Terpaksa Menikahi Gadis Cacat

Terpaksa Menikahi Gadis Cacat
Apartement 2


__ADS_3

"Kakak dulu suka masak?" tanya Putri, saat melihat seisi Apartment Ben sore ini, disana terdapat dapur yang lengkap dengan kompor serta peralatan masak lainnya.


"Nggak terlalu sih, kadang-kadang kalau lagi males keluar aja."


"Kak?"


Tak menjawab, namun Ben menoleh, menunggu sang istri untuk melanjutkan kata-katanya.


"Umzz_" Putri terlihat ragu untuk bertanya, bahkan ia sampai meremas ujung dress yang sedang di kenakannya saat ini.


Sementara Ben menatapnya dengan kedua alis bertaut.


"Itu, dulu_ dulu kak Sandra, atau perempuan lainnya sering kesini?" lanjut Putri sedikit tergagap.


Terlihat Ben yang semakin menggerenyit, kemudian menghela nafas dengan sangat pelan.


''Nggak ada." jawabnya singkat, melangkah mendekat kearah nya, mengangkat kedua tangan yang kemudian di letakkan di bahu milik Putri.


"Cuma kamu, satu-satunya wanita yang aku bawa kesini, untuk pertama kalinya, Dan mungkin juga untuk yang terakhir kalinya.


"Kak_"


"Aku serius sayang, cuma sahabat-sahabatku yang aku bolehin masuk sini."


"Kak Algar?"


Ben mengangguk, "Iya! Arsen, Raka juga."


"Ayo!" Ben menggiring Putri agar duduk di kursi yang berdampingan dengan meja makan.

__ADS_1


"Sayang,?" Ben menggenggam tangan Putri yang kini bertumpu di meja makan.


"Ada yang mau kakak omongin?" tanya Putri, saat Ben menatapnya dengan sangat serius.


Ben mengangguk perlahan, sedikit memalingkan wajah karena bingung harus memulai pembicaraannya dari mana.


"Kak?"


"Euhmz, itu_ waktu itu kamu sempat ingin mencari keberadaan ibu kandungmu kan, sayang?''


" Apakah keinginan itu masih ada?" lanjut Ben dengan sangat hati-hati.


"I-iya, memangnya kenapa kak?" tanya Putri yang sedikit bingung, sementara Ben terus menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Jika dalam waktu dekat kamu di pertemukan dengannya, bagaimana perasaan mu sayang?''


" Tentu saja aku pasti sangat bahagia, memangnya kenapa kak,?"


Ben menjeda ucapannya, saat nama Algar dan Anita terlintas dalam benaknya, menunduk dengan mata terpejam, Ben merasa dirinya tidak berhak mengatakan semuanya kepada Putri, meski ia adalah istrinya.


Ben ingin agar Algar dan Anita sendirilah yang memberitahukan langsung kebenaran itu terhadap Putri.


"Kakak mau bilang apa sih?"


"Nggak ada sayang, gimana sore ini mau keluar buat keliling Bandung nggak, atau mau tetap berguling-guling diatas kasur hm?" ucapnya, berusaha mengalihkan pembicaraan, dengan jemari yang bergerak mengelus pipi selembut bayi itu seperti biasa.


"Nggak! aku mau jalan-jalan aja." jawabnya yang terlihat antusias.


"Yakin nggak mau lanjut?" Ben menyunggingkan senyum tipis, seraya mengerling genit.

__ADS_1


''Nggak!" beranjak meninggalkan dapur.


*


Sore itu keduanya menikmati ramainya suasana Bandung ketika sore hari, tidak lupa keduanya mampir di beberapa warung yang menjual aneka makanan.


"Darrel tinggal dimana kak, kok kita nggak ketemu?" ujar Putri memecah kesunyian, ketika keduanya dalam perjalanan pulang menuju Apartemen, setelah bosan berkeliling.


Ben menoleh sekilas, entah mengapa sudut hatinya terasa ngilu setiap kali Putri menanyakan perihal kabar laki-laki lain, meski itu adalah adik kandungnya sendiri.


Trauma di khianati oleh saudara sendiri membuat Ben begitu mudah emosi dan cemburu.


Sementara Putri yang menyadari raut wajah Ben yang berubah dingin, langsung mencium pipinya sekilas.


"Maaf kak, aku nggak bermaksud mau bikin kakak marah, sumpah!" Putri mengangkat tinggi-tinggi kedua jarinya, seraya tersenyum geli, membuat kemarahan Ben mereda seketika.


"Istri yang baik!" Ben mengacak pelan rambut sang istri karena gemas, tak menyangka jika istri kecilnya itu kini jauh lebih peka dengan perasaannya.


*


Selama 5 hari di Bandung, selama itu juga Ben tak berhenti menggagahi sang istri, perasaan cinta Ben terhadap Putri seolah meluap-luap dan semakin bertambah besar setiap harinya. Dan tidak mau berpaling darinya walau hanya sebentar saja.


Sabtu pagi, keduanya memutuskan untuk pulang, karena Putri terus mengeluh pusing, mual dan yang lebih membuat Ben khawatir Putri sama sekali tidak mau dibawa ke Dokter.


Perjalanan yang biasa Ben jangkau hampir tiga jam, kini hanya memakan waktu hanya dua jam saja, gegas ia membuka pintu mobil dan menggendong tubuh Putri yang semakin lemah.


Tak lupa ia menghubungi Dokter langganannya, agar memeriksa keadaan sang istri dirumahnya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2