
"Hallo Al, tumben lo nelpon gue siang-siang begini?" ucap Ben saat ia menerima telpon dari Algar siang ini.
"Iya nih, sorry banget ya kalau gue ganggu."
"Nggak kok, kebetulan gue juga lagi santai nih di rumah, nemenin Putri bikin black forest."
"Siapa yang ulang tahun bro, elo? tapi masa iya sih, bukannya ulang tahun lo masih lama ya?"
"Ck, lagian siapa yang ulang tahun, nggak! dia emang seneng masak, oh iya ngomong-ngomong lo tumben-tumbenan nelpon gue, ada perlu apa lo, jadi curiga gue."
"Suudzon mulu lo, gue tuh nelpon elo di suruh nyokap."
"Lah,"
"Iya, elo sibuk kagak sih entar malem?"
"Nggak deh kayaknya, kenapa emang? lo mau ngajakin gue kencan, sorry gue udah ada bini bro, elo telat!"
"Anjir, geli gue! meskipun lo jadi satu-satunya mahluk yang tersisa di muka bumi, kagak sudi gue ngencanin elo, mual anjir!" jawab Algar, yang membuat Ben tergelak keras.
"Nyokap gue pengen ngundang lo berdua buat makan malam di rumah gue,"
"Wih, dalam rangka acara apa nih?"
"Katanya sih pengen lebih deket aja sama bini lo, pengen ngobrol depan-depanan, di waktu yang tenang, nyesel juga karena pas diacara resepsi lo kemarin dia nggak bisa lama."
"Oh gitu, ok gue sama Putri pasti dateng!"
"Eh seriusan lo Ben?"
__ADS_1
"Ck, mana ada gue yang nggak pernah serius sama ucapan gue, oh iya bilangin ke tante Nita masak yang enak gitu." ucap Ben yang kemudian terkekeh sendiri.
"Ok siap, kisanak!"
"Gaya lo."
Tut. . tut.. tut..
Ben memandangi layar pintarnya yang telah mati, sedikit menggeleng mengingat tingkah konyol sahabatnya, memasukan kembali benda tersebut, kemudian melangkah menuju dapur, tersenyum saat melihat istrinya yang kini tengah mencicipi kue yang baru saja dibuatnya itu.
"Gimana, kuenya enak?" tanya Ben yang kini sudah berdiri di sampingnya, dengan tangan yang sibuk membuka tali apron yang melingkar di bagian tubuh belakang sang istri.
"Menurut aku sih lumayan, kak Ben mau coba?"
"Tentu saja!" Jawabnya, seraya membuka mulut meminta agar Putri menyuapinya.
"Gimana?" tanya Putri saat Ben mulai mengunyah potongan kecil kue tersebut.
"Ihs segitunya, serius kak enak nggak?"
"Enak sayang, masa aku harus bohong, dan bilang kuenya nggak enak, asli ini tuh enak banget!" lanjut Ben yang kini mengambil sendiri sepotong kue dari tempatnya.
"Oh iya sayang, nanti malem ikut ya kerumah Algar, katanya tante Nita pengen ketemu, sekaligus ngundang kita buat makan malam dirumahnya."
"Eh seriusan, mau kak, aku ikut!" jawab Putri antusias, karena selain dirinya juga ingin bertemu dengan wanita bernama Yuanita itu, ia juga sangat penasaran dengannya, setelah pertemuan pertamanya kalau itu.
"Ok, nanti kita berangkat, deal berarti ya!"
"Deal!"
__ADS_1
*
*
Di tempat yang berbeda dua orang laki-laki yang berstatus kakak beradik tengah berdiri berdampingan menatap lurus keluar jendela di sebuah gedung berlantai 17, sebuah perusahaan dengan kepemilikan atas nama Rama Adiwangsa orang tua dari kedua laki-laki tersebut.
"Bicaralah, jika ada yang ingin kau sampaikan, karena aku tidak punya banyak waktu untuk sebuah pembicaraan di luar bisnis." ujar salah seorang laki-laki yang bernama Alby, dengan wajah angkuh dan tak bersahabat.
"Tahukah kamu kak, sikapmu sekarang ini membuatku merasa tidak mengenalmu sama sekali."
"Dan aku tidak peduli itu." jawab Alby sarkas, dan tidak berperasaan.
"Baiklah, aku datang kesini hanya ingin memberi tahumu sesuatu, mungkin lebih ke menasehati, tapi aku harap kakak tidak salah paham, aku hanya ingin yang terbaik untuk kakak."
"Katakan apa yang kau inginkan?"
"Berhenti mengganggu kehidupan kak Ben dan Putri, biarkan mereka bahagia."
"Omong kosong!"
"Kak, aku tahu kakak masih mencintai Putri kan, jangan pikir aku nggak tahu tentang rencana kakak dan wanita ular itu untuk bekerja sama memisahkan mereka, aku tahu semuanya."
"Dengar!" Alby menarik kerah kemeja yang dikenakan oleh adiknya, yang tak lain adalah Darrel, dengan sangat kuat.
"Siapapun tidak akan ada yang bisa menghentikan ku."
"Kakak gila?"
"Ya kamu benar, aku memang gila!"
__ADS_1
"Aku mohon hentikan kegilaan itu kak," Darrel mendorong tubuh Alby hingga punggungnya membentur dinding.
.