Terpaksa Menikahi Gadis Cacat

Terpaksa Menikahi Gadis Cacat
Resepsi pernikahan 2


__ADS_3

"Aduhh anak ibu cantik sekali kamu nak?" Yani memeluknya erat, seolah ia adalah seorang ibu yang begitu mencintai putrinya, seperti pada umumnya.


"Terimakasih bu sudah datang!" Putri berusaha memberikan senyuman terbaiknya, walau dalam hati ia begitu sedih mengingat status yang sebenarnya tentang wanita paruh baya yang kini berada di hadapannya itu.


Putri tahu segala perhatian yang ditunjukan Yani saat ini hanyalah kamuflase belaka, namun meski begitu ia tetap merasa bahagia, bahkan jika ia harus terus berpura-pura tidak mengetahui tentang dibalik topeng Yani ia akan tetap bersikap sama.


Karena bagi Putri, seburuk apapun dia, ia pernah hidup bersamanya selama 18 tahun, dan sudah menganggapnya seperti ibu kandung nya sendiri.


Bahkan sebelum kebenaran itu terungkap, tak sekalipun Putri membayangkan bahwa Yani adalah ibu sambungnya.


"Selamat ya kak," Evelyn dan Rena menyusul dibelakang, dengan mata yang terus tertuju pada wajah tampan Ben, bahkan kedua adiknya itu tak merasa canggung sama sekali.


"Terimakasih!" jawab Putri dengan suara lirih.


"Gaunnya lumayan juga!" Evelyn menatap Putri dengan tatapan sinis, sebelum gadis itu meninggalkan pelaminan.


"Iyalah kak bagus! secaranya kan suaminya banyak uang, kalau bukan karena suaminya, Ck! gembel bisa apa.?" balas Rena yang menyusul langkah kakaknya, dan hal itu tak luput dari pendengaran Putri, begitupun dengan Ben yang menatap bingung pada keduanya.


Dalam hati ia bertanya-tanya, seperti apakah hubungan adik kakak itu, apakah memang bermasalah, sama seperti dirinya dengan Alby.


£*****


Setelah selama 3 jam pesta berlangsung, tamu yang datang pun sudah sedikit berkurang, Putri memilih untuk istirahat sejenak, duduk di atas kursi pelaminan, karena sedari tadi kakinya sudah merasa pegal, karena tidak terbiasa menggunakan sepatu dengan hak yang terlalu tinggi.


"Kau lelah?" tanya Ben, yang kini ikut duduk disampingnya.


Putri tersenyum, lalu mengangguk pelan, membuat Ben ikut tersenyum dan menggenggam sebelah tangannya.


"Padahal nanti malam masih ada hal yang akan membuat kamu lebih kelelahan." ucap Ben sambil terkekeh kecil.


"M-maksudnya?" Putri terlihat bingung, dalam hati sudah menerka-nerka apakah pestanya akan berlanjut hingga malam hari.


"Nanti kau tahu sendiri." Ben tergelak kecil, hingga kedatangan seseorang membuatnya merubah ekpresi wajahnya seketika.


"Hai, pacar, ups!" Sandra menutup mulutnya seolah ia sedang keceplosan berbicara.


"Maksud gue, mantan pacar, eh lebih tepatnya mantan tunangan!" lanjut wanita yang tak lain adalah Sandra.


"Selamat ya Ben atas pernikahan kamu, nggak nyangka ya, tipe cewek kamu sekarang berubah gini." Sandra mengarahkan telunjuknya tepat di depan wajah Putri.


Kemudian Sandra meneliti penampilan Putri dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu sedikit menyunggingkan senyum sinis.


"Cantik sih, tapi terlalu muda, oh lebih tepatnya masih anak-anak, kalau nggak salah denger sih ya, usia kalian terpaut sebelas tahun ya, benar begitu Ben?"


"Nggak nyangka banget kan ya, seorang Ben Alberto yang dulu pemuja wanita dewasa, cantik, dan perfeksionis, eh tiba-tiba sekarang Ck, entahlah gue jadi bingung sendiri." cerocos Sandra, sedangkan baik Putri maupun Ben memilih tak peduli.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu haus, ingin aku ambilkan minum?" ucap Ben tiba-tiba membuat Sandra melongo.


"Boleh!" balas Putri dengan senyum terbaiknya.


"Ok, tunggu sebentar ya!"


