Terpaksa Menikahi Gadis Cacat

Terpaksa Menikahi Gadis Cacat
Ke kantor Ben


__ADS_3

"Kak,?" Putri mengulurkan tangan untuk menyalami Ben, saat mobilnya berhenti di depan kampus tempat ia kuliah pagi ini.


"Sebentar lagi aja, masih ada waktu kan?" Ben menahan tangan Putri yang hendak membuka pintu mobil.


Dengan perasaan gugup Putri pun mengangguk, membiarkan tangannya tetap dalam genggaman Ben.


Tak mengatakan apapun lagi Ben hanya diam memandanginya.


"Kenapa kak Ben lihatin aku terus?" ujar Putri yang bertambah gugup, saat Ben terus menatapnya tanpa berkedip.


Ben mengulum senyum, Merapikan beberapa anak rambut yang menjuntai di pipi sang istri, lalu sedikit beringsut mencondongkan wajahnya.


"Emang nggak boleh ya, lihatin istri sendiri?" balasnya dengan gaya menggoda.


"Ihs, apaan sih!" balasnya memasang wajah datar.


"Jutek aja cantik, apa lagi senyum." gumam Ben.


"Kak Ben bilang apa barusan?"


"Euhmz!" Ben tampak salah tingkah, menggaruk kepala bagian belakangnya yang sebenarnya tidak gatal.


"Nanti siang aku jemput!"


"Hah, emangnya nggak sibuk?"


"Nggak kok, aku bisa pastikan akan berada disini lagi, tepat waktu."


"Euhmz, yaudah aku_ aku keluar dulu ya!" Meraih kembali tangan Ben yang sempat terlepas, dan menciumnya.


"Tunggu!" Lagi-lagi Ben menahan tangan Putri yang hendak membuka pintu mobil.


"Apa lagi?" tanyanya bingung.


Cupp..


Ben mencium bibir Putri sekilas, benar-benar hanya sekilas, setelahnya ia buru-buru memalingkan wajah dengan tangan yang pura-pura sibuk memegang kemudi.


Sementara Putri melangkah cepat memasuki kampusnya dengan wajah yang terasa memanas.


"Gimana, lo udah baikkan sama suami ganteng lo Ri?" tanya Rara, yang baru saja tiba.


"Ya gitu deh!"


"Lo kok kaya yang nggak seneng gitu sih Ri, lo masih kebayang sama perlakuan Ben di masa lalu?"


"Ri gue tahu, dan gue ngerti perasaan lo selama ini, tapi menurut gue kali ini Ben benar-benar berubah deh Ri, gue jamin kali ini dia beneran sayang sama elo!" lanjut Rara seraya mengusap bahunya.


"Gue butuh waktu Ra, keadaan ini benar-benar bikin gue pusing, lo tahu sendiri Ra, dulu gue ditinggalin kakaknya disaat gue udah mulai sayang sama dia, dan sekarang_"


"Udah-udah Ri, jangan lo inget-inget masa lalu, cukup! lo harus bahagia sekarang, gue tahu lo udah cukup menderita selama ini."


"Makasih Ra, elo selalu ada ngasih gue kekuatan, gue nggak tahu kalau nggak punya elo."


"Itu gunanya memiliki sahabat kan?"


"Euhhmmz Rara!" Putri beranjak memeluk tubuh Rara.

__ADS_1


********


"Tepat waktu kan?" seru Ben, saat siang ini menjemput Putri ke Kampusnya.


"Ayo masuk!"


Putri menurut, menaiki mobil lalu duduk disamping suaminya.


"Ikut ke kantor dulu nggak apa-apa kan, aku ada sedikit pekerjaan,"


"Hanya sebentar." lanjut Ben saat Putri hanya diam tak menanggapi.


"Hmmmm!"


Sepanjang perjalanan menuju kantor, Ben maupun Putri terdiam, tak ada yang berniat memulai pembicaraan, hanya ada suara musik dari audio mobil yang tak lelah menghibur keduanya.


Hingga mobil yang ditumpanginya berhenti didepan sebuah gedung pencakar langit, tempat Ben bekerja.


"Ayo!" Ben berjalan terlebih dahulu dengan langkah lebar seperti biasanya.


Sedangkan Putri tak bergeser sedikitpun dari saat pertama kali turun dari mobil Ben, diam mengamati gedung yang menjulang tinggi di hadapannya.


Merasa Putri tak mengikutinya Ben menghentikan langkahnya, menoleh kebelakang.


"Ck!" Ben berlari kecil kembali menghampiri Putri.


"Kenapa masih disini?"


"Eumz!"


