
Putri tampak gelagapan dan salah tingkah, "Itu cuma nanyain_"
"Nanya apa?" sela Ben.
"Nanya soal_"
"Apapun alasannya, aku tidak mau dengar, mulai sekarang hapus semua nomor laki-laki di kontak kamu."
"Tapi kak?"
Ben menarik nafas, menatap istri kecilnya dengan tatapan yang sulit di artikan "Menurut lah!"
"Apa ini tidak terlalu kejam kak? jika aku diharuskan menghapus semua kontak laki-laki di ponselku, itu berarti aku harus menghapus nomor Ayah, Darrel, dan juga_ kak Ben sendiri." balas Putri yang membuat kedua bola mata Ben melotot sempurna.
"Maksudku laki-laki tadi, yang namanya siapa itu." Ben terlihat salah tingkah.
"Kak Ilham maksudnya?"
"Hmmm."
"Tapi kak_"
Terlihat Ben yang menatapnya kesal.
"Baiklah!" jawabnya pasrah.
Tok.. tok.. tok..
Terdengar suara ketukan pintu dibalik pintu kamarnya yang tertutup, membuat Putri bergegas untuk membukanya.
"Kenapa bi?" tanya Putri ketika melihat bi Sumi berada di depan pintu kamarnya.
"Itu non ada tamu,"
"Siapa bi?" tanya Putri yang terlihat bingung, pasalnya kini jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
"Katanya teman-temannya si Aden non!"
"Berapa orang bi?" tanya Ben yang tiba-tiba muncul dibelakang Putri.
"Eh, tiga orang den,"
Tanpa mengatakan apapun lagi, Ben bergegas turun untuk menemui tamu yang di maksud bi Sumi.
"Ck! nggak salah lagi tiga cunguk yang datang!" gumam Ben ketika berada di ujung anak tangga, dan melihat ketiga sahabatnya tengah duduk di atas sofa diruang tamu.
"Sorry Ben kita bertiga dateng malem-malem begini!" ujar Algar yang terlebih dulu melihat kedatangan Ben.
"Eh ngomong-ngomong kita nggak ganggu ritual suami istri kan?" timpal Arsen dengan tawa yang tertahan.
__ADS_1
Sementara itu Ben melemparkan tubuhnya ke sandaran sofa, menyentak nafas cukup kasar melirik ketiga sahabatnya dengan tatapan kesal.
"Ngapain lo bertiga dateng kerumah gue malem-malem begini?" tanya Ben dengan nada suara yang terdengar ketus.
"Ngajakin lo mainlah!" sahut Raka santai, dengan satu kaki yang ia naikan keatas meja.
"Lusa kan elo married, eh maksud gue lo ngadain resepsi pernikahan." lanjut Raka.
"Terus hubungannya apa?"
"Kopinya den!" bi Sumi meletakan nampan berisi 4 cangkir kopi dan 2 toples biskuit diatas meja.
"Makasih Bi, maaf ya ngerepotin!" ujar ketiga sahabat Ben, yang dibalas anggukan dan juga senyuman oleh bi Sumi.
"Elaah masa lo kagak ngarti, anggap aja ini kita lagi ngadain pesta bujang, sebagai tanda pelepasan dari kita bertiga yang belom married."
"Eh tunggu-tunggu, kok gue kurang setuju ya, elo namain ini pesta bujang," sela Arsen, yang membuat Algar maupun Raka menoleh kearahnya, sementara Ben hanya cuek, mengambil secangkir kopi dan meminumnya sedikit.
"Kenapa?" tanya Algar dan Raka bersamaan.
"Soalnya gue kagak yakin kalau si Ben masih perjaka." ucap Arsen yang seketika membuat Ben tersedak ludahnya sendiri, sementara ketiga sahabatnya terlihat berpikir keras.
"Iya juga sih ya, kok gue kagak kepikiran nyampe situ ya!" ucap Raka.
"Anjirr lola lo! mana ada sepasang suami istri yang kagak nyampe ke tahap situ, apa lagi bininya cakep kaya si Putri, mana tahan si Ben kan?" Arsen memainkan alis serta mengedipkan sebelah matanya menggoda Ben.