Ben pun bergegas mengambil 2 gelas minuman yang tak jauh dari Arsen, Algar, dan juga Raka.


"Woi pengantin haus lo, kenapa kagak manggil gue aja sih, lo kagak lihat apa dari tadi kita bertiga ada disini, gue kan udah janji mau nemenin elo bantuin elo sampai acara selesai, gimana sih!" cercos Arsen panjang lebar.


"Gue cuman ambil minum doang, bukan ngangkat galon!" jawab Ben sekenanya.


"Ck, eh terus itu cewek drakula ngapain ada disini, emang lo undang juga?"


"Iya!" balasnya santai, seraya meneguk satu gelas minuman ditangannya.


"Lo gila?"


"Ck, gue ngundang dia supaya dia tahu, kalau gue itu benar-benar udah married."


"Tapi Ben lo nggak kasian sama bini elo?"


"Kasian kenapa?" tanyanya dengan kening berkerut.


"Ya kasian lah, dia bukannya tahu kalau cewek drakula itu mantannya elo."


"Ya pastinya dia cemburu dong, lihat mantan lo datang."


Ben mengulas senyum tipis, ''Baguslah kalau dia cemburu!" balasnya yang kemudian melengos pergi.


"Gila tuh anak, bener-bener kagak waras kayaknya." gerutu Arsen.


"Emang! lo baru tahu, kemana aja lo selama ini?" timpal Raka sembari mengelus bibir gelas yang sedang di pegangnya.


"Ini sayang minumnya!" Ben memberikan segelas minuman beraroma buah-buahan ketangan Putri dengan penuh kehati-hatian.


"Makasih kak,"


"Sama-sama sayang!"


Sementara itu, Sandra tampak sedang menahan emosi, seluruh wajahnya memerah dengan gigi bergemelatuk.


menghentakan kaki dengan keras, lalu meninggalkan keduanya.


"Ck, sialan kamu Ben, beraninya mengacuhkanku." gerutu Sandra yang kini berjalan menuju kursi tamu paling belakang mengambil segelas minuman, dan menghabiskannya dalam satu kali tegukan.

__ADS_1


Ia tak habis pikir, bisa-bisanya Ben tidak menghiraukan dirinya sama sekali.


"Bagaimana, rasanya?" ucap seseorang yang tiba-tiba duduk disampingnya, dengan tatapan lurus kedepan, menatap sepasang mempelai yang kini tengah saling melempar senyum malu-malu.


"Al, lo disini juga?"


"Ck, lo pikir gue ada dimana."


"Ya kali aja lo nggak datang, karena nggak sanggup lihat cewek yang lo cintai bersanding dengan cowok lain."


"Apalagi cowoknya adik lo sendiri." lanjut Sandra diiringi kekehan kecil.


Alby ikut menyunggingkan senyum, menatap Sandra dengan tatapan mengejek.


"Lo sendiri bagai mana?"


"Gue?" Sandra menunjuk dirinya sendiri, "gue sih biasa aja! gue nggak masalah si Ben punya istri atau nggak, itu nggak jadi penghalang buat gue mendapatkan Ben kembali."


"Lo gila?"


"Gue gila, elo salah! bukan cuma gue, tapi kita. kita sama-sama gila bukan?"


"Lo lupa si Ben udah pernah lihat elo berbagi tubuh sama gue?"


"Ck, lo bisa pelanin nggak tuh mulut sampah lo.!" Sandra menatap Alby tajam.


"Kenapa, lo takut?"


"Gue nggak takut, tapi gue muak bahas masa lalu." balas Sandra yang mulai terlihat gelisah.


"Kenapa, bukannya elo selalu merasa ketagihan?" lanjut Alby seraya mengerling genit.


"Eh bisa diem nggak lo, sumpah ya gue nyesel banget pernah berhubungan sama elo, apalagi gara-gara kesalahan itu gue harus berpisah dari Ben."


"Itu bukan kesalahan sayang." sebelah tangannya menyentuh tangan Sandra dengan perlahan.


"Lepas sialan!" Sandra semakin tajam menatapnya.


"Kenapa lo jadi jual mahal begini, bukannya lo dulu suka sama permainan gue San?"


"Heh dengar ya, dulu hubungan kita cuma sebatas partner ranjang sesaat, nggak lebih!"


Alby manggut-manggut, "ok gue mengerti, mari bekerja sama untuk mengejar cinta kita masing-masing!"


.

__ADS_1


.


__ADS_2