
"Kita hanya berteman, bersahabat sama seperti kamu."
"Cih, berteman, bersahabat kamu bilang, aku nggak bodoh mas, dan aku bukan hanya sekali dua kali melihat kedekatan kalian, coba kamu pikir aja mas, kalau kamu di posisi aku kamu bakalan marah nggak, kalau aku bermesraan dengan sahabat kamu, di depan mata kepala kamu seperti apa yang kamu lakukan bersama Yani tadi."
"Tapi Lin, aku nggak seperti itu, ini semua nggak seperti yang kamu lihat, dan kamu tuduhkan! ini semua nggak bener Lin ayolah, kamu jangan mudah emosi seperti ini bisa kan?"
"Nggak bisa! kamu lupa, dari sejak dulu kita pacaran aku paling benci dengan sebuah pengkhianatan, dan itu berlaku sampai sekarang." balas Anita seraya melangkah kan kakinya menuju keruangan lain.
"Lin, tunggu mau kemana?" cegah Arfan, yang kini mencekal sebelah tangannya.
"Lepasin!" sentak Anita, "Lepas aku bilang!" Anita menghempaskan tangan Arfan dari pergelangan tangannya, dan berlari menuju kamar, mencari sebuah koper dan mulai mengemasi beberapa setel pakaiannya.
"Nit, mau kemana sih, pake acara bawa koper segala?" Arfan berusaha menghentikan tangan Anita yang sibuk menutup resleting koper.
"Nit, mau kemana?" lanjut Arfan mulai panik, saat Anita hanya diam, dan beralih menuju kamar anak-anaknya, untuk mengambil serta pakaian mereka.
"Anita?!" bentak Arfan pada akhirnya, karena mulai kesal dengan tingkah wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.
"Aku akan menginap beberapa hari dirumah kecil kita yang dulu, tolong jangan temui aku dulu, aku butuh waktu buat sendiri dulu mas!" jawab Anita yang kemudian melangkahkan kaki meninggalkan Arfan seorang diri.
"Lho Nit, kamu mau kemana?" tanya Yani saat melihat Anita membawa dua buah koper di tangannya.
"Aku mau menginap dirumah lama ku, tolong kamu pulang ya, karena anak-anak akan aku bawa juga."
"Kenapa mendadak sekali, ada apa sih Nit?"
__ADS_1
"Nggak mendadak kok, tapi semuanya memang udah aku rencanain dari jauh-jauh hari, dan untuk beberapa hari ini mungkin kamu bisa libur dulu ya."
"I-iya, kamu hati-hati ya!"
"Hmmm!" sore itu juga, Anita membawa serta kedua anaknya dengan menumpangi sebuah Taxi yang akan membawanya menuju tempat tujuan.
"Mas sebenarnya apa yang terjadi sih,?" Yani berusaha mendekati Arfan, namun Arfan menolaknya.
"Pulanglah Yan, aku sedang ingin sendirian, kita bicarakan masalah ini nanti saja, kepalaku pusing sekarang."
"P-pusing, apa perlu aku pijitin mas?"
"Tidak, tidak perlu aku hanya ingin beristirahat saja."
"Iya mas!" dengan terpaksa, Yani pun berjalan gontai meninggalkan rumah tersebut.
*
*
Setelah menghabiskan waktu selama 3 hari, Anita pun memutuskan untuk kembali kerumah yang sudah ia tempati bersama Arfan dan kedua anaknya beberapa tahun ini.
Selain karena pikirannya yang sudah mulai tenang dan merasa lebih baik, ia juga tidak mau mengambil cuti terlalu lama, karena itu sama sekali bukan kebiasaannya.
terlebih kedua anaknya sudah sangat merindukan sosok sang Ayah.
__ADS_1
Namun tanpa Anita duga, siang menjelang sore itu, ia harus kembali menelan pil pahit kenyataan bahwa suaminya benar-benar telah menghianati nya.
"Ba jingan kamu mas!" teriak Anita, seraya melemparkan koper yang dibawanya, usai menyuruh kedua anaknya untuk masuk kedalam kamarnya.
Sepasang manusia yang tengah bermesraan diatas sofa itu sontak berdiri dengan raut wajah yang terlihat sangat kaget dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
"Lin, kamu pulang?" tanya Arfan gugup, sementara Yani menunduk dengan perasaan gelisah sekaligus takut.
"Iya aku pulang, kenapa memangnya, kamu nggak suka kalau aku pulang?"
"Aku senang kamu pulang, dan kembali lagi kerumah ini."
"Omong kosong! kamu pikir aku percaya, setelah apa yang udah kamu lakuin ke aku mas, tega kamu ya, kamu tega sama aku dan juga anak-anak."
"Lin, kamu salah_"
"Cukup mas, kamu nggak harus berpura-pura lagi di hadapan aku, aku udah tahu semuanya, dan untuk kamu _" Anita mengangkat telunjuknya lalu mengarahkannya tepat di hadapan wajah Yani yang masih menunduk.
"Mulai hari ini kamu aku pecat sebagai pengasuh anakku, dan bukan cuma itu, lupakan kalau kita pernah bersahabat selama ini."
"Dan untuk kamu mas, mari kita bercerai!"
.
.
__ADS_1