
Seperti yang Arfan janjikan 3 hari setelah keadaan Anita lebih baik, ia mengantarnya ke tempat pemakaman Putri yang sudah ia buat sebaik mungkin untuk meyakinkan Anita.
"Ini dia Lin, Putri kita! aku harap kamu bisa ikhlas, biarkan dia beristirahat dengan tenang." ujar Arfan yang memasang wajah sedihnya, seolah ia benar-benar tengah berduka, karena telah kehilangan Putrinya.
Sementara Anita, mencoba sekuat tenaga menahan keseimbangan tubuhnya agar tidak ambruk di tempat itu, bahkan ia tak mampu berkata apapun selain hanya bisa menangis dan sesekali mencium nisan yang bertuliskan nama putrinya.
Dan dihari-hari berikutnya Anita hanya bisa menangis dengan ke tidak berdayaannya, sementara Arfan merasa lega karena ia bisa mendapatkan salah satu dari anak mereka yang bisa ia rawat, tanpa berdebat lagi dengan mantan istrinya.
*
*
Setelah satu minggu hari-hari Anita yang dipenuhi tangisan dan air mata, hari ini ia tak ingin terus terpuruk dengan keadaan, Anita berusaha bangkit untuk melanjutkan hidupnya bersama Algar, Putra pertamanya yang saat ini membutuhkan kasih sayang yang penuh dari dirinya.
Memutuskan untuk melanjutkan niatnya untuk menemui sahabatnya, dan memintanya mempekerjakannya disana.
7 tahun Anita bekerja di butik Rere sahabatnya, dan setelah 7 tahun bekerja disana, Anita akhirnya dapat membuka dan memiliki butik sendiri, dengan di bantu Algar yang saat itu sudah beranjak dewasa.
__ADS_1
Sejak gagalnya berumah tangga bersama mantan suami, Anita tak berminat lagi untuk menikah meski saat itu ada banyak laki-laki yang ingin meminangnya. karena bagi Anita hidup berdua bersama Algar sudah cukup membuatnya bahagia.
Seiring berjalannya waktu, semakin banyak juga hal yang ingin Anita coba, ia ingin membuktikan pada mantan suaminya bahwa ia dan Algar mampu hidup dengan layak tanpa bantuannya.
Dan saat Algar mulai memasuki bangku kuliah, dengan hasil kerja kerasnya Anita dapat membangun sebuah perusahaan kecil, yang semakin berkembang besar setiap tahunnya.
Anita seorang ibu satu anak itu, terkenal dengan kedermawanan nya yang gemar membantu dan memberikan donasi ke beberapa panti asuhan, membuat para pebisnis lainnya begitu salut, dan berlomba-lomba untuk membangun kerja sama dengan perusahaan mereka.
"Mama yakin mau pindah ke Jakarta ma,?" tanya Algar sembari membantu sang mama memasukan berbagai macam barang-barang kedalam kopernya sore itu.
"Iya Al, mama merasa cape aja kalau mama harus bolak-balik Bandung Jakarta terus, apalagi perusahaan kita sekarang ini semakin pesat, dan pekerjaan mama tentu semakin banyak juga kan Al."
"Oh iya soal kamu dan teman-teman kamu, mama yakin suatu saat mereka juga akan kembali ke Jakarta, apa lagi si Arsen dan si Ben kan memang asli Jakarta Al."
"Iya ma, tapi sekali-kali kita akan mampir kesini kan ma?"
"Tentu saja, kita akan kesini, orang butik mama juga ada disini, ya kecuali kembali kerumah ini, itu tidak mungkin, karena rumah ini akan mama jual." jawab Anita yang di sertai kekehan kecil, dan tanpa sadar Algar pun ikut tersenyum.
__ADS_1
"Oh iya, saat kita tinggal di Jakarta nanti, jangan lupa lho cariin mantu buat mama, kamu itu udah dewasa Al, mama rasa sudah saatnya kamu memiliki pendamping hidup.
"Kenapa juga harus bahas itu terus sih ma, bagi Algar mama itu udah cukup jadi pendamping hidup Algar selama ini."
"Beda lah Al, kalau kamu menikah rumah akan semakin ramai, ada istri kamu yang akan menemani mama masak, shopping, curhat dan ada banyak hal lainnya, apa lagi kalau kamu punya anak mama pasti merasa lebih bahagia lagi."
"Iya ma iya, nanti kalau Algar udah dapetin wanita yang tepat pasti Algar akan menikah kok, seperti yang selalu mama inginkan selama ini." balas Algar yang membuat Anita tersenyum senang.
Apapun akan aku lakukan ma, asal itu yang membuat mama bahagia, ujar Algar yang hanya ia ucapkan dalam hati.
.
.
Tinggal beberapa chapter lagi novel ini akan segera tamat! terimakasih readers tercinta yang sudah setia mengikuti karya Author yang satu ini, jangan lupa like, komen, dan votenya ya! terimakasih ☺☺🥰
.
__ADS_1
.