Algar benar kan ma, kalau begitu sekarang kita temui dia yuk ma!"


"I-iya ayok!"


Deg!


Anita kembali tertegun, dengan jantung yang berdegup kencang, saat matanya tak sengaja melihat sosok Arfan yang tengah menggandeng Yani mendekati Putri.


.


"Ma, ada apa?" tanya Algar saat menyadari tubuh sang mama menegang.


Sementara Anita terlihat gugup, berusaha menetralkan degup jantungnya yang berdebar tak karuan, dan berusaha menampilkan senyum terbaiknya.


"Mama nggak apa-apa, ayo kita kesana!" jawab Anita dengan diiringi helaan nafas beratnya.


"Tapi mama serius, mama yakin nggak apa-apa?"


"Ck, mama baik-baik aja Al, kamu kok kelihatan kaya khawatir gitu sih?"


"Habisnya mama kelihatan kaya_"


"Udah ah, kalau kamu ngajakin mama ngobrol terus, kapan ketemu pengantinnya."


"Iya-iya!"

__ADS_1


.


.


__ADS_2