Terpaksa Menikahi Gadis Cacat

Terpaksa Menikahi Gadis Cacat
Resepsi Pernikahan 4


__ADS_3

Dengan perlahan Anita mendekati Putri, yang sama sekali belum menyadari kehadirannya.


"Eh tante Nita, datang juga akhirnya?" Ben yang melihat Anita terlebih dahulu menyalaminya seperti biasa, saat Ben berkunjung ke rumahnya dulu.


"Iya dong, masa tante nggak datang ke pernikahan temen Algar yang satu ini, inget lho tante udah anggap kamu seperti anak tante sendiri." jawabnya sembari menepuk-nepuk pelan tangan Ben.


"Oh iya, ini yang namanya Putri ya, cantik sekali!" puji Anita memandangi Putri dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Iya tante, saya Putri istrinya kak Ben, senang bisa bertemu tante, kak Algar sering cerita bahwa tante memiliki kemiripan dengan saya, dan setelah saya ketemu ternyata benar!" jawab Putri yang disertai dengan senyuman manis yang menghiasi wajah cantiknya.


"Benar, Algar juga sering cerita begitu." Anita tertawa sendiri, namun tawa itu tak berlangsung lama, saat matanya kembali menangkap sosok Arfan yang tengah saling melempar senyum dengan istrinya, Yani.


"Ma, kenapa?" tanya Algar yang sejak tadi ikut menemani nya, Algar kembali merasakan kegundahan yang tengah dirasakan sang mama sejak pertama kali memasuki gedung.


"Maaf Ben, Putri sayang, tante tidak bisa berlama-lama berada disini, karena ada hal mendadak di kantor yang harus segera tante tangani." ucapnya beralasan, bahkan ia tak sempat untuk berpamitan pada Algar, atau sekedar menunggu jawaban dari Putri dan juga Ben.


"Ma tunggu ma!" Algar berusaha mengejar langkah sang mama yang terlihat sangat tergesa-gesa.


"Mama kenapa sih, Algar perhatiin dari tadi mama banyak melamun, terus kaya kaget gitu, mama ada masalah apa sih ma, cerita dong sama aku?"


Anita menghela nafasnya, "Mama nggak ada masalah apa-apa kok, mama baik-baik aja Al!"


"Mama bohong!"


"Al please! mama banyak kerjaan di kantor, belum lagi sore ini mama harus mampir ke butik, ada beberapa desain baru yang harus mama lihat."


"Ma?"


"Sudahlah, nikmati waktu luang kamu disini, paling tidak saat sepasang pengantin melempar bunga, kamu yang akan mendapatkannya, agar kamu segera menikah, ingat lho usia kamu sudah tidak lagi muda."


"Ck mama kenapa musti ngingetin yang itu mulu sih, tar juga aku bakalan ketemu sama jodoh aku."


"Lama!"

__ADS_1


Setelah menatap putranya dengan kesal, Anita pun bergegas meninggalkannya.


*****


"Kak, jadi benar tante Anita itu mamanya kak Algar?" seru Putri dengan mata yang masih menatap kearah dimana tubuh Anita menghilang dibalik pintu gedung ketika saat terakhir ia melihatnya.


"Iya sayang, kenapa memangnya?"


Putri terdiam sesaat, memikirkan wajah seseorang yang terasa familiar baginya.


"Kenapa?" tanya Ben saat Putri hanya diam, dan terkesan sedang melamun.


"Oh eumz, nggak kok kak, mungkin itu hanya perasaan aku aja."


"Perasaan gimana maksudnya?"


Terlihat Putri menghela nafasnya, kemudian menatap suaminya dengan lesu, bingung harus menjelaskan nya bagaimana.


"Baiklah!" jawab Ben, dengan sejuta rasa penasarannya.


"Ri!" sebuah suara milik seseorang yang begitu Putri kenal, membuat ia menoleh seketika, kearah orang tersebut.


"Eh kak Rezza?"


"Iya ini kakak, kamu apa kabar?"


Putri mengangguk dengan senyum merekah, "Baik kak, kakak sendiri bagaimana, akhirnya kakak nyempetin waktu buat datang ke acara resepsi pernikahan aku, seneng deh!"


Aku yang nggak seneng Ri! Rezza membatin.


"Kapanpun aku selalu sempat buat kamu Ri!" balas Rezza yang terdengar lesu.


"Makasih kak,"

__ADS_1


"Selamat ya, atas pernikahan kamu." Rezza mengulurkan sebuah kotak segi empat berwarna merah.


"Apa nih kak?"


"Buat kamu, nggak terlalu mewah sih, tapi kakak harap kamu mau memakainya."


"Emang isinya apaan?"


"Surprise dong, lihat aja sendiri."


"Eh nanti deh, makasih ya kak!"


"Sama-sama sayang!"


Deg!


Kepalan tangan yang sejak tadi sudah mengencang, kini semakin kuat saat Rezza laki-laki dihadapannya menyebut istrinya dengan sebutan sayang.


Brengsek! maki Ben dalam hati.


"Selamat ya!" Rezza mengulurkan tangannya kehadapan Ben seraya tersenyum lebar, seolah ia tidak mengenalnya, dan bahkan seolah tidak pernah terjadi apapun diantara keduanya.


"Kak?" Putri menyentuh tangan Ben yang terlihat enggan untuk membalas uluran tangan Rezza.


"Kak?" Lagi-lagi Putri berbisik saat suaminya hanya bergeming, menatap Rezza dengan sorot mata penuh permusuhan.


"Terimakasih!" jawab Ben singkat, seraya menjabat tangan Rezza.


Disisi lain, ketiga teman Ben yang sejak tadi memperhatikannya, saling pandang dengan raut wajah khawatir.


.


.

__ADS_1


__ADS_2