Ben meraih sebelah tangan Putri, kemudian menautkan jemarinya. "Ayo!"


Putri meringis saat menyadari tatapan karyawan wanita disana menatap intens kearahnya.


"Abaikan saja!" bisik Ben, melangkah santai melewati mereka yang tersenyum ramah kearahnya.


Ben menaiki lift, membawa Putri kedalam ruangan kerjanya yang terletak di lantai 13.


"Tunggu disini sebentar, duduklah!" Ben mendudukan tubuh Putri diatas sofa yang berada diruang kerjanya.


Sementara ia duduk di kursi kebesarannya, dan mulai membuka benda segi empat berlogo apel tergigit dihadapannya.


Tak lama setelahnya seseorang mengetuk pintu ruangan tersebut.


"Masuk!"


"Maaf Pak, ini ada beberapa berkas yang harus bapak tanda tangani."


"Nanti akan saya periksa."


"Baiklah, kalau begitu saya permisi pak!"


"Hmmmm!"


Ben menoleh kearah Putri, yang juga tengah melihat kearahnya, menghela nafas kemudian menghampirinya.


"Saya ada kerjaan tambahan, bisakah kamu menunggu?"

__ADS_1


"Bukannya dari tadi saya memang sudah menunggu." jawabnya polos.


"Eh iya!" Ben mendadak salah tingkah dibuatnya.


"Mungkin yang ini sedikit lama, kamu bisa beristirahat sambil menunggu!" Ben mengantar Putri kedalam ruangan disebelah ruang kerjanya yang terdapat kasur yang lumayan besar.


"Ini kamar?" tanya Putri, dengan pandangan menyapu seluruh isi ruangan tersebut.


"Ini cuma tempat istirahat disaat aku lelah lembur."


"Beristirahatlah!"


"Makasih kak."


"Hmmm!"


1 jam berlalu, akhirnya Ben bisa bernafas lega karena seluruh pekerjaannya selesai dalam waktu singkat, lalu sedikit terlonjak saat mengingat ada istrinya didalam ruangan ini.


Gegas ia pun memasuki ruangan itu, untuk mengajak istrinya pulang, namun saat langkahnya berada diambang pintu, Ben tertegun dengan dada yang berdegup kencang melihat pemandangan di hadapannya.


Putri tertidur pulas dengan melepas blazer serta roknya, dan hanya menyisakan kaos putih tipis dan juga celana street pendek, yang memperlihatkan paha putihnya.


Ben menelan ludahnya beberapa kali, mengacak rambutnya frustasi, berusaha menghilangkan pikiran kotornya.


Namun semakin ia mengalihkan, pikirannya semakin di penuhi bayangan tubuh polos Putri yang pernah merintih dibawah kungkungannya.


Tubuh indah yang pernah memberinya sebuah kenikmatan yang tak terhingga, yang bahkan sedikitpun tak bisa ia lupakan sampai detik ini.


Ia menginginkannya lagi!


Damn!


Ben membuka kasar kemejanya lalu memasuki kamar mandi, karena baginya mandi adalah solusi terbaik untuk menjernihkan pikiran kotornya.


****!


Ben kembali mengumpat, saat merasakan bagian bawahnya semakin mengeras, dan disaat yang bersamaan Putri membuka kamar mandi yang belum sempat Ben kunci.


Aaaa....!!


Putri berteriak histeris saat mendapati Ben yang tengah berdiri dibawah guyuran air shower tanpa menggunakan sehelai benang pun.


Ben terperanjat kaget dan repleks mengambil handuk yang tergantung di kastop yang menempel di dinding kamar mandi.


Sementara itu Putri kembali menutup pintu kamar mandi, berlari menyambar blazer dan roknya, lalu mengenakannya secepat kilat.


Tak lama pintu Pvc berwarna biru itu kembali terbuka menampilkan sosok Ben dengan tubuh yang hanya tertutupi dibagian pinggang hingga lututnya saja.


Putri terpaku dengan sosok dihadapannya, rambut basah Ben yang masih meneteskan air diujung rambutnya, serta dada bidang putih yang berpadu dengan roti sobek dibagian perutnya, lalu pandangannya terus menyusuri hingga bagian yang berbalutkan handuk putih itu.


Glek!


Putri menelan ludahnya, dan dengan gerakan repleks menutup mulutnya, memalingkan wajah, ketika ia mengingat sesuatu yang terlihat begitu nyata dalam pandangannya beberapa menit lalu.


Sementara Ben tampak santai, mengenakan bajunya dihadapan Putri tanpa merasa malu atau risih sedikitpun.


.

__ADS_1


.


__ADS_2