Terpaksa Menikahi Gadis Cacat

Terpaksa Menikahi Gadis Cacat
Kedua kalinya


__ADS_3

"Mama dimana sih ma?" Algar tampak frustasi, karena tidak dapat menemukan mamanya di rumah, di kantor, di butiknya, bahkan semua karyawannya mengatakan, bahwa siang ini sang mama tidak datang kesana sama sekali.


Ditengah keputus asaannya, Algar pun kembali berusaha menghubungi nomor sang mama, berharap kali ini ia akan mengangkat telponnya.


"Ck!"


Algar berdecak kesal, saat lagi-lagi sang mama tak menerima panggilannya.


"Gue musti cari kemana lagi ini, duhh.. ma, dimana sih mama?" gumamnya, dengan diiringi helaan nafas beratnya.


"Nak kenapa, apa mobilnya bermasalah, perlu bantuan?" ucap seseorang yang baru saja turun dari mobilnya, setelah menepikan nya tepat di belakang mobil Algar.


Algar terkesiap, dan repleks menoleh kearah sumber suara, dimana ada seseorang yang tengah berdiri menatap kearahnya.


"Eh_ tidak pak, mobil saya sama sekali tidak bermasalah, hanya saja saya sedang menghubungi seseorang tapi tidak ada jawaban."


"Hmm, begitu rupanya! tapi kenapa berhenti dijalan yang sepi seperti ini?" tanyanya, yang membuat Algar seketika mengedarkan pandangannya kesekeliling jalan tersebut.


Ia terhenyak, saat menyadari bahwa ditempat itu memang tidak ada rumah atau sejenis bangunan-bangunan lainnya, hanya ada pohon-pohon setinggi tubuhnya yang mungkin baru berusia sekitar tiga atau empat tahunan yang memenuhi tanah di area itu.


"Mungkin saya terlalu panik pak, sampai tidak menyadari keadaan di sekeliling saya." balasnya seraya menunduk lesu, sembari memandangi ponselnya yang mulai berkedip, tanda daya nya akan segera habis.


"Baiklah, kalau begitu sekarang pulanglah! hari sudah gelap." Laki-laki paruh baya itu menepuk pundaknya pelan, seperti layaknya seseorang yang sudah mengenalnya dengan sangat baik.


Kemudian ia kembali melangkah menuju mobilnya, namun sebelum ia benar-benar menaiki mobil, ia menghentikan langkahnya sejenak, menoleh kearah Algar yang masih terpaku di tempatnya.


"Pulanglah!"


Setelah mobil yang ditumpangi laki-laki paruh baya itu berlalu, Algar pun mulai memasuki kembali mobilnya.


*

__ADS_1


*


*


"Kak?" pekik Putri, saat tubuhnya terasa melayang di udara.


"Hmmm!"


"K_kak Ben, mau ngapain?" ujar Putri gugup, saat Ben mulai meletakan tubuhnya di atas tempat tidur, dengan posisi tubuh Ben yang mengungkung tubuhnya.


"Menurut kamu?" bisik Ben, dengan seulas senyum tipis dari bibirnya.


Mendengar suara serak penuh sensasional milik suaminya, sontak membuat bulu kuduk Putri meremang, dan tanpa sadar memejamkan kedua matanya.


"Kenapa merem?" tanya Ben dengan kening yang terlihat berkerut.


"Hah? eumz, a-aku, aku lupa kalau aku punya tugas!" jawabnya, sembari mendorong tubuh Ben lalu beranjak menuju meja yang berada di sudut kamar itu, membuat Ben semakin menggerenyit bingung dengan tingkah istrinya.


"Nyari apa?" tanya Ben yang kini tiba-tiba berdiri dibelakangnya dengan kedua tangan yang ia lipat di bawah dada.


"Eh, itu euhmz_"


"Nyari apa sih, sampai mukanya merah begini?" tanya, Ben seraya menyentuh wajah Putri yang merona, membuat sang pemiliknya semakin gelagapan.


"S-sepertinya disini gerah kak, aku akan keluar!" ucapnya yang hendak melangkah, namun baru saja kaki mungil itu terangkat tubuhnya kembali melayang di udara, karena Ben kembali menggendongnya menuju tempat tidur.


Lalu membaringkan tubuh Putri dengan penuh kehati-hatian.


"Masih ingat ucapanku tadi siang?" tanyanya dengan suara yang terdengar serak dan sedikit berat.


"U-ucapan apa?"

__ADS_1


"Kau masih memiliki kegiatan lain di malam hari." bisik Ben dengan suara yang mulai bergetar, seperti tengah menahan sesuatu.


"Kegiatan?"


"Kegiatan seperti apa?" tanyanya sekali lagi.


"Seperti ini." Ben mencium bibir Putri sekilas, kemudian beralih kebagian kening, leher, dan bagian sensitif milik Putri yang lainnya, membuat sang pemiliknya melenguh beberapa kali.


"Kak?"


"Kenapa?"


"A-aku gerah!"


Ben mengulas senyum tipis, "Akan ku buat kau semakin kegerahan sayang."


"T-tapi kak?"


"Tenanglah sayang, kita sudah pernah melakukannya, bukan?" tanya Ben, saat melihat raut ketakutan di wajah Putri.


"Dan itu sangat menyakitkan." balasnya dengan suara lirih.


"Aku jamin, kali ini tidak!"


Tanpa mengatakan apapun lagi, dan tentu saja tanpa meminta persetujuan dari istrinya, malam itu Ben melakukan keinginannya yang ia anggap hak-nya sebagai seorang suami.


Dan malam itu menjadi saksi bisu penyatuan cinta mereka untuk yang kedua kalinya.


.


.

__ADS_1


__ADS_2