Terpaksa Menikahi Gadis Cacat

Terpaksa Menikahi Gadis Cacat
Drama ngidam


__ADS_3

Selama masa kehamilan Putri berjalan, ada banyak sekali drama yang dilakukan Ben, lebih posesif, mudah cemburu, mudah emosi, dan ada banyak hal lainnya yang membuat Putri bingung dengan sikap sang suami, mulai dari mual, lemas, hingga malas bekerja, bahkan terkesan sangat manja.


Ben yang terkenal gila kerja dan selalu berpenampilan rapi itu, kini berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya.


Lebih kusut, bahkan cambang serta bulu halus dibagian wajahnya ia biarkan tumbuh begitu saja, hingga tak jarang semua sahabat-sahabatnya, Algar, Arsen, dan juga Raka menertawai nya habis-habisan.


*


*


*


"Kak, masa ke kantor pakai kaos oblong,?" ujar Putri, saat melihat suaminya turun dari lantai atas menuju meja makan untuk sarapan.


"Memangnya kenapa, ada masalah?" Ben balik bertanya, sembari menunduk menyentuh kaos oblong yang menurutnya sangat nyaman di pakai itu.


Sementara Putri menghela, dengan sentakan nafas yang cukup kasar, mencoba untuk terbiasa dengan keadaan Ben yang terasa aneh akhir- akhir ini.


"Memangnya kemeja sama jas kebanggaan kakak udah nggak menarik lagi sekarang?" lanjut Putri, sembari menarik kursi, bersiap untuk duduk dan sarapan menemani Ben seperti biasanya.


Santai Ben mengambil dua lembar roti yang berada diatas piring lengkap dengan toping yang dibuatkan oleh Putri, menggigit dan mulai mengunyahnya.


"huekkkkk.."


Ben berlari seketika menuju kamar mandi, untuk mengeluarkan kembali makanan yang baru saja di telannnya.

__ADS_1


Putri sendiri menyusul sang suami ke kamar mandi, membantunya memijat tengkuknya.


"Kenapa sih kak, tiap kali diisi jadinya muntah-muntah kaya gini?" tutur Putri seraya memapah Ben menuju sofa.


"Ck, aku juga nggak tahu, tapi kan Dokter bilang wajar kalau suami mengalami couvade syndrome." balas Ben dengan tubuh lemahnya.


"Tapi aku kasihan lho sama kakak, nggak seharusnya kakak ngalamin kaya gini," Putri menunduk lesu sembari mengelap tetesan keringat yang membanjiri dahi sang suami.


"Sayang_" Ben merubah posisinya menjadi duduk tegak, meraih satu tangan Putri dan menciumnya berulang kali.


"Yang aku rasain saat ini itu mungkin nggak ada apa-apa nya dibandingkan saat kamu mengandung bayi kita, membawanya dengan susah payah, bahkan rasa sakit saat kamu melahirkan nya nanti, aku tidak bisa membayangkan rasanya seperti apa, aku yakin itu sangat-sangat menyakitkan." lanjut Ben dengan raut wajah sendu.


"Kak, nggak usah dibayangkan, itu kan memang udah menjadi kodratnya seorang wanita, ya hamil dan melahirkan." Putri mengusap bahu Ben, seolah memberi tahu bahwa ia adalah wanita yang kuat dan akan selalu baik-baik saja.


*****


Sisi lain dirinya memberi tahukan bahwa keberadaan wanita itu kemungkinannya sangat kecil, namun sisi lain dari diri Arfan memberitahukan bahwa ia ada disana, di tempat yang sama saat pertama kali ia melihatnya setelah selama belasan tahun tidak bertemu.


Disinilah ia saat ini, di depan sebuah butik ternama, dengan total sembilan cabang, di berbagai kota.


Deg!


Arfan tertegun, saat manik matanya melihat dengan jelas, wanita yang menjadi cinta pertama sekaligus masa lalunya yang sudah ia khianati berulang kali itu tengah tersenyum, memandangi beberapa gaun dengan koleksi terbarunya yang terpasang rapi di patung manekin.


Disaat yang bersamaan, Anita menoleh, dan untuk sepersekian detik dua pasang mata itu beradu, saling menatap satu sama lain.

__ADS_1


Tak mau membuang waktu, gegas Arfan mendorong pintu yang terbuat dari kaca tebal itu, melangkah lebar mendekati Anita yang masih diam berdiri ditempat semula, Arfan tak ingin menghindar lagi, karena baginya sudah cukup selama ini ia tak melihatnya selama belasan tahun.


"Lin, ini kamu kan_ benar kamu kan, lin?" tanyanya dengan bibir bergetar.


Sementara yang ditanya, memilih melengos pergi, dan meminta salah satu karyawannya untuk mengurusnya.


Menit demi menit begitu cepat berlalu, sementara Anita memilih mengurung diri didalam ruangan pribadinya, bertemu dengan Arfan sama saja membuat lukanya menganga kembali.


Waktu belasan tahun tidak cukup membuat ia melupakan begitu saja tentang pengkhianatan yang dilakukan Arfan padanya.


Ia masih membutuhkan lebih banyak waktu untuk bisa melupakan semuanya.


Hingga suara ketukan pintu membuat lamunannya buyar seketika.


"Masuk!" sahutnya.


"Bu maaf, bapak yang tadi tidak mau pergi sebelum ibu menemuinya kembali." jelas Neni seorang gadis yang berstatus sebagai karyawan kepercayaannya di butik itu.


"Ck, kamu tinggal bilang kalau saya lagi sibuk, bisa kan Nen."


"Aduh! maaf banget bu, sudah saya katakan, tapi dia bersikukuh tidak mau pergi, dia bilang kalau perlu dia akan menunggu sampai butik tutup."


"Dia bilang begitu?" tanya Anita tak percaya.


"Betul bu."

__ADS_1


.


.


__ADS_2