Terpaksa Menikahi Gadis Cacat

Terpaksa Menikahi Gadis Cacat
Mantan


__ADS_3

"Baiklah Nen, saya akan temui dia, silahkan kamu lanjutkan kembali pekerjaan kamu."


"Baik bu, kalau begitu saya permisi!" pamitnya, yang mendapat anggukan kepala dari Anita.


Anita pun melangkah pelan menuju pintu utama butik, menghampiri Arfan yang masih berdiri diam menatap jalanan yang dipenuhi oleh lalu lalang kendaraan.


Menoleh, saat mendengar langkah seseorang semakin dekat menghampirinya, lalu sebuah senyuman terbit dari bibirnya saat mendapati seorang wanita yang ia tunggu tengah berdiri di belakangnya meski wanita itu memasang wajah datar tanpa ekpresi.


"Kita perlu bicara Lin, ayo kita cari tempat yang nyaman untuk mengobrol!" ujar Arfan terlihat bersemangat.


"Saya sedang tidak ingin pergi kemanapun, jadi kalau ada sesuatu yang ingin anda sampaikan, sampaikanlah sekarang, lagi pula saya tidak ingin jika istri anda salah paham terhadap saya, dan mengira saya perempuan perebut suami orang!"


Deg!


Arfan tertegun, tidak menyangka bahwa Anita akan berbicara seperti itu, yang jelas mengingatkannya tentang masa lalu mereka.


"Maaf!" ujar Arfan lirih, sembari melirik Anita yang sejak tadi enggan untuk menatapnya.


"Lin, aku kesini hanya ingin memberi tahumu satu hal."


Anita bergeming, masih dengan di posisi yang sama, menunggu Arfan melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Putri masih hidup."


Deg!


Anita tertegun, namun detik berikutnya ia mampu kembali menguasai diri agar tetap terlihat tenang dihadapan Arfan.


"Lin?"


"Saya tahu."


Deg!


Kini giliran Arfan yang nampak bingung, dengan jawaban singkat Anita.


"Kamu_"


Ucapan Anita membuat Arfan tertohok, dan tertunduk lesu, dengan leher yang terasa tercekik keras, bahkan untuk bernafas pun ia sedikit kesulitan.


"Maaf!"


"Apakah bagi anda semudah itu meminta maaf?"

__ADS_1


"Ya, aku tahu kesalahanku mungkin memang tidak mudah di maafkan, untuk itu aku akan berusaha untuk menebusnya lin."


"Terlambat, semuanya sudah terlambat!"


"Oh disini rupanya kamu mas?" Yani yang entah datang dari mana, menatap Arfan dengan tatapan kesal, lalu tatapannya beralih kearah Anita yang kini terlihat lebih santai.


Meneliti penampilannya dari ujung rambut hingga ujung kaki, yang tentu membuat Yani merasa terbebani dengan penampilan Anita yang jauh berbeda dari belasan tahun silam.


Jika dulu Anita terlihat seperti itik buruk rupa, maka sekarang ia terlihat seperti peri angsa yang sangat cantik dan bercahaya, yang membuatnya khawatir dan dipastikan kalah saing dengannya.


"Kenapa, takut? takut jika suami kamu saya rebut kembali, cih! itu tidak mungkin terjadi, karena saya bukan tipe orang yang suka memungut kembali sesuatu yang sudah saya buang, lagi pula pantang bagi saya merebut milik sahabat sendiri." ujar Anita sarkas, yang sukses membuat Yani meradang.


"Kamu_"


"Dan dengar satu hal, saya tidak pernah berniat menemui suami kamu sedikitpun, bahkan membayangkannya saja pun saya tidak pernah, dia yang memaksa saya bertemu, dan lagi ini butik milik saya, sudah jelas bukan, bahwa saya bukan yang lebih dulu berinisiatif mendatanginya, apa kamu menganggap saya wanita penggoda, kalau iya lucu sekali" Anita tergelak sendiri.


"Kau_"


"Yani, sudah cukup! lebih baik kita pulang saja!" Arfan mencoba menghentikan Yani yang mulai tersulut emosi, menariknya untuk segera pulang.


Sementara Anita, dengan hati yang mendadak kembali rapuh ia melenggang kembali kedalam ruang kerjanya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2