
"A-apa, kak Ben pindah sekolah?"
"Ck gue jadi nggak yakin kalau elo itu adeknya, tapi kalau iya juga emang mirip sih!" Leon bermonolog sendiri.
"Emang elo sama kakak lo nggak tinggal serumah, kok bisa nggak tahu?"
"Iya kak, saya tinggal bersama nenek saya."
Leon manggut-manggut, sembari memperbaiki letak tali tasnya yang sedikit bergeser.
"Si Alby pindah ke SD Pramudya, sekalian tahun depan sekolah SMP nya disana, itu sih yang menurut gue denger! gue balik duluan ya, ti ati lo dijalan!" Leon menyentuh bahu Ben kemudian beranjak meninggalkannya.
Setelah kepergian Leon, Ben mendongakan wajahnya berharap saat ini air matanya tidak kembali jatuh, kenapa harus Pramudya, sekolah yang menjadi impiannya waktu itu.
"Dek ayo, keburu hujan nih!" Dadang yang ditugaskan menjemput Ben setiap hari menghampiri Ben yang masih berdiri disamping gerbang sekolah, sementara keadaan cuaca siang ini berubah mendung.
********
8 bulan berlalu begitu saja, dan selama itu pula Ben masih setia menunggu kedatangan kedua orang tuanya, yang sampai hari ini tak kunjung datang.
Tak sabar menahan rindu, sore ini Ben nekat datang kerumah orang tuanya tanpa memberi tahu sang kakek dan neneknya.
"Aden ya ampun ini beneran aden?" seru mbok Nah yang hampir menangis ketika melihat Ben tengah berdiri di depan pintu rumah majikannya.
"Iya bi, bibi apa kabar?" Ben meraih tangan mbok Nah untuk disalaminya.
"Baik den baik, aden sendiri gimana, betah dirumah nenek sama kakek?"
"Ya seperti yang bibi lihat saya sehat, dan saya betah kok tinggal disana."
"Syukurlah den!"
"Mama papa ada mbok?!"
"Papa kerja, kalau mama ada didalem lagi nemenin den Alby."
"Kak Alby kenapa?"
"Sakit den, radang paru-paru katanya."
"Bibi serius?"
"Iya atuh den masa bibi bohong."
__ADS_1
******
Ben melangkah ragu memasuki rumah yang sudah ia tinggalkan 8 bulan yang lalu, pandangannya menyapu kesetiap sudut rumah yang tidak ada bedanya dari sejak kepergiannya waktu itu.
Ada perasaan takut yang kini menyelimuti hatinya, takut sang mama masih belum menerimanya, takut juga jika ia tak lagi dianggap sebagai keluarga dirumah ini.
"Ben?!"
Langkah Ben seketika terhenti tubuhnya berubah menegang dengan tatapan lurus kedepan, menatap kedua manik sang mama yang tengah berdiri di hadapannya.
"Kamu pulang nak?" ujar Maura yang seketika memeluk tubuh putra keduanya dengan penuh kerinduan.
"Maafkan mama nak, mama belum sempat menjenguk kamu, Alby sedang sakit."
"Ma!" mata kecoklatan itu mulai mengembun, menatap sosok yang begitu ia rindukan selama ini.
"Kenapa?"
"Ben minta maaf soal_"
"Sudahlah mama dan papa tak ingin membahas yang sudah berlalu, mama sadar mungkin itu semua sudah takdir-Nya."
"Tapi ma_"
"Ma!"
"Makanlah dulu, mama harus memastikan kondisi Alby seperti apa sekarang!" balas Maura yang berlalu begitu saja meninggalkan Ben yang termangu di tempatnya.
Ada perasaan sesak yang menghimpit dadanya, kenapa harus selalu Alby, tidakkah ia bertanya tentang bagaimana kabar dirinya, bagai mana ia menjalani kehidupannya dirumah sang nenek.
Setelah menunggu hampir satu jam lamanya, Maura tak kunjung kembali membuat Ben mencoba mendatangi kamar Alby, disana Maura tampak tertidur lelap dengan posisi duduk di samping kasur Alby yang juga tengah terlelap.
