Terpaksa Menikahi Gadis Cacat

Terpaksa Menikahi Gadis Cacat
Salah mendidik


__ADS_3

Ben benar-benar menunjukan rasa cinta serta perhatiannya yang teramat besar terhadap Putri, ia rela melakukan apapun yang diinginkan sang istri meski diluar nalar sekalipun.


Bahkan ia lebih cepat menyelesaikan seluruh pekerjaannya di siang hari, dan selalu menyempatkan waktu menemani Putri setiap saat, dan ia selalu menemani Putri untuk cek kandungan, hingga tidak ada yang terlewati sekalipun.


*


*


Sementara ditempat yang berbeda sepasang manusia yang berumur setengah abad-an, nampak saling sahut menyahut, dengan ucapan-ucapan mereka yang terdengar kasar dan saling menyalahkan, bagaimana tidak, usai terperegoknya pertemuan suami dengan mantan istri, membuat Yani tak kunjung diam.


Di tambah lagi dengan keadaan Evelyn yang babak belur karena telah di hajar habis-habisan oleh istri pertama dari laki-laki yang ia pacari.


Plaakkkkk!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus evelyn, hingga mencetak jelas gambar tangan Yani disana.


"Anak kurang ajar, tidak berguna! kenapa harus suami orang, kamu cantik dan berpendidikan, seharusnya banyak dong laki-laki muda dan kaya yang mau mengencanimu, bukan laki-laki yang sudah beristri seperti itu, memalukan!"


Plaaaakkk!


Yani menamparnya sekali lagi, dan kini lebih keras dari sebelumnya, meluapkan seluruh amarah yang menggunung dalam hatinya.

__ADS_1


Tak cukup sampai disitu, ia menarik dan menjambak rambut Evelyn dengan kasar, dan memutarnya berulang kali, membuat gadis itu meringis menahan rasa sakit, sementara Arfan berulang kali terjatuh dan terbentur dinding akibat berusaha menolong Evelyn, yang kemudian didorong kasar oleh Yani.


"Terus, lakukan sampai aku mati!" teriak Evelyn.


"Oh ya, satu hal lagi, jangan mama lupakan sifat ku turun dari siapa."


"Mama lupa, atau mama pikir aku nggak tahu bahwa dulu mama hanya seorang pengasuh anak yang merebut suami orang, yaitu papa."


Deg!


"Eve_"


"Dan aku juga tahu, bahwa aku ini anak haram kan ma, hasil perbuatan dari sikap yang baru aja mama bilang memalukan bukan?" Evelyn menangis histeris, sementara Yani mematung dengan tatapan yang entah kemana.


Kejadian demi kejadian yang Yani alami membuatnya semakin frustasi, padahal belum lama ini Putri keduanya yang bernama Rena mendapat surat peringatan dan diskors dari sekolahnya selama dua minggu, karena telah membully salah satu teman sekelasnya yang dianggap norak dan kampungan.


"Semua ini salah kamu mas, kamu kurang perhatian dalam mendidik mereka," tuduh Yani dengan emosi yang meluap-luap.


"Aku_ semuanya salah aku kamu bilang, enak banget ya kamu bisa ngomong begitu, harusnya aku yang marah sama kamu, karena kamu tidak becus menjadi seorang ibu untuk anak-anak, kamu itu terlalu memanjakan mereka, membiarkan mereka berkembang dengan sikap liarnya yang kamu bilang wajar karena masih muda, terus ini yang kamu bilang wajar sekarang, iya?" Arfan balas emosi.


"Dan dengan entengnya kamu bilang semua salah aku, sementara yang dirumah setiap hari itu kamu, kamu sendiri yang meminta hak penuh tanggung jawab mendidik mereka bukan?" Arfan terlihat semakin kesal.

__ADS_1


"Massss?"


"Kenapa, aku benar bukan?"


"Mereka berdua memang jauh berbeda sekali dengan Putri, coba kamu lihat dia, dari kecil tak pernah sekalipun dia harus mendapat teguran dari sekolah, justru dia malah selalu mengharumkan nama sekolah ber_"


"Cukup mas! kamu nggak perlu membanding-bandingkan mereka, mereka itu beda."


"Ya jelas beda, anak rumahan, dan berandal."


"Masss?"


"Tuh kan, ini dia cara mendidik kamu yang salah itu, anak salah malah kamu belain terus, heran!" lanjut Arfan, seraya berbalik membuka dan menutup kembali pintu kamar, membanting nya dengan cukup keras.


"Mas,?"


.


.


.

__ADS_1


"


__ADS_2