
"Bisa jalan nggak?" pertanyaan konyol Ben membuat Putri yang hendak beranjak dari kasur, kian mengerucutkan bibirnya, menatap Ben dengan tatapan kesal.
"Mau di gendong?" goda Ben, seraya mengerlingkan mata.
"Nggak!"
"Yakin?"
"Ihs, iya!" dengan sedikit tertatih Putri melangkah memasuki kamar mandi dengan mulut yang terus menggerutu pelan, sore ini Ben benar-benar telah membuatnya menjadi seperti seekor Bebek betina, berjalan gontai dengan tubuh yang terasa remuk redam.
"Apa mau di mandiin sekalian?" lanjut Ben dengan tawa renyahnya, entah mengapa menggoda istri kecilnya saat ini ada kebahagiaan tersendiri bagi Ben yang terasa sayang untuk di lewatkan.
Sementara Putri lebih memilih menutup rapat pintu kamar mandi, seolah ia benar-benar tak mendengar apapun.
*
*
"Udah siap?" tanya Ben, melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Putri yang tengah duduk didepan meja rias.
"Bentar lagi."
"Nggak usah cantik-cantik dandan nya." protes Ben, seraya mengambil lipstik yang akan Putri kenakan.
__ADS_1
"Kak?"
"Udah gitu aja cantik kok!"
"Tapi?"
"Udah sayang, kamu itu nggak dandan juga cantik, malahan imutnya kelihatan."
Tak ingin berdebat lebih lama, yang pastinya akan semakin mengulur waktu, Putri pun akhirnya mengalah, dan berjalan terlebih dahulu.
"Kak Ben M-mau ngapain?" pekik Putri, saat Ben mencondongkan tubuhnya kearah Putri yang kini telah duduk di mobil yang sama yang akan mereka tumpangi menuju kediaman Algar malam ini, lebih tepatnya sore ini, karena kini jam baru menunjukan pukul 18:30.
Ben mengulas senyum tipis, menge cup bibir sang istri sekilas, kemudian memasangkan seatbelt di tubuh Putri seperti biasa.
"Kak, rambutnya!"
"Eh iya lupa, maaf sayang!" Ben terkekeh sendiri, sembari mulai melajukan mobilnya menuju tempat tujuan.
Setelah menempuh selama 20 menit perjalanan, akhirnya Ben dan Putri sampai disana, yang disambut hangat oleh Anita dan juga Algar.
"Cantik sekali sih kamu nak, masih mirip seperti anak sekolahan nggak sih?" Anita menggandeng tubuh Putri menuju meja makan yang sudah tersedia dengan berbagai macam menu makanan.
"Kamu pinter lho Ben nyari istri, cantik, manis, masih sangat muda lagi, udah pasti usianya beda jauh banget kan sama kamu Ben?" lanjut Anita yang kini menoleh kearah Ben yang berjalan disampingnya.
__ADS_1
"Iyalah beda jauh, si Ben itu udah bangkotan," celetuk Algar, yang langsung mendapat toyoran di kepalanya.
"Enak aja ngatain gue bangkotan, gue itu masih mending udah punya bini, lah elo pacar aja kagak punya." balas Ben yang membuat Putri maupun Anita terkekeh-kekeh.
"Bener Ben, jelas kamu itu satu langkah lebih maju di bandingkan si Algar, parah dia pacar aja nggak punya, tante sendiri aja heran kenapa?"
"Malahan nih ya, tante sampai berpikiran kalau si Algar ini emang nggak pernah punya pacar sama sekali, menurut kamu dia punya kelainan nggak sih Ben?" tanya Anita yang membuat Algar membelalakan matanya, sementara Ben berusaha menahan tawa agar tidak menyembur keluar.
"Aduh, apaan sih mama ini ah, kelainan apaan coba, mama itu nggak usah mikir yang aneh-aneh dulu bisa kan ma, Algar itu bukan memiliki kelainan, cuma menikmati waktu sendiri dulu aja."
"Ck iya, tapi sampai kapan,? inget lho umur kamu."
"Inget kok, bulan depan 30 tahun." balasnya santai, yang membuat Anita menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dari pada ghibahin aku, mending kita makan!" Algar pun menarik kursi terlebih dahulu, kemudian mendudukan dirinya disana, dan mulai mengambil nasi serta lauk pauknya.
"Ayo sayang makan, Ben ayo!" Anita mempersilahkan keduanya untuk duduk di kursi yang masih kosong.
"Iya tante, terimakasih!" balas Putri yang diangguki oleh Anita, dan seperti biasa Putri pun akan mengambilkan makanan untuk suaminya, hal kecil yang tidak luput dari perhatian Anita.
"Tuh lihat! kalau punya istri tuh kaya gitu, makan di ambilin apa-apa ada yang ngelayanin, lah kamu?" sindiran yang tepat sasaran itu membuat Algar buru-buru menelan makanannya dengan susah payah.
.
__ADS_1
.