"Rasa apaan, emang gue lagi makan apa?" balas Ben dengan wajah datarnya seperti biasa.
"Ck, jangan so polos terus deh lho, buruan cerita gimana rasanya?" desak Raka tak sabaran.
Pletakkk..
Ben menyentil kening Raka, hingga sang pemiliknya mengaduh. "Gila jari lo keras banget, benjol tanggung jawab lo!" gerutu Raka sembari mengusap-usap keningnya yang terasa ngilu.
"Suatu saat lo juga bakal ngerasain, nggak perlu nanya-nanya ke gue."
"Ck bolehlah Ben bocorannya dikit, lo kan tahu sendiri gue itu jomblo, untuk sampai tahap kesitu tuh gue kayaknya butuh waktu dua atau tiga tahunan lagi, itu juga belum tentu, bisa jadi lebih kan?"
"Ck lo pikir ini tentang soal ujian, pake acara ada bocorannya segala! lagian lo yakin mau married dua atau tiga tahunan lagi, Kagak takut ubanan duluan lo!"
"Mau jadi bujang lapuk kali dia Ben, gue sih ogah!" sergah Algar seraya menahan tawa.
"Gue Amiinin juga nih ucapan lo!" timpal Arsen sembari mengangkat kedua tangannya.
"Anjir jangan! tega banget lo sama temen sendiri, sialan!" Raka terlihat tak terima.
"Gue kagak salah dong, gue cuma bantu aamiinin doang, lo pernah denger kagak, katanya setiap ucapan itu adalah doa, dan untuk mewujudkannya gue bantu aamiinin, biar terkabul, kurang baik apa coba gue!"
"Ck sahabat laknat lo! kalau gitu ucapannya gue ganti, gue pengen married secepatnya."
__ADS_1
"Aamiin." ucap Algar dan Arsen bersamaan.
Sementara Ben hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Absurd ketiga sahabatnya itu.
"Sial juga ya nasib kita bertiga, setiap ada pesta pasti kagak bisa gandeng pasangan." ujar Arsen dengan wajah sendu.
"Kata siapa, lo aja kali yang kagak punya pasangan, gue sih punya yeee!" kata Algar.
"Eh seriusan, kok gue kagak tahu lo punya pasangan?"
"Nyokap gue!"
"Ck, itu sih gue juga punya."
"Kagak bisalah, nyokap elo kan ada bokap elo, lo mau dibilang pebinor?"
"Sialan!''
"Gue bawa adek gue aja lah, dari pada sendirian entar disangka jomblo lagi!" Raka ikut bersuara.
"Emang lo jomblo anjir!" Arsen menyumpal mulut Raka dengan 5 keping biskuit sekaligus, membuat ia gelagapan, mangap-mangap tanpa bersuara.
********
Di tempat lain, Evelyn dan Rena dua adik perempuan Putri yang berbeda ibu itu tengah merengut, menatap kesal sebuah undangan cantik yang tengah di pegangnya.
"Gue pikir pernikahannya bakalan berakhir di tengah jalan, eh tahunya malah bakalan ngadain resepsi kaya begini, kesel nggak sih?" Evelyn menatap Rena sang adik dengan perasaan kesal.
"Dan satu lagi Re, lo tahu nggak dia satu fakultas sama gue!"
"Seriusan lo kak?"
"Ck, emang gue pernah bohong."
"Dia tahu nggak lo ada disana juga.?"
"Nggak, dan gue nggak mau dia sampai tahu, gue muak banget lihat mukanya dia, sok cantik, sok kecentilan banget, tebar pesona dimana-mana."
"Emang dia cantik kan kak, dan dari dulu banyak cowok yang suka sama dia, termasuk kak Vano dan kak Rezza."
"Jadi lo mulai belain dia, dari pada kakak kandung lo sendiri?"
"Eh, bukan gitu!"
"Pokoknya besok kita berdua harus tampil cantik, kita nggak boleh kelihatan lebih biasa dari si Putri itu." ucapnya dengan kedua tangan terkepal.
.
.
__ADS_1