
"Bukannya kakak udah tahu jawabannya."
"Aku ingin dengar sekali lagi, sekarang!"
"Kak?"
"Please sayang!" jawab Ben dengan tatapan memohon.
Putri tersenyum kecil, sembari menyentuh tangan Ben, menggenggamnya perlahan.
"Aku mencintaimu kak, sangat mencintaimu, bahkan mungkin jauh sebelum kak Ben mencintaiku saat itu."
"Terimakasih sayang, tapi aku yang lebih mencintaimu."
balas Ben yang kini menatapnya dengan tatapan yang berubah sendu.
"Kakak ada masalah?" tanya Putri yang menyadari perubahan sikap Ben sejak pulang makan malam dari rumah Anita 1 jam yang lalu.
"Apa dulu aku terlalu kejam, apakah luka yang ku berikan dulu sakitnya melebihi luka saat aku menabrakmu waktu itu." lanjut Ben dengan kedua tangan terangkat, membingkai sisi wajah Putri.
"Kakak ngomong apa sih, kenapa kelihatannya serius sekali, apa yang terjadi?"
"Apakah kesalahan ku di masa lalu tidak termaafkan, apakah aku tidak pantas mendapat maaf darimu, ampun sayang! jangan beri aku hukuman untuk meninggakanku, aku tak sanggup hidup tanpamu." lanjut Ben, yang kini menenggelamkan wajahnya di pangkuan Putri, dengan isakan tangis yang tertahan.
"Kak?" Jemari lentik Putri mengusap perlahan kepala Ben dengan penuh kelembutan.
"Kenapa kita harus bahas soal ini lagi, semuanya udah berlalu kak, apakah kakak lupa kita sama-sama berjanji untuk saling melupakan masa lalu, dan menata masa depan bersama."
"Lagi pula, apa yang aku alami dimasa lalu itu semuanya terasa hilang begitu saja, semuanya udah tergantikan dengan cinta dan kasih sayang kak Ben terhadapku selama ini."
"Benarkah sayang, kau mau berjanji untuk tidak meninggalkanku, apapun yang terjadi?" Ben kembali duduk menghadap sang istri dengan wajah yang sudah di penuhi air mata, membuat Putri sedikit terkekeh.
__ADS_1
"Kakak lucu tahu nggak sih kalau lagi nangis."
"Sayang!" rengek Ben manja, suatu hal yang belum pernah Putri dengar selama bersama Ben hampir satu tahun ini.
"Aku nggak mau kehilangan kamu sayang,"
"Nggak akan!" Putri memeluk tubuh Ben, agar laki-laki itu berhenti menangis dan meyakinkannya bahwa ia merasakan hal yang sama seperti dirinya, tidak mau kehilangan, dan juga tidak mau di tinggalkan.
*
*
"Al, kamu kenapa sih mukanya kok tegang begitu mama perhatiin?" ujar Anita yang sejak tadi memperhatikan gelagat putranya yang tidak biasa.
"Nggak ada apa-apa kok ma, Algar cuma sedikit bosan aja udah lama kan ya kita nggak liburan."
"Al?"
"Iya ma, kenapa?" Algar mematikan layar lebar dihadapannya, lalu fokus menghadap sang mama yang tengah mengajaknya berbicara.
"Apakah sejauh ini kamu mengingat sesuatu, maksud mama_ apakah ada hal-hal yang kamu ingat sewaktu kamu masih kecil dulu?" ujar Anita yang membuat Algar gelagapan dan salah tingkah.
"Itu, euhmz_ kenapa mama nanya kaya gitu?"
"Mama pengen tahu aja."
"Ma?" Algar menggenggam kedua tangan sang mama.
"Apa yang mama rasakan sekarang,?" tanya Algar, seolah tahu isi hati sang mama yang ingin bercerita banyak tentang hal dari masa lalunya.
Anita terisak, balas menggenggam tangan Algar sangat erat, "Dulu mama pikir adik kamu benar-benar meninggal, tapi ternyata_"
__ADS_1
"Tapi ternyata, dia masih hidup Al." Anita menunduk lemah, diiringi air mata yang berjatuhan membasahi tangan Algar.
"Algar udah tahu ma."
Deg!
Tangis Anita terhenti seketika, mendongak menatap Algar laki-laki yang merupakan anak pertamanya itu.
"Maksud kamu?"
"Algar sudah ingat semuanya, Algar juga tahu adek dimana ma."
"Al, kamu! sejak kapan kamu sudah mengingat semuanya kembali?"
"Sudah sejak lama, maaf soal ini ma, Algar hanya ingin mama bahagia, Al tidak mau mama mengingat kembali apapun yang terjadi dengan keluarga kita di masa lalu,"
"Nak, seharusnya kamu tidak melakukan ini untuk mama, kamu tahu mama cukup kuat untuk menghadapi hal ini Al."
"Aku yang nggak kuat ma, aku yang nggak akan kuat melihat mama memikul semuanya sendiri, Aku nggak akan sanggup!" balas Algar yang kini ikut meneteskan air mata.
"Al?"
"Putri, istrinya Ben dia adek kecilku kan ma, Algar tidak salah bukan?"
Air mata yang sudah mengalir sejak tadi, kini semakin deras dengan isakan yang lebih kuat.
"Iya nak, kamu benar! tapi bagaimana kamu tahu soal ini?"
"Wajahnya, tanda lahirnya, namanya, apa itu tidak cukup kuat sebagai bukti yang nyata ma!"
"Iya sayang, kamu benar!" keduanya berpelukan seperti dua orang yang tengah saling menguatkan satu sama lain.
__ADS_1
.
.