
Hampir satu jam menunggu, jejeran kendaraan beroda empat itu akhirnya dapat bergerak kembali.
Ben menghela nafas lega karena pada akhirnya ia bisa segera pulang, menemui sang istri yang lupa ia kabari.
Fokus melihat kejadian mengenaskan itu, membuat Ben lupa segalanya, ia terlalu syok dan bingung dengan keadaan sekitar.
* * *
Didepan rumah, terlihat bi Sumi yang tengah memotong beberapa bagian bunga layu yang biasa Putri rawat setiap hari.
"Bi, Putri gimana keadaannya?"
"Eh si Aden udah pulang, udah baikan den baru aja selesai makan sayur."
"Sayur?"
"Iya, si non nggak mau makan, katanya lihat nasi bawaannya jadi enek, entahlah den, kaya orang hamil gitu, eh jangan-jangan_" bi Sumi terbelalak mencerna ucapannya sendiri.
"Saya kedalem dulu bi, mau lihat keadaan Putri." potong Ben dengan senyum lebarnya, ia benar-benar tidak sabar untuk segera melihat hasilnya.
Sementara di dalam kamar Putri tengah mengutak-atik ponselnya, raut wajahnya nampak lebih segar dari saat terakhir Ben meninggalkannya.
"Sayang?"
"Kakak abis dari mana?'' tanyanya terlihat sekali jika ia sedang kesal, karena Ben meninggalkannya begitu saja bahkan terhitung hampir dua jam lamanya.
Ben menghampiri Putri dengan langkah pelan, setelah menutup kembali pintu kamarnya yang setengah terbuka.
"Kakak dari mana?" ulang Putri yang kini semakin mengerucutkan bibirnya saat Ben hanya memandangi nya dengan diam.
__ADS_1
"Kak_"
"Maaf sayang!" jawab Ben lirih, dengan kedua tangan yang tengah menggenggam erat keresek putih yang berisi obat, vitamin, serta alat test kehamilan yang Ben beli tadi.
"Itu_" Putri menurunkan pandangannya, memusatkan perhatian dengan apa yang dibawa oleh laki-laki yang berstatus suaminya tersebut.
"Ini obat sama vitamin sayang, dan_"
Ben menjeda ucapannya, membuat kening Putri berkerut-kerut menunggu ucapan Ben selanjutnya.
"Kak?"
''Ini_ ini ada alat test kehamilan juga." Lanjut Ben, seraya memperhatikan reaksi Putri.
"T-test kehamilan, buat?''
"Tapi kan aku_"
"Coba dulu nggak apa-apa kan sayang?" potong Ben cepat, saat Putri mulai kembali protes.
Putri memandangi benda tersebut, membolak-baliknya beberapa kali, menghela nafas pelan sebelum kemudian mengangguk, dan mulai beranjak dari tempat tidur.
"Aku bantu sayang." ujar Ben yang sudah sigap merangkul pinggangnya.
"Ihs apaan sih kak, orang cuma mau kekamar mandi." protes Putri.
"Udah nggak pusing memangnya?"
"Nggak, udah ih lepasin! kakak tunggu aja disini." lanjutnya, seraya menarik tangan Ben agar terlepas dari pinggang rampingnya.
__ADS_1
Lima menit Putri berada didalam kamar mandi terasa lima jam lamanya bagi Ben, mondar-mandir dengan harap-harap cemas, dan mata yang sesekali menengok kearah kamar mandi, menanti pintu Pvc berwarna abu-abu tersebut segera terbuka.
Tak sabar menunggu waktu yang baginya terasa sangat lama itu, akhirnya Ben memutuskan untuk mengetuk pintu Pvc tersebut, meminta Putri agar segera keluar.
"Gimana sayang,?" ujar Ben, saat Putri menyembul di balik pintu kamar mandi.
"Maaf kak," balas Putri menundukan wajah yang terlihat sendu, membuat wajah sumringah Ben redup seketika penuh kecewa.
Memejamkan mata, menarik nafas dalam, untuk kemudian menghembuskannya dengan perlahan, sebelah tangan menyentuh dagu Putri mengangkatnya agar keduanya bisa saling tatap.
"Tidak apa-apa sayang, masih banyak waktu bukan,? kita akan berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkannya."
"Apakah kakak akan marah, kecewa, karena apa yang kakak harapkan berbeda dari kenyataannya?"
Ben menggeleng, berusaha untuk tidak terlihat sedih di hadapan Putri meski 90% bagian dari dirinya teramat sedih.
"Kak, aku belum selesai ngomong lho tadi." Tiba-tiba wajah yang terlihat sendu itu berubah ceria seketika, bahkan dari nada suaranya pun terdengar sangat bersemangat.
Sementara Ben, hanya diam! menatapnya dengan tatapan bingung.
"Ini." Putri memperlihatkan benda tipis dengan dua garis merah yang ada di genggamannya, tepat dihadapan wajah bingung Ben.
"Hasilnya positif kak, ini tuh berasa kaya mimpi tahu nggak sih, kalau sebentar lagi aku bakalan jadi seorang ibu, kak!" ujar Putri, dengan kedua bola mata yang mengembun.
"Aku yang lebih tidak percaya sayang, ini serius nggak sih,?" Ben merebut benda tipis tersebut dari tangan Putri, memperhatikan nya dengan seksama, dan di menit berikutnya ia terduduk di lantai, menangis sejadi-jadinya.
.
.
__ADS_1