
Mobil Silver dengan keluaran terbilang baru itu melesat meninggalkan area halaman rumah Maura dan Rama, meninggalkan sesak bercampur dengan rasa kecewa.
Di sebuah rumah yang terletak di pinggir paling ujung, dengan suasana pedesaan yang terasa sejuk dan menenangkan, mobil yang ditumpangi Ben berhenti, di sambut hangat oleh Fatma sang nenek.
"Semoga betah disini ya nak!" Fatma mengusap kepala cucunya itu dengan senyum yang di paksakan.
Ben mengangguk kecil, memeluk tubuh sang nenek, lalu menumpahkan tangisnya disana.
"Ben tidak melakukan itu Nek, Ben sedang tidur siang, Ben tidak tahu apa-apa!" kepala Ben bergerak menggeleng beberapa kali di dekapan sang nenek, membuat wanita yang memasuki kepala lima itu ikut terhanyut dan tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Nenek percaya sayang, sudahlah nak!"
"Benar, nenek percaya pada ku?" mata yang dipenuhi air bening itu sedikit memancarkan binar senang.
"Tentu saja, kamu cucu nenek yang baik."
Kembali Ben memeluk tubuh ringkih itu, merasa sedikit lega, setidaknya masih ada orang yang mempercayai ucapannya.
Sementara Fatma berusaha menahan isakan tangisnya agar tidak terdengar nyata di indra pendengaran cucunya.
"Yasudah, sekarang kita makan dulu, habis itu kita jalan-jalan kebelakang."
Ben mengusap pipi serta ingus yang sudah tak beraturan itu menggunakan ujung kaosnya, matanya sedikit berbinar melihat ada pepes ikan mas kesukaannya.
"Suka kan,?" Fatma meletakan piring yang sudah di isi nasi serta ikan mas pepes di atasnya.
Ben mengangguk cepat, bergegas menyantap makanannya hingga tandas, dan hal tersebut tidak luput dari perhatian sang nenek.
"Oh iya nek, kakek dimana?!" tanyanya, sembari mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah, melangkah menyimpan gelas serta piring diatas bak kitchen sink, lalu mencucinya. kebiasaan yang selalu Ben lakukan setelah ia selesai makan.
"Kakek lagi kerumah Om Kusno." sahut Fatma, dengan tangan yang sibuk mengelap meja.
"Katanya sih lihat yang lagi lomba mancing."
"Wah seru tuh kayaknya nek!"
Fatma tampak tersenyum, kembali mengusap lembut kepala cucunya.
"Mau kesana?"
"Boleh emang?"
"Boleh dong!"
"Yeee!" Ben tersenyum girang, melupakan sesaat hal pahit yang sedang di alaminya.
*********
"Kakek ada disana!" Fatma menunjuk kerumunan orang-orang yang memenuhi bibir empang.
__ADS_1
Ben mengikuti arah telunjuk sang nenek, kemudian mengangguk dengan seulas senyum yang menghiasi bibirnya, saat melihat sang kakek tengah tertawa melihat seseorang yang tengah menggerutu karena ikan hasil pancingannya kembali tercebur kedalam empang.
"Baik-baik sama kakek ya, nenek nggak bisa temani kamu, sore ini nenek ada pengajian khusus ibu-ibu di Mushola."
"Iya nek, nggak apa-apa, aku ke kakek dulu ya nek!" Ben sedikit berlari menuju kearah sang kakek.
"Kek?" Ben duduk disamping sang kakek yang belum menyadari kedatangannya.
"Eh Ben, kapan datang?" mengulurkan tangan untuk disalami Ben.
"1 jam yang lalu kek."
"Kok tahu kakek lagi ada disini,?"
"Kan nenek yang ngasih tahu."
"Oh iya!" Harun terkekeh sendiri.
"Cucunya pak?" tanya Kusno, sedikit menoleh kearahnya setelah menarik pancingannya yang kehabisan umpan.
"Eh iya, ini cucu kedua saya, baru sampe dari kompleks kelinci Putih." Harun merangkul Ben dengan perasaan bangga.
"Oh anaknya Maura ya pak!"
"Iya lah siapa lagi, memangnya anak saya ada berapa, kamu ini"
Kusno terkekeh, "Lagi main kerumah kakek ya dek?"
"Nginep sekalian ya, disini seru lho kalau malem."
