Terpaksa Menikahi Gadis Cacat

Terpaksa Menikahi Gadis Cacat
Aku mencintaimu


__ADS_3

Setelah membongkar seluruh isi lemarinya, akhirnya Putri menemukan sebuah baju yang berkerah tinggi untuk menutupi bagian leher dan dadanya yang di penuhi lukisan yang diciptakan oleh suaminya sendiri.


"Gara-gara kak Ben nih, panas-panas begini aku harus pake baju model begini." gerutu Putri, sembari memasuki mobil milik Ben yang pintunya sudah terbuka lebar, dan tentu saja Ben sendiri yang membukakan untuknya.


"Nggak harus ditutupin kan bisa?" balas Ben seraya mengangkat sebelah alisnya, dengan senyum menggoda, membuat Putri kian bertambah membrengut kesal dibuatnya.


Tak berniat membalas ucapan Ben, ia pun bergegas memasuki mobil, masih dengan wajah kesalnya.


"M-mau ngapain?" lirih Putri, saat Ben mencondongkan wajahnya hingga hidung runcing keduanya hampir bergesekan.


Tak mengatakan apapun, Ben menundukan sedikit wajahnya, meraih seatbelt lalu memasangkannya di tubuh Putri.


"Selesai!" ucapnya, kemudian mulai menyalakan mobil memegang kemudi, lalu melajukan mobil tersebut, sementara Putri memilih memalingkan wajah keluar jendela, dengan wajah merona.


"Kak?"


"Hmmm!"


"Ck, nggak bisa apa pake jawaban yang lain selain ham hem, ham hem," gerutu Putri dengan suara lirih yang sama sekali tak terdengar oleh Ben.


"Kenapa?" tanya Ben, melirik sekilas kearahnya, lalu kembali fokus memegang kemudi dan memperhatikan jalanan yang di laluinya.


"Nggak jadi!"


Ckittt...!!


"Kak?" pekik Putri saat Ben mengerem mobilnya secara mendadak.


"Kak Ben apaan sih, bahaya tahu nggak, bagaimana kalau dibelakang ada mobil lain." membuat Ben repleks menoleh kebelakang dan keadaannya aman, tidak ada satupun kendaraan lain yang melintas disana, karena jalanan yang dilewatinya itu termasuk sepi.

__ADS_1


"Maaf sayang, tadi mau bilang apa hm?" tanya Ben, sembari meraih tangan Putri dan menciumi jemarinya satu persatu.


"Nggak jadi, tadi kan udah bilang!"


"Tapi wajahmu mengatakan tidak seperti itu, kau marah padaku?" lanjutnya dengan tatapan yang membuat Putri tak mampu berkutik.


"Katatakan!"


"A-aku ingin mampir ke kios bakso mang Ahmad, apakah boleh?"


"Dimana itu?"


"Dekat kampusnya Darrel dulu."


"Darrel?" Ben menggerenyit saat Putri menyebutkan nama adiknya itu.


"Kau pernah kesana bersama Darrel?"


"Kak?" Putri melirik kearah Ben yang kini menatap lurus kedepan.


"Seberapa sering dulu kau pergi bersama Darrel tanpa sepengetahuan ku?" seru Ben tanpa menoleh kearahnya, entah mengapa moodnya mendadak sangat buruk.


Putri yang menyadari raut wajah Ben yang berubah dingin membuatnya hanya bisa menunduk, sembari menggigit pelan bibir bawahnya.


Karena setiap kali Ben marah, hal itu mengingatkan nya kembali pada sikap Ben yang dulu.


"Jawab!" lanjut Ben, saat Putri hanya diam seperti tak berniat menjawab pertanyaannya.


"S-sangat s-sering kak!" jawabnya gugup.

__ADS_1


"Ck!" Ben mengusap wajahnya dengan kasar, menoleh kearah Putri yang masih menunduk, dengan kedua tangan yang saling bertaut.


Menyadarkan tubuhnya ke jok mobil, kemudian menghela nafas beberapa kali, melihat keadaan istrinya yang seperti itu membuat Ben merasa sangat bersalah, tidak seharusnya ia membentak istrinya hanya karena masa lalu.


Padahal ia mengingatnya dengan jelas keadaan Putri saat itu, dan yang lebih banyak meluangkan waktu untuk menemaninya hanya Darrel bukan dirinya.


Seharusnya ia justru mengucapkan banyak terimakasih kepada adiknya, karena sudah menjaga dan menemani istrinya ketika ia mengalami masa-masa yang sulit.


"Kemarilah!" Ben meraih tubuh mungil itu kedalam dekapannya.


"Maafkan aku sayang, seharusnya aku tidak seperti ini, mengertilah! aku hanya takut kehilangan mu."


"Apakah sikapku membuatmu takut?" Ben menangkup wajah Putri dengan kedua tangannya, bermaksud agar Putri bisa menatap kedua maniknya yang penuh dengan kekhawatiran di dalamnya.


"Jujur sayang, aku bukanlah laki-laki yang romantis, tapi akan aku pastikan bahwa aku laki-laki yang paling setia yang kau temui seumur hidupmu."


"Dan jujur saja aku bukanlah laki-laki yang lembut, aku mudah marah dan emosi, untuk itu bantu aku agar bisa mengendalikannya."


"Sayang, mau kah kau menemaniku, membantuku dalam segala hal, dan memperbaiki diri?"


"Apakah menurutmu aku wanita yang tepat yang kakak pilih untuk menemanimu seumur hidup?" tanya Putri dengan mata berkaca-kaca.


"Tentu saja, karena aku yakin tidak ada wanita lain yang akan memiliki hati seluas samudera sepertimu."


"Apa hanya karena itu, kau memilihku?"


Ben menggelengkan kepalanya, "Tidak, yang paling utama adalah, karena aku sangat mencintaimu."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2