Terpaksa Menikahi Gadis Cacat

Terpaksa Menikahi Gadis Cacat
Memastikan kembali


__ADS_3

"Kamu sudah sarapan?" tanya Anita, yang mendapat gelengan kepala dari Algar.


"Kenapa,?"


"Nungguin mama."


"Ck, kenapa musti nungguin mama sih, kamu ini." lanjut Anita, yang kini mulai melangkahkan kakinya menuju lantai bawah, sementara Algar mengikutinya di belakang.


"Kalau udah lapar ya sarapan aja duluan, nggak usah nungguin mama,"


"Nggak bisa gitu dong ma, biasanya juga kita sarapan bareng."


"Yasudah, ayo kita sarapan!" Anita menarik kursi lalu menjatuhkan tubuhnya disana, yang juga diikuti oleh Algar.


"Tumben nasi goreng!" protes Algar, saat sang mama menyodorkan sepiring nasi goreng lengkap dengan taburan bawang goreng dan juga ayam suwir diatasnya.


"Iya, tadi pagi mama yang minta bi Hanum buat bikinin."


"Lho, jadi tadi pagi mama udah turun, kok aku nggak tahu." ucap Algar yang hampir tersedak oleh nasi goreng yang sedang di kunyahnya.


"Telan dulu baru ngomong! kamu tuh kebiasaan buruknya dari dulu nggak hilang-hilang, heran deh mama." Anita menggeleng-gelengkan kepala seraya mengangsurkan segelas air putih kehadapan Algar, yang disambarnya secepat kilat, kemudian di teguknya air tersebut hingga tersisa setengah.


"Algar pikir mama belum bangun lho!"


"Justru pas mama kebawah tadi, kamu deh kayaknya yang masih ngorok!"


"Iya gitu ma, emang mama bangun jam berapa tadi?"


"Jam 4!"


"Hah seriusan?"


"Sejak kapan mama suka bohong."


"Iya deh iya."

__ADS_1


Hening...


Baik Anita dan juga Algar, akhirnya memilih diam hingga makanan yang ada didalam piringnya masing-masing tandas tak tersisa.


"Algar udah selesai ma." Algar hendak berdiri namun tertahan saat Anita hanya diam dengan tatapan kosong.


"Ma, mama?" Algar menggerakan tangan tepat dihadapan wajah Anita, namun sang mama seperti tidak menyadarinya, membuat Algar menghela nafas beberapa kali, dan memanggilnya lebih keras lagi.


"Ma?"


"Eh," Anita terkesiap, dan repleks meneguk minumannya hingga tandas.


"Kenapa Al, tadi kamu bilang apa?"


"Ck mama ngelamun terus, mikirin apa sih ma, coba deh kalau mama lagi punya masalah itu cerita ke aku, siapa tahu Algar bisa bantu kan ma!" ujar Algar yang kini kembali duduk seraya menggenggam kedua tangan sang mama yang terasa dingin.


"Al,"


"Iya kenapa?"


"Kalau Ben ada waktu, undang dia ya buat makan malam bersama dirumah kita, dan jangan lupa suruh dia buat ajakin istrinya juga."


Anita tampak gelagapan, menelan ludahnya dengan susah payah, khawatir juga jika kegundahannya akan kentara oleh putranya.


"Ma_"


"Gini Al, kamu inget kan, kemarin mama hanya sebentar ketemu mereka, bahkan sangat singkat, mama jadi nggak enak, mama juga belum sempat ngobrol banyak sama istrinya, jadi mama ingin bertemu di waktu yang senggang, supaya mama puas ngobrolnya."


"Oh begitu,?" Algar tampak mengangguk-anggukan kepala, mengerti.


"Jadi kapan kamu bisa undang mereka buat makan malam disini?"


"Coba nanti Algar tanya Ben dulu ya ma, nggak enak juga kan dia pengantin baru."


"Udah lama kali!"

__ADS_1


"Eh iya juga sih!" Algar terkekeh sendiri.


"Yaudah Algar tinggal ke depan dulu ya!"


"Iya!"


Sepeninggal nya Algar, Anita kembali termenung dengan pikiran yang melanglang buana.


Hingga getar ponsel di saku celananya, membuat Anita tersadar dan bergegas mengambilnya, menekan ikon hijau dilayar tersebut, saat melihat siapa penelponnya.


"Gimana?" ujarnya, saat telpon sudah tersambung.


"Menurut info dari tetangga setempat, gadis itu Putri pertamanya pak Arfan dari istri pertamanya bu." balas seseorang dari sebrang sana, yang membuat tubuh Anita mulai gemetar seketika.


"A-anak dari istri pertamanya kamu bilang?" tanya Anita memastikan, bahwa ia memang tidak salah dengar.


"Betul bu, tidak banyak yang tahu memang, tapi salah satu orang dari mereka bilang, bahwa itu adalah kebenarannya."


"Ada lagi yang ingin ibu sampaikan, atau ada yang ingin ibu ketahui lagi selain itu?"


"Tidak, saya rasa sudah cukup, untuk hal lainnya saya akan coba mencari tahu sendiri."


"Baik kalau begitu bu."


"Hmm, ya terimakasih, untuk upahnya akan saya transfer nanti."


"Baik, bu!"


Setelah sambungan terputus, Anita bergegas kembali ke kamarnya untuk memastikan sesuatu.


Ia memang sudah yakin dengan yang ia rasakan, tapi baginya tidak ada salahnya jika ia mengumpulkan bukti yang lebih kuat lagi.


Anita mengambil sebuah kotak yang ia simpan selama 17 tahun ini, sedikit kesusahan saat membuka kotak yang terbuat dari kaleng itu, karena di setiap sisi kaleng tersebut sudah mulai berkarat, padahal 3 bulan sekali dia selalu membukanya, untuk sekedar mengolesinya menggunakan minyak pelumas, agar selalu memudahkannya membuka kaleng itu setiap saat jika ia ingin melihat isinya.


"Dugaanku benar, tapi aku ingin memastikannya sekali lagi!" gumamnya, setelah ia memandangi 3 lembar foto Putri kecilnya dulu.

__ADS_1


.


.


__ADS_2