"Nggak cuma nginep Kus, cucu saya ini mulai sekarang memang mau tinggal bersama saya." Sahut Harun.
"Lah seriusan mau tinggal disini, disini sekolahnya jauh lho dek."
"Jauh sedikit nggak masalah Kus, yang penting ada kendaraan buat antar jemput dia sekolah."
"Siapa yang ngantar jemput, bukannya pak Harun juga sibuk di pabrik?"
"Kalau pagi saya bisa berangkat bareng, kebetulan memang sekolahan Ben ini searah dengan Pabrik saya, kalau soal yang jemput, mungkin saya akan minta tolong sama si Dadang lah Kus."
"Oh iya Pak, kebetulan tuh bocah nganggur kagak ada kerjaan."
''Makanya itu saya pilih dia, lagian Dadang yang selama ini kita kenal sangat jujur dalam hal apapun."
"Setuju saya kalau itu pak!"
*********
"Gimana, kira-kira bakalan betah nggak tinggal disini?" ujar Harun sepulang dari menyaksikan lomba mancing yang di adakan di depan rumah Kusno sore tadi.
__ADS_1
"Semoga aja betah kek, kan ada nenek sama kakek!" Ben menyengir, memperlihatkan gigi putihnya yang ompong di beberapa bagian.
Harun tersenyum merangkul cucu keduanya itu memasuki rumah yang akan di tempati Ben mulai saat ini.
Harun tidak banyak bertanya lagi soal Ben yang akan tinggal dirumahnya, karena sejak awal ia sudah diberi tahu Rama yang menitipkan Ben hingga keadaan Maura kembali stabil.
Hari-hari berikutnya Ben lalui dengan hati penuh kerinduan terhadap kedua orang tuanya, setiap sore atau sepulang sekolah ia selalu duduk di depan teras rumah, berharap mereka akan datang dan membawanya kembali untuk berkumpul bersama mereka.
Namun hingga minggu dan bulan berikutnya mereka tak juga datang, bahkan untuk sekedar menelpon menanyakan tentang kabarnya.
"Nungguin siapa sih?" Fatma mengusap kepala Ben seperti yang biasanya ia lakukan jika berdekatan dengan cucunya itu.
"N-nggak kok nek!" Ben berusaha menutupi lukanya dengan selalu tersenyum, anak laki-laki yang berumur 8 tahun itu selalu dipaksa kuat sebelum waktunya.
"Suatu saat mama pasti datang sayang!" ujar Fatma menebak isi kepala Ben.
"Euhmz!"
"Bersabarlah nak, mama dan papa hanya butuh waktu."
"Apa mereka segitu marahnya terhadapku nek?" ujarnya dengan mata yang mulai mengembun.
"Mereka tidak marah sayang, mereka hanya perlu waktu untuk melupakan keadaan."
*******
Selama hampir dua bulan masuk sekolah, dan semenjak tinggal dirumah neneknya Ben tak sekalipun melihat Alby ada disana, padahal kelas mereka berada di urutan dan gedung yang sama, hanya berbeda kelas saja.
Alby duduk dikelas 6, sedangkan Ben duduk di kelas 3.
Suatu hal yang membuat Ben bingung dan pada akhirnya memutuskan untuk bertanya pada teman sekelas kakaknya.
Bunyi Bel disiang hari pertanda pelajaran mulai habis, ratusan SDN Angkasa berhamburan keluar kelas, begitu pun dengan Ben yang terlihat terburu-buru, menyeruak diantara ratusan murid itu untuk sampai digerbang utama.
Matanya awas meneliti beberapa pasang wajah yang sedang ia tunggu.
"Kak maaf, lak Leon kan?" Ben mencegat seorang anak laki-laki seusia kakaknya, sedangkan yang dicegat hanya diam memandangnya dengan mata menyipit.
"Siapa?"
"Eh, eumz saya_ saya Ben kak anak kelas tiga."
"Terus?"
"Saya adiknya kak Alby, Kira-kira kakak tahu nggak kak Alby kemana, selama dua bulan ini saya nggak pernah lihat dia."
Mata yang terlihat sipit itu, semakin menyipit menatap Ben penuh keheranan.
"Lo sebenarnya adeknya apa bukan sih, masa kakak lo pindah sekolah aja nggak tahu!" jawab Leon ketus, dengan suara yang penuh penekanan.
__ADS_1
..
..