
"Jangan harap aku akan mendengarkanmu anak bodoh!" ujar Alby, dengan kilatan amarah yang terpancar dari raut wajahnya yang berubah kaku.
"Bisakah kita hidup dengan baik kak, kakak, kak Ben dan juga aku, layaknya adik kakak pada umumnya, kita berbaikan, hidup rukun, dan saling menerima kekurangan dan kelebihan kita masing-masing."
"Omong kosong!"
"Kak, ayolah!"
"Keluar! dan ingat baik-baik, gue nggak butuh ceramah dari bocah ingusan model lo!"
"Ck egois! aku rasa kakak memang benar-benar sakit, dan perlu obat secepatnya."
"Anak sialan, pergi kau dari sini!" bentak Alby sembari mengarahkan telunjuknya kearah pintu.
"Baiklah, tapi satu hal yang harus kakak tahu, aku tidak akan pernah membiarkan semua rencana kakak nanti berhasil begitu saja."
"Kita lihat saja nanti."
"Ok!" jawab Darrel, dan bergegas meninggalkan ruangan tersebut, membiarkan Alby seorang diri, yang kini tengah menyapu seluruh berkas yang berada di atas meja kerjanya dengan perasaan emosi yang meluap-luap.
"Arghhh.. sialan!"
*
*
__ADS_1
"Kak?"
"Hmmm, kenapa? sini duduk!" Ben menepuk sofa, agar Putri duduk di sebelahnya.
"Kak Ben lagi ngapain sih?" ujar Putri yang kini sudah duduk disampingnya.
"Ada pekerjaan sedikit." jawab singkat Ben dengan kedua mata yang tetap fokus kearah layar segi empat di pangkuan nya.
"Padahal lagi libur ya, kakak masih tetap kerja." ujar Putri dengan kekehan kecil, membuat jari-jari Ben yang tengah menari di atas keyboard itu terhenti, dan seketika menoleh kearah Putri, memandangi istrinya dengan helaan nafas pelan.
"Sebentar ya sayang, tunggu 5 menit lagi." ujar Ben dengan begitu lembut membuat jantung Putri yang semula baik-baik saja kini berpacu lebih cepat.
Untuk menghilangkan kegugupan nya Putri hanya berdeham kecil, yang kemudian mengambil ponsel membuka sosial media yang memang sudah lama tidak ia buka.
"Kak?"
"Hmmm!" Ben hanya bergumam lirih dengan wajah yang ia sembunyikan di ceruk leher sang istri, menikmati aroma tubuh sang istri yang kini sudah benar-benar menjadi candu baginya.
Ben meletakan ponsel Putri keatas meja disampingnya, kemudian memeluk tubuh mungil itu dengan sangat erat seolah takut kehilangan.
"Kak?"
"Biarkan begini sayang, tahukah kau bahwa aku sudah mengharapkan momen seperti ini denganmu sejak dulu, tapi saat itu aku terlalu pengecut."
Sementara di dalam dekapan hangatnya, Putri tersenyum bahagia, ia tidak sia-sia bertahan dengan sikap kasar dan datar Ben, yang ternyata menyimpan banyak cinta untuk nya.
__ADS_1
Setelah beberapa menit, Ben mengurai pelukannya, lalu kedua mata tajam seperti elang itu menatap kedua manik Putri yang begitu jernih dan membuatnya selalu tenang ketika melihatnya, dan mungkin bukan hanya dirinya, namun siapapun akan merasa jatuh cinta ketika melihat manik istrinya itu.
Ben mendekatkan wajahnya, sebelah tangan menekan tengkuk Putri, hingga bibir keduanya menyatu, Ben memagut dan menyesap bibir Putri dengan penuh rasa yang menggebu, dan semakin memperdalam ciumannya, bertukar saliva hingga menghasilkan percikan-percikan api cinta yang membuat tubuhnya semakin bergelora, dan menginginkan yang lebih.
"Kita lanjutkan di kamar," bisik Ben, dengan suara berat dan parau, mengangkat tubuh Putri menuju kamarnya, dan disepanjang langkah menuju kamarnya, tak sedetik pun pandangan Ben teralih ke arah lain, selain kearah wajah Putri yang kini terlihat menegang, dengan wajah malu-malunya yang justru sangat menggemaskan di mata Ben.
Ben membuka pintu dengan sebelah tangannya, kemudian menutup kembali pintu tersebut dengan dibantu sebelah kakinya.
meletakan tubuh Putri diatas ranjang mereka dengan sangat hati-hati.
"kak?"
"Kenapa?" tanya Ben yang kini mulai membuka kancing kemejanya dengan tatapan yang sama sejak tadi.
"K-kakak mau ngapain?" tanya Putri seraya menggigit bibir bawahnya, sedikit ragu dengan pertanyaannya sendiri, karena sejujurnya ia tidak bodoh dengan tatapan liar Ben yang seperti sekarang ini.
Ben menyunggingkan senyum tipis, merangkak keatas tempat tidur, lalu mengungkung tubuh mungil itu di atasnya.
"Aku mau mandi, tapi setelah kita menyelesaikan olah raga yang satu ini." bisik Ben yang membuat Putri tak mampu berkata-kata lagi, karena detik berikutnya, benda lembut dan lembab itu telah kembali menyerangnya tanpa permisi.
menjelajahi setiap inci tubuhnya, tanpa terlewat sedikitpun, dan sore itu keduanya kembali melewati keindahan cinta mereka bersama-sama hingga keduanya kelelahan usai meraih puncaknya masing-masing.
.
.
__ADS_1