Terpaksa Menikahi Gadis Cacat

Terpaksa Menikahi Gadis Cacat
Pengakuan Algar


__ADS_3

"Kamu kenapa menangis sayang?" Anita menghapus cairan bening yang membasahi pipi Putri.


"Aku, salut banget sama tante." balas Putri yang kini mulai terisak, dan tanpa sadar memeluk tubuhnya.


"Aku nggak bisa bayangin bagaimana perasaan tante saat itu, mungkin kalau aku jadi tante aku nggak akan pernah sanggup." ujar Putri yang membuat Anita tanpa sadar meneteskan air matanya, mengingat begitu keras perjuangannya untuk bertahan kala itu.


"Dulu iya, dulu tante sempat ingin menyerah, tapi setelah tante sadar, tante memutuskan untuk bertahan, karena tante yakin semua orang itu sudah mendapatkan ujiannya masing-masing, dan mungkin ini merupakan ujian yang harus tante jalani."


*


*


"Ben?"


"Hmmm,"


"Gimana hubungan lo sama Putri," tanya Algar dengan mata yang fokus kearah depan, memandangi air kolam renang yang terlihat tenang, dengan warnanya yang jernih kebiru-biruan.


"Hubungan gue sama Putri ya seperti yang lo lihat aja!"


"Gue harap lo benar-benar memperlakukan dia dengan baik, karena kalau nggak_"


"Kalau nggak kenapa?" potong Ben Sarkas, menatap Algar dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Gue nggak bakalan segan-segan ambil dia dari lo."


"Ck, coba aja kalau lo bisa,"


"Gue serius Ben!"


''Terus lo pikir gue bercanda."

__ADS_1


"Ben?"


"Hmmm."


"Selama ini lo pernah berkunjung kerumah keluarga Putri belum sih, serius gue nanya?"


"Seinget gue sih nggak pernah deh kayaknya."


"Sialan! suami macam apa lo, masa nggak pernah tahu rumah keluarga istri sendiri."


"Bukannya gitu, lo tahu sendiri kan awal-awal pernikahan gue rumitnya kaya apa?"


"Itu sih menurut gue, rumitnya karena lo bikin sendiri."


"Sialan!"


"Gue kenal mereka Ben." ucap Algar kemudian, setelah diam beberapa saat.


"Gue kenal mereka, gue juga tahu siapa ayah Putri."


"Gar lo_"


"Dia bokap gue Ben."


Deg!


"Gar, lo bercanda kan, Asli ini tuh kagak lucu tahu nggak sih?"


"Gue masih inget persisnya wajah bokap gue seperti apa Ben, termasuk wanita yang saat ini menjadi istrinya."


"Bokap lo, tunggu Gar! bukannya dulu lo bilang, kalau lo nggak inget sama sekali wajah bokap lo itu seperti apa, terus kenapa sekarang lo_"

__ADS_1


"Itu dulu."


"Hah?" Ben terlihat bingung, hingga dahinya berlipat, bahkan kedua alis saring bertaut, yang menandakan saat ini ia benar-benar kebingungan.


"Dulu gue sempat Amnesia beberapa tahun, gue tahu betul nyokap gue merawat gue seperti apa, gue tahu pengorbanan dia buat gue itu sebesar apa, agar gue sembuh."


"Tapi gue rasa, di sisi lain nyokap gue merasa lega karena seenggaknya bagi dia gue nggak pernah inget dengan kejadian-kejadian yang menimpa keluarga gue di masa lalu."


"Termasuk terpecahnya keluarga gue, yang berakhir dengan kecelakaan itu, sebuah kecelakaan yang dianggap telah merenggut nyawa adek gue."


"Dan sampai saat ini gue rasa nyokap gue belum menyadari bahwa ingatan gue telah kembali sepenuhnya, yang dia tahu gue masih sama dengan ingatan baru yang gue miliki."


"Gar, sumpah ya gue kagak tahu masalalu lo semenyedihkan itu, kenapa lo kagak cerita ke gue sih, lo lupa berapa lama kita bersahabat, dari SMA bro, sampai kita menginjak kepala tiga sekarang ini." ujar Ben dengan nada sedikit kecewa.


"Gue tahu Ben, tapi gue butuh waktu buat meyakinkan diri gue sendiri, karena jujur masalah demi masalah di masa lalu itu, benar-benar bikin gue trauma."


"Setiap malam nyokap gue selalu nangis sendirian, dia itu bisa terlihat tegar di depan semua orang, tapi nggak disaat dia sendirian, dia rapuh Ben."


"Ok, jadi intinya Putri itu_"


Algar mengangguk, "Benar, dia adek gue Ben."


Terlihat Ben yang mengusap wajahnya dengan kasar, seraya memijat pangkal hidung runcing nya berulang kali.


"Elo yakin?" Ben menggeser tubuhnya mendekat kearah Algar.


"Gue yakin,"


"Apa yang buat lo yakin?"


.

__ADS_1


.


__ADS_2