Terpaksa Menikahi Gadis Cacat

Terpaksa Menikahi Gadis Cacat
Masa lalu Ben 2


__ADS_3

Selagi menunggu istrinya sadar, Rama segera mengurus pemakaman untuk bayi kecilnya yang meninggal ketika ia berusia 7 bulan didalam kandungan istrinya itu.


Rama memang begitu terpuruk dan kehilangan, terlebih saat ia mengetahui bahwa bayi mungilnya itu berjenis kelamin perempuan, yang begitu di nantinya selama ini.


Namun, sebagai seorang suami sekaligus seorang ayah ia harus terlihat kuat dimata anak dan juga istrinya.


Berusaha ikhlas menerima apapun yang telah di tentukan sang Maha Kuasa untuknya.


Namun yang menjadi beban terberat nya saat ini adalah bagaimana caranya ia memberi tahu Maura saat siuman nanti, karena Rama yakin, Maura lah yang paling tersiksa dengan kejadian ini.


*


Langit dengan warna kuning keemasan sore itu menjadi saksi bisu keluarga Rama dan Maura yang sedang berduka, atas kepergian calon anggota baru di keluarga mereka.


Fatma dan Harun orang tua Maura turut hadir melihat pemakaman cucunya yang di kebumikan dibelakang rumah yang di tempatnya saat ini, mereka terus terisak, berpelukan, dan saling menguatkan.


Begitupun dengan Ben yang tidak berhenti menangis di pelukan mbok Nah yang juga ikut menghadiri pemakaman anak bungsu sang majikannya itu.


Tidak jauh dari Ben, Alby berdiri menatap timbunan tanah Merah yang sudah bertabur bunga di hadapannya dengan tatapan yang terlihat biasa saja, tidak ada raut sedih, atau bahkan raut penyesalan.


*********


Malam ini Rama membawa ketiga anaknya kerumah sakit tempat Maura dirawat, berharap bisa sedikit memberi kekuatan ketika istrinya sadar nanti.


Ia khawatir Maura akan histeris saat mendapati kenyataan bahwa anak yang mereka nantikan telah kembali pada sang Pencipta.


"Ma?" ujar Ben dengan suara berbisik, dan bahkan mungkin hanya mampu didengar oleh dirinya sendiri, menggenggam sebelah tangan sang mama, dengan kepala yang ia rebahkan disisi brankar, hingga tanpa ia sadari lelehan air asin itu kembali mengaliri wajahnya.


Adek udah bahagia di surga ma!


Ungkapan yang hanya bisa ia ucapkan di dalam hati.


Selang beberapa menit kemudian, jemari sang mama mulai bergerak secara perlahan, bersamaan dengan kedua matanya yang terbuka.


Menatap ke setiap sudut ruangan, menerka-nerka dimana keberadaannya kini.


"K-kenapa disini?" tanyanya lemah.


"Mama di Rumah sakit!" Rama yang menjawab.

__ADS_1


"Rumah sakit." gumamnya, Maura mencoba mengingat-ingat sesuatu yang membuat ia harus berada di tempat ini.


"Bayikuu!!" jeritnya, seraya memegangi perutnya yang kini sudah berubah menjadi rata.


"Dimana bayiku pa, dimana anak kita?" Maura mencengkram kerah baju yang dikenakan Rama, membuat suaminya tertunduk dengan wajah sendunya.


"Mama tenang dulu ma, mama baru saja di Oprasi, kendalikan diri mama." Rama berusaha menenangkan.


"Mama nggak peduli, mama mau bayi kita, dimana dia pa?"


"Ma, maafin papa, bayi kita_"


"Pa?"


"B-bayi kita, su-sudah meninggal ma!" jawab Rama pasrah, ia tidak mungkin menutupi hal ini pada istrinya, karena cepat atau lambat ia pasti akan mengetahuinya.


"Tidak, tidak mungkin!" Maura semakin histeris, membuat Rama bergegas memanggil Dokter meminta agar menyuntikan obat penenang untuk sang istri.


*******


Setelah 3 hari di rawat di Rumah sakit, akhirnya hari ini Maura dipulangkan, keadaannya sudah lebih baik tidak lagi histeris, hanya saja kini ia berubah menjadi lebih dingin dan pendiam.


