
"Bagaimana keadaan istri saya Dok, apa yang terjadi?" tanya Ben khawatir, setelah melihat sang Dokter baru saja keluar dari ruang pemeriksaan.
"Istri Anda akan segera melahirkan, dan sekarang dia akan segera di bawa menuju ruang bersalin, mohon doa nya semoga istri dan anak anda selamat dalam proses melahirkannya." balas Dokter Lisa.
Tanpa menunggu jawaban Ben ia bergegas memasuki ruang bersalin terlebih dahulu.
Sementara Ben mematung dengan wajah linglung, hingga tepukan di pundaknya membuat kesadarannya kembali sepenuhnya, mengusap kasar wajahnya, dengan diakhiri helaan nafas berat.
"Putri akan segera melahirkan anak kalian, ayo kamu temani dia Ben, beri istrimu semangat dan dukungan penuh, agar dia bisa melewati semuanya dengan tenang." ujar Maura dengan rona wajah bahagia.
Ben mengangguk, dan bergegas berlari menuju ruang bersalin dimana sang istri akan melakukan perjuangan antara hidup dan matinya.
"Sayang,?" ucapnya dengan suara lirih, ada perasaan sedih dan tak berdaya, ketika melihat sang istri tengah berbaring diatas ranjang khusus melahirkan.
"Kak, sakit!" keluhnya, dengan ringisan-ringisan kecil yang nampak jelas dari raut wajahnya.
"Sabar ya sayang, aku tahu kamu gadis yang kuat, berjuanglah sayang, bertahanlah demi anak kita, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu sendiri, aku akan menemanimu disini, aku janji." Ben menggenggam erat sebelah tangan Putri seolah memberi ia semangat dan kekuatan untuknya.
"I-iya kak, shhhhstt, tapi ini sakit sekali kak."
"Kuat sayang kuat."
Setelah melewati proses panjang selama hampir 45 menit, akhirnya suara tangis sang bayi pecah memenuhi setiap sudut ruangan tersebut, membuat Ben berulang kali mengucap kata syukur, sembari menciumi dahi sang istri berulang kali.
Dan kebahagiaan tersebut tak hanya dirasakan oleh Ben dan Putri, akan tetapi dirasakan oleh seluruh keluarganya, terutama Anita, yang sempat tak sadarkan diri, panik, khawatir, merasa bersalah, bercampur menjadi satu.
"Aduhh lucunya cucuku yaampun." Maura tak berhenti tersenyum menatap cucu pertamanya yang kini berada digendongannya itu.
"Lutunahhhh, mirip kan sama aku?" ujar Darrel gemas.
"Ah kamu ini."
"Kok mirip si Darrel nggak sih ma?" timpal Rama, yang ikut menjawil pelan pipi sang cucu.
"Tuhkan, papa juga bilang mirip, mama nggak percayaan banget sih." gerutu Darrel.
"Eh iya gitu pa, eh iya ya, kok bisa mirip Darrel." Maura menatap lekat sang bayi.
"Mana ada!" sambar Ben yang baru saja selesai membayar seluruh administrasi pembayaran Putri dan juga anaknya.
"Eh, bapaknya dateng tuh!" lirih Darrel.
"Siapa yang bilang anak aku mirip kamu,?" tanya Ben, membuat Darrel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, begitupun dengan Rama yang nampak gelagapan, sementara Maura terbengong, dan detik kemudian menunjuk kedua laki-laki beda generasi yang tengah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Mereka yang bilang," menunjuk keduanya. "mama sih cuma iya-iya aja Ben."
"Sini ma, Ben mau gendong." ucapnya dengan nada yang terdengar kesal, sementara Darrel, Rama, Dan maura menggeleng-gelengkan kepala, lalu ketiganya tertawa bersama.
*
*
"Sayang lihat deh, anak kita tampan bukan, mirip kan sama aku?" ujar Ben sembari meletakan bayi kecilnya di pangkuan Putri, yang sudah tidak sabar ingin menggendongnya lagi.