Tak tega untuk membangunkan sang mama, akhirnya Ben memilih tidak berpamitan dan hanya berpamitan pada mbok Nah, bahwa ia akan pulang sore ini juga.
********
Setelah kejadian itu, Ben tak lagi berharap untuk kembali ke rumah orang tuanya, kecuali jika sedang ada acara besar yang berhubungan dengan keluarga.
Ia bukan ingin mengasingkan diri dari keluarganya, namun Ben merasa bahwa dirinya memang seperti orang asing di keluarganya, akan tetapi meski begitu ia tak lupa untuk selalu mendoakan kebahagiaan keluarganya.
Karena bagi Ben, dengan melihat orang-orang yang dicintainya selalu dalam keadaan sehat pun, itu sudah menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri untuknya.
Hari berganti minggu, bulan berganti tahun, hingga tahun demi tahun berikutnya tepat saat Ben hendak lulus SMP ia harus menerima kenyataan pahit, kehilangan kakek yang begitu dicintainya.
__ADS_1
Setelah lulus SMP Ben pun melanjutkan sekolahnya di Bandung, dengan berbekal beasiswa, karena ia salah satu murid yang cerdas dan berbakat.
Awalnya Rama dan Maura tak setuju dengan keinginan Ben yang akan menggunakan beasiswa untuk sekolahnya, karena ia merasa masih sangat mampu untuk membiayai Ben, bahkan hingga Perguruan tinggi sekalipun.
Namun Ben bersikukuh, dengan alasan karena tak ingin merepotkan kedua orang tuanya, terlebih karena mereka sudah memberikan fasilitas sebuah Apartemen dan juga satu buah motor untuknya.
Setelah menetap di Bandung selama 3 tahun akhirnya Ben lulus sekolah dengan nilai yang sangat memuaskan, Rama sebagai ayah begitu bangga terhadapnya, sebuah kebahagiaan tersendiri untuk Ben, meski saat itu Maura tidak bisa hadir dengan alasan menemani Darrel di acara kenaikan kelasnya.
Saat memasuki kuliah, Ben memutuskan bekerja paruh waktu, untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, cukup sudah ia tak ingin lagi menambah beban kedua orang tuanya, karena ia merasa sudah dewasa, dan sudah mampu bertanggung jawab untuk dirinya sendiri.
Ditahun berikutnya ia mulai merintis usaha di bidang kuliner, dan berhasil, semuanya berjalan terasa begitu mudah bagi Ben saat itu.
Dan setelah ia sarjana, Ben memutuskan untuk mencoba hal baru, mendirikan sebuah perusahaan kecil yang ia kelola dengan penuh semangat dan keseriusan.
"Wah gila calon bos Besar nih bro!" Algar mengerlingkan mata kearah Ben yang kini duduk santai di pinggir pantai diatas hamparan pasir putih yang menyebar memenuhi pinggiran pantai.
"Sayangnya sampai sekarang masih jomblo!" kekeh Raka yang sedang menghisap benda putih yang terselip di jarinya, yang seketika membuatnya terbatuk-batuk.
"Uhukk.. uhukk.."
"Makanya kalau ngerokok jangan sambil ngomong anjir!" Arsen yang berada di samping Raka menoyor kepalanya.
"Rasain tuh kagak enak kan lo!" timpal Algar tergelak.
"Ck! lebih nggak enak di saat lagi sayang-sayangnya di selingkuhin anjir!" sahut Raka yang kini tengah menggerus benda putih yang tinggal setengahnya itu, lalu melemparnya ke sembarang arah.
"Curhat lo!" Arsen terkekeh geli, membuat Raka menimpuk kepala sahabatnya itu menggunakan botol bekas.
"se tan lo, sahabatnya lagi berduka malah di ketawain!"
"Ck kaya orang mati aja berduka!"
"Intinya sama, Sama-sama kehilangan kan?"
"Serah deh!"
"Eh ngomong-ngomong entar malem ke Bar yuk, cuci mata! kali aja ada yang nyantol, nggak sih?"
"Ide bagus tuh Sen, boleh lah! gimana menurut lo berdua, asik nggak?" menatap Algar dan Ben bergantian.
Algar dan Ben mengangguk pelan sebagai jawaban.
.
__ADS_1
.