Terpaksa Menikahi Gadis Cacat

Terpaksa Menikahi Gadis Cacat
Kebenaran


__ADS_3

"Mau kemana lagi?" seru Yani ketika melihat suaminya sore ini terlihat sudah rapi dengan wangi parfum yang menguar dari tubuhnya.


"Ada urusan sebentar," jawab Arfan sekenanya.


"Tunggu, urusan apa lagi? jangan bilang kamu mau bertemu mantan istri kamu lagi mas!"


"Ck, sejak kapan kamu jadi curigaan begini terhadap saya."


"Mas, aku nggak bisa bohongi diri aku sendiri, tidak menutup kemungkinan kan kalau kamu dan Linda akan lebih sering bertemu, terlebih diantara kalian masih ada Putri, bukan?"


Arfan tergelak, "Kamu terlalu berlebihan Yan, harusnya kamu lebih tahu selama ini aku itu laki-laki seperti apa."


"Iya jelas aku tahu, justru karena itu aku khawatir, kamu lupa mas dulu kamu bisa berpaling dari Linda padahal kamu tahu dia begitu mencintaimu, dan sekarang_"


"Stop, kamu tidak usah teruskan! dengar Yani, yang dulu biarlah berlalu, kamu tidak perlu harus membahasnya lagi bukan, kamu tahu aku pernah melakukan kesalahan fatal saat itu, dan satu hal yang tidak kamu ketahui bahwa sejak saat itu aku dihantui rasa bersalah, dan sejak saat itu juga aku sedang berusaha untuk memperbaiki diri."


"T-tapi mas!"


"Sudahlah Yan, jangan buat saya pusing! saya ada urusan sebentar diluar, dan tolong jangan berpikiran macam-macam."


Setelah mengatakan hal tersebut, Arfan pun bergegas pergi meninggalkan Yani yang enggan untuk ditinggalkan.


*


*


Hari-hari berlalu berganti dengan minggu dan bulan, dan kini usia kehamilan Putri sudah menginjak bulan kesembilan.


Ada begitu banyak hal, serta pengalaman baru yang Putri rasakan ketika ia mengandung buah cinta pertamanya dengan Ben.


Yang jelas, ia begitu bahagia menikmati proses demi prosesnya.

__ADS_1


"Lho kok tante ada disini juga?" ujar Putri ketika sore ini ia berkunjung kerumah Maura sepulang mengecek kandungannya yang terakhir di usia kehamilannya yang ke sembilan.


Anita yang tengah duduk berdampingan dengan Algar pun sontak berdiri, dengan memasang senyum yang terlihat sangat bahagia, beranjak menghampiri Putri yang tengah berjalan menghampirinya.


"Yaampun, udah nonjol begini ya nak, ini pasti sebentar lagi baby nya launching, lancar-lancar ya sayang, selamat dua-duanya." ujar Anita seraya mengusap perut buncit Putri.


"Aamiin, terimakasih tante, Dokter Lisa bilang, hari perkiraan lahirnya sekitar delapan sampai sepuluh harian lagi." balas Putri sembari ikut mengelus perutnya sendiri.


"Tante jadi nggak sabar, oh iya ayo duduk dulu, jangan lama-lama berdiri begini, nggak baik." Anita memapah Putri yang dibantu oleh Ben.


"Tante kenal sama mama Maura juga?" ujar Putri, sembari melirik kearah Maura dan Anita bergantian, yang sontak membuat keduanya meringis dan terdiam seketika.


"Sayang, apakah kamu siap mendengar sesuatu?" ujar Ben tiba-tiba dengan suara setengah berbisik.


"Soal?" Putri memandangnya dengan kening berkerut, dan sesekali menoleh kearah sekitar dimana ada Maura, Rama, Anita, Algar, dan juga Darrel yang diam dengan wajah tertunduk.


"Aku mau kamu nggak terlalu syok saat mendengar berita ini, kendalikan diri kamu bisa?" lanjut Ben penuh dengan kelembutan.


"Kakak mau bilang soal apa sih, kok aku lihat semuanya juga malah ikutan tegang begitu, kak sebenernya ada apa, apa ada sesuatu yang aku nggak tahu?"


"Iya, aku janji nggak akan syok berlebihan, tapi apa?"


"Sayang," terlihat Ben memejamkan matanya menghela nafas, dan menghembuskannya dengan perlahan.


"Mama kandung kamu ada disini."


Deg!


"Dia adalah orang yang selama ini dekat dengan kamu."


Deg!

__ADS_1


"Dia, tante Anita."


Deg!


"A-apa, kak Ben_"


"Aku serius sayang, tante Anita adalah mama yang kamu cari selama ini, dia ada disini."


Deg!


Putri melirik Anita yang kini sudah terisak, menunduk memilin ujung baju serta meremas jari jemarinya.


"Mama aku, jadi tante_" kedua mata mereka bertemu, menyiratkan kerinduan serta rasa tak percaya yang berkumpul menjadi satu.


Anita beranjak seketika, lalu berlutut dihadapan Putri, menyembunyikan wajahnya dengan cara menunduk.


"Maafkan mama nak, mama bukan ibu yang baik mama tidak mampu menjaga kamu selama ini, mama gagal." ucapnya dengan isak tangis yang memilukan.


"Ma?" Algar ikut beranjak menyentuh bahu sang mama yang masih bergetar hebat.


Sementara Putri tak mampu berkata apa-apa selain hanya bisa menangis dengan wajah terbengong-bengong, antara kaget, dan tidak percaya.


"Awwh!" pekiknya sembari memegangi perutnya yang mendadak ngilu, membuat semua orang disana dilanda kepanikan.


"Kenapa sayang, apa yang sakit, mana yang sakit?" ujar Ben panik.


"Perutnya sakit kak, sakit banget." keluhnya dengan dahi yang mulai dipenuhi keringat dingin.


"R-rumah sakit, ayo bawa kerumah sakit." Rama yang melihat Putri meringis sontak melompat dari atas sofa.


"Iya ayo, ayo kerumah sakit." timpal Maura yang juga tak kalah panik.

__ADS_1


.


.


__ADS_2