Sesampainya di rumah, dengan di hadiri Fatma dan Harun orang tua Maura, Rama mengumpulkan ketiga anaknya serta mbok Nah untuk menanyakan kronologi kejadian yang dialami istrinya, hingga mereka harus kehilangan putri bungsu mereka.


"Ini semua gara-gara mainan sialan ini pa?" Alby mengambil Robot besar yang masih tergeletak menyender di sisi tangga, lalu menyerahkannya pada sang papa.


Rama menggerenyit dengan kedua alis hampir menyatu, menatap putra pertamanya dengan tatapan bingung, ia ingat betul itu adalah Robot yang diberikannya pada Ben, sebagai hadiah karena ia mendapatkan rangking satu di sekolahnya.


Lalu apa hubungannya?? batinnya penuh tanya.


Sementara di samping Fatma, Ben tampak gusar, ia merasakan akan ada sesuatu hal yang akan membuatnya mendapat kan masalah besar.


"Gara-gara mainan ini adek jadi nggak ada pa!" Alby terlihat sendu.


"Al, kamu bicara apa sih, ini maksudnya gimana, jangan berbelit-belit ngomong yang jelas bisa nggak sih?"


"Tadi Alby lihat mama kepeleset gara-gara nginjek robot ini pa,"


"Jadi, mama jatuh karna mainan ini?" Rama berdiri seraya mencengkram Robot besar berwarna merah itu hingga terdengar bunyi patahan, lalu tatapannya beralih pada Ben dengan rahang mengeras.

__ADS_1


"Ben, ini ulah kamu?" tanya Rama yang seketika membuat Ben terkesiap, dengan jantung yang berpacu cepat, apa yang ia takutkan ternyata benar-benar terjadi.


"Jawab Ben!" bentak Rama, tak sabar ketika melihat Ben hanya diam dengan tubuh mematung.


"Diamnya kamu akan papa anggap iya!" ujar Rama lalu bergegas menuju kamarnya.


Deg!


Rama terpaku dengan sosok dihadapannya, menelan ludah susah payah, untuk menyetabilkan perasaan terkejutnya.


"Ma, kok disini?" tanyanya dengan bibir bergetar, sebelah tangannya menyentuh bahu Maura yang terlihat syok.


"Apa yang dilakukan Ben sudah keterlaluan!"


.*


.*


"Kamu yakin dengan keputusan kamu,?" tanya Rama, setelah mendengar keinginan Maura yang akan menitipkan Ben pada kedua orang tuanya hingga keadaan ia kembali membaik.


"Yakin, karena aku rasa ini yang terbaik pa."


"Apa kita tidak terlalu keras terhadap Ben ma, karena papa rasa Ben masih membutuhkan kita di sampingnya, papa juga tidak yakin bisa berjauhan dengan anak itu."


"Nggak akan lama kok pa!"


Rama tampak menghela nafasnya beberapa kali, untuk menetralkan perasaan gusarnya, meyakinkan dirinya bahwa ini adalah yang terbaik untuk mereka dan putranya.


"Baiklah, papa ikut saja, dan papa harap mama tidak pernah menyesali keputusan apapun yang sudah mama pilih."


*******


Sore itu Ben tidak banyak bicara, hanya diam pasrah dengan keputusan yang diberikan sang ayah yang akan mengirimnya kerumah sang nenek dan kakeknya sampai keadaan hati mereka membaik, karena baginya melawan pun akan percuma, karena Alby sangat pintar memutar balikan keadaan.


Mengemasi beberapa pakaiannya, lalu di masukan kedalam koper dengan sendirinya, karena tidak ada satupun yang diberikan izin untuk membantu Ben, termasuk mbok Nah.


"Maafin Ben ya ma, tapi satu hal yang harus mama tahu Ben sama sekali nggak meletakan mainan itu disana, Ben sayang mama, jaga kesehatan mama!" ucap Ben lirih, mencium tangan kanan Maura, sebagai ungkapan perpisahan yang entah berapa lama.


Sementara Maura memalingkan wajah, dengan perasaan yang tak menentu, ia bingung harus berbuat dan berekpresi seperti apa.

__ADS_1


.


.


__ADS_2