Terpaksa Menikahi Gadis Cacat

Terpaksa Menikahi Gadis Cacat
Isi hati Ben


__ADS_3

"Yakin?" tanya Putri dengan senyum yang di kulum.


"Yakin dong kenapa nggak, kau meragukanku?"


Putri terkekeh, sembari merapikan anak rambutnya yang menjuntai ke sembarang arah, "Bukannya dulu juga pernah bilang gitu, tapi nyatanya_"


Ucapannya terhenti saat Ben menutup mulutnya dengan menggunakan 2 jari tangannya.


"Please sayang, itu hanya masa lalu." lirih Ben dengan raut wajah yang dipenuhi rasa bersalah, menyugar rambutnya dengan sentakan nafas yang cukup kasar.


"Kak?" Putri menyentuh tangan Ben, dan menggenggamnya, seperti yang sering Ben lakukan akhir-akhir ini.


"Iya iya, aku nggak akan ungkit lagi masa lalu kak, aku tahu kak Ben suami aku yang sekarang sudah berubah." ujar Putri yang membuat Ben menyunggingkan senyum bahagia.


"Terimakasih sayang," Ben mengayunkan tangannya, kemudian mencium tangan Putri yang saling bertaut dengan tangannya itu.


Ben terdiam beberapa saat, dengan pandangan yang lurus kedepan.


"Tapi tahukah kamu sayang, bahwa saat itu aku memang sungguh-sungguh mengatakannya." ujar Ben yang kini menoleh, dengan tubuh yang menghadap kearah istrinya.


"M-mengatakan apa?"


"Aku mencintaimu."


Deg!


"Aku berusaha untuk membencimu saat itu, yang pada kenyataannya justru aku malah tersiksa dengan perasaan ku sendiri, maaf sayang!"


"Aku malu mengakui, bahwa aku telah jatuh cinta pada gadis kecil yang bahkan usianya 11 tahun lebih muda dariku."


"Kak_"

__ADS_1


"Yang mereka katakan tentangku benar sayang, sejak dulu aku hanya ingin menikah dengan wanita yang sama dewasanya sepertiku, seusia denganku, atau bahkan lebih."


Putri yang hendak menyela pembicaraan Ben akhirnya lebih memilih diam dan mendengarkan saja.


"Aku menyukai wanita karir, cantik, perfeksionis dalam hal apapun."


"Seperti kak Sandra?" akhirnya Putri kembali bersuara, yang membuat Ben tersenyum dengan tatapan dalamnya.


"Itu dulu, tapi sejak kamu hadir semua itu lenyap, semua pikiran ku dulu tentang hal itu berubah seketika."


"Kenapa?"


"Mau tahu kenapa?" Ben balik bertanya, dengan senyum manisnya, senyuman yang jarang ia perlihatkan kepada siapapun diluar sana.


Satu tangan terangkat menyentuh sebelah pipi Putri, yang kulit lembutnya begitu menenangkan.


"Karena kamu memiliki sikap yang begitu dewasa, bahkan kamu lebih sabar menyikapi semua hal yang terjadi diantara kita selama ini, dan dalam hal ini kamu lebih banyak mengalah, dari pada melawan."


"Sekilas kau memang terlihat seperti gadis yang baru saja remaja, tapi ternyata sikap mu berbanding balik, dan hal itu yang membuatku semakin jatuh cinta padamu."


"Kak?"


"Dan yang terpenting, kamu sudah mampu mengimbangi ku di atas tempat tidur!" bisik Ben, yang membuat Putri repleks menepuk tangannya dengan wajah merona.


"Aww, sakit sayang!" Ben terkekeh, saat melihat istrinya yang kini memalingkan wajah dengan bibir mengerucut.


"Rasain!'' Putri menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menyembunyikan tawanya disana, bisa-bisanya Ben mengatakan hal itu di saat ia begitu fokus mendengarkan keseriusannya.


*


*

__ADS_1


Di tempat yang Berbeda, Algar tengah bersandar di daun pintu kamar milik sang mama, menunggunya dengan sabar, ingin mendengarkan apa saja yang telah terjadi di hari kemarin saat mamanya menghilang tanpa kabar, dan pulang dalam keadaan menangis, seperti yang di ceritakan bi Hanum tadi malam.


Sudah hampir setengah jam Algar menunggu, namun tak ada tanda-tanda mamanya akan keluar, padahal jam sudah menunjukan pukul 8 pagi, hari ini memang hari libur, akan tetapi bangun siang dan mengurung diri di kamar, itu bukanlah sifat sang mama sama sekali.


Tak lagi sabar, dan merasa khawatir, akhirnya Algar memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Anita sebanyak tiga kali, berharap sang mama segera membukakan pintu, dan membiarkannya bertanya apapun tentang beberapa hal yang memenuhi pikirannya saat ini.


Dan benar saja, tak lama pintu terbuka menampilkan sosok sang mama yang sudah rapi dengan setelan bajunya yang terlihat santai.


"Ma?"


"Kenapa Al,?"


"Mama kemana aja, kok tumben jam segini belum turun, Algar pikir mama sakit."


Anita memaksakan senyum, dengan memperlihatkan senyum terbaiknya.


"Mama punya sedikit pekerjaan, karena kemarin nggak sempet datang ke kantor, jadinya mama kerjain dirumah aja."


"Kenapa, bukannya kemarin mama bilang pekerjaannya sangat mendesak, makanya mama cepat-cepat pulang saat menghadiri resepsi pernikahan si Ben."


"Iya, tadinya sih gitu, tapi tiba-tiba kepala mama sedikit pusing jadi mama memutuskan buat pulang ke rumah aja."


"Jadi mama sakit, kalau begitu kita ke Dokter yuk ma!" ucap Algar panik.


"Nggak, kemarin itu hanya pusing Al, dan sekarang mama sudah baik-baik saja, kamu jangan terlalu mengkhawatirkan keadaan mama nak."


"Gimana nggak khawatir ma, didunia ini aku cuma punya mama satu-satunya yang tersisa di keluarga kita."


Kamu masih punya ayah, dan kemungkinan adik kamu juga masih hidup, ujar Anita, yang hanya mampu ia ucapkan dalam hati.


.

__ADS_1


.


__ADS_2