
"Kak?" Putri memeluk tubuh Ben dari belakang, saat laki-laki itu berdiri didepan jendela dengan tatapan lurus kedepan, sedangkan kedua tangan ia masukan kedalam saku celananya.
Sedikit terkesiap, namun detik kemudian tersenyum kecil saat tahu tangan siapa yang tengah bertaut didepan perutnya.
"Kakak melamun?"
"Nggak sayang," jawabnya seraya berbalik agar bisa berhadapan langsung dengan sang istri.
"Bohong banget, jelas-jelas tadi ngelamun lho!"
"Aku cuma tiba-tiba ke inget aja sama Alby, nggak nyangka banget kalau dia bakalan pergi secepat ini."
"Dan rasanya ini seperti mimpi." lanjut Ben dengan raut wajah yang berubah sendu.
"Kak?" Putri menggenggam kedua tangan Ben sembari menatap laki-laki yang berstatus suaminya itu dengan tatapan dalam dan lembut.
"Aku tahu ini nggak mudah buat kakak, tapi yang harus kakak ingat bahwa kematian itu tidak menunggu kita untuk siap, tidak bisa ditawar, dan tidak bisa di ulur, kita juga nggak tahu kapan giliran kita akan menyusul kak Alby."
"Ikhlaskan ya kak, kita sama-sama berdoa aja untuk kebaikan kak Alby di atas sana."
"Iya, iya sayang." Ben tersenyum kecil seraya memeluk Putri yang sejatinya adalah kekuatan dirinya saat ini.
"Kita tidak boleh terlihat sedih di depan mama, karena aku yakin dengan kepergian kak Alby mama lah yang paling terpukul dan kehilangan." balas Putri didalam dekapan Ben, yang dibalas dengan anggukan kecil olehnya.
*
__ADS_1
*
Detik berganti menit, berganti jam, berganti hari hingga berganti minggu, kesedihan mereka kini berangsur berkurang, saling menerima kenyataan atas kepergian Alby begitupun dengan Maura yang kini sudah lebih ikhlas dengan kepergian putra kesayangannya itu.
"Non, di depan ada tamu." ujar bi Sumi berjalan dengan sedikit tergopoh-gopoh menuju lantai dua dimana Putri sedang menggambar beberapa model baju sepulang kuliah sore ini.
"Siapa bi?"
"Bu Maura non, mamanya si Aden."
"Oh mama, yaudah saya kesana sekarang, tolong buatin minum ya bi."
"Baik non."
"Gimana kabarnya sayang, menantu cantik mama, gimana nak kandungan kamu sehat, cucu mama sehat kan?"ujar Maura, ketika Putri baru saja turun dari tangga.
"Sehat ma, mama sendiri bagaimana kabarnya?"
"Seperti yang Putri lihat, keadaan mama sekarang jauh lebih baik." balas Maura seraya tersenyum, senyum yang sempat hilang beberapa waktu karena diselimuti duka.
"Duduk ma!" Putri mempersilahkan mama mertuanya untuk duduk di sofa yang berada di ruang tengah.
"Mama nyari kak Ben?" tanya Putri setelah memperhatikan Maura yang nampak celingukan seperti sedang mencari seseorang.
"Eh iya sayang, Ben kemana?"
__ADS_1
"Kak Ben kerja ma, tapi tadi bilangnya sih mau pulang siang, kalau mama mau ketemu sama kak Ben, tunggu aja ma, sebentar lagi pasti pulang."
"Iya sayang."
"Oh iya, kalau Putri menginginkan sesuatu bilang mama ya."
"Eummz_ iya ma."
"Ada ngidam nggak sayang, biasanya kan orang hamil suka menginginkan sesuatu gitu."
"Sekarang ini belum sih ma."
"Oh begitu ya, tapi kalau lagi ngidam bilang langsung sama si Ben ya, kasian dedenya, orang tua dulu bilang kalau ngidam nggak kesampaian nanti bayinya ileran lho."
"Iya ma."
Tap.. tap.. tap..
Suara sepatu yang beradu dengan ubin membuat keduanya menoleh kearah suara, disana Ben nampak sedikit kebingungan dengan keberadaan Maura.
"Ben, baru pulang?" sapa Maura terlebih dulu, yang kemudian diangguki oleh Ben, berlanjut dengan menyalami tangannya.
"Mama kesini,?" tanyanya, dengan nada yang terdengar sedikit kaku.
"Iya, mama mau tahu keadaan calon cucu mama, keadaan kalian berdua juga."
__ADS_1
.
.