"Yaiyalah mirip kakak, kan ayahnya gimana sih kakak ini." jawab Putri seraya mengelus sayang pipi sang bayi yang warnanya masih kemerahan, membuat Ben mengulas senyum bangga.
"Berarti papa sama mama salah penilaian dong."
"Maksudnya?" tanya Putri tak mengerti.
"Ck, mama bilang bayi kita mirip Darrel, jelas aku nggak terima."
"Yaampun." Putri terkekeh sendiri.
"Kenapa ketawa?"
"Eh, nggak siapa yang ketawa, sebenarnya ya kalian berdua kan emang mirip, lupa ya kalau kalian berdua itu adik kakak?"
"Jadi kakak mau kasih nama siapa untuk bayi kita?" potong Putri tak ingin membuat hal sepele menjadi panjang kali lebar.
"Athar alindra Adiwangsa."
"Gimana menurut kamu sayang?"
"Nama yang bagus," Putri tersenyum tulus, seraya memandangi wajah buah hatinya yang terlihat jelas lebih mirip Ben dari pada dirinya.
"Hallo Athar sayang, jadi anak yang baik ya nak," ujar Ben seraya melirik sang istri penuh suka cita.
"Terima kasih sudah berjuang menghadirkannya kedunia ini sayang." bisik Ben, bersamaan dengan pintu yang terbuka menampilkan sosok Anita yang berurai air mata.
Melangkah teratur menghampiri Putri dengan perasaan penuh rindu.
"Sayang, selamat untuk kelahiran bayi tampannya, semoga dengan kehadirannya, menjadi pelengkap kebahagiaan dalam keluarga kecilmu."
"I-iya terimakasih banyak, tante."
"Sama-sama sayang."
__ADS_1
"Bolehlah saya memeluk tante, m-maksud saya mama, sebentar saja-" pintanya yang juga kini ikut menangis.
.
.
"Mama." ulang Putri yang membuat tubuh Anita menegang seketika.
"Ma-ma, nak kamu_"
"Putri udah tahu sejak lama, kalau mama Anita Adalah mama kandung Putri, tapi waktu itu Putri memilih diam karena belum memiliki bukti yang kuat, terlebih kita baru saja bertemu beberapa kali." jelas Putri, yang membuat Anita tak sanggup lagi membendung air matanya.
"Sayang jadi_"
"Iya!" Putri mengangguk cepat. "Aku udah tahu ma." isak Putri, dan kedua nya kembali berpelukan, saling melepas rindu setelah sekian lama terpisah oleh jarak dan waktu.
**
Setelah dipertemukan kembali dengan sang mama, dan juga sang kakak setelah belasan tahun lamanya, akhirnya kini hidup Putri lebih bahagia dan semakin sempurna dengan kehadiran baby Athar, terlebih ia memiliki suami yang begitu mencintainya sepenuh hati.
Mertua yang juga tak kalah baiknya.
Lalu perhatian dan keposesifan Ben membuat hari-hari Putri semakin terasa berharga dan istimewa.
Kini hidupnya tak lagi sedih, dan penuh keputus asaan, semuanya sudah berakhir dengan bahagia.
Berawal dari pernikahan yang terpaksa karena sebuah tanggung jawab kecelakaan, kini berubah menjadi pernikahan yang penuh cinta.
Sementara Arfan memilih jalan hidupnya yang baru, menceraikan Yani, kemudian memilih hidup sendiri, jauh dari Putri maupun Evelyn dan Rena.
*
*
TAMAT..
*
*
Terimakasih readers tercinta yang sudah setia mengikuti karya Author yang Satu ini, terimakasih untuk support yang tiada hentinya, โบ mohon maaf jika ceritanya kurang layak dan tidak sesuai yang di harapkan reader tercinta semuanya. ๐
Jangan lupa mampir juga di Novel Pesona Twins S, sequel dari suami ku Anak SMA, terimakasih๐๐๐
__ADS_1