
Tidak ada hal lain yang Putri inginkan seperti kebanyakan perempuan lain pada umumnya, ketika di ajak bulan madu memilih ketempat yang jauh, atau lebih tepatnya ke luar negri.
Hal tersebut tidak berlaku bagi Putri, ia justru menginginkan Ben mengajaknya ke Bandung, dimana Ben tinggal disana untuk menempuh pendidikan serta memulai karirnya selama beberapa tahun belakangan ini.
"Sayang, bisakah hari ini kita mampir kerumah orang tuamu?" ucap Ben yang kini tengah memakai baju santainya usai mandi pagi ini.
"Kenapa?"
"Kok kenapa sih, memangnya apa yang salah jika aku ingin mengunjungi rumah mertuaku sendiri."
"Nggak, maksudnya bukan begitu?"
"Kenapa, apa karena selama ini aku tidak pernah kesana, dan kini membuatmu bingung?"
"Eumz, iya terserah kakak aja."
*
Keduanya kini sudah berada di halaman rumah Arfan setelah menempuh beberapa menit perjalanan menuju tempat tersebut, dan menyempatkan mampir di salah Satu toko yang menjual makanan, sebagai buah tangan yang akan mereka bawa.
"Ayo kak, masuk!" ajak Putri, seraya menoleh kearah Ben yang tengah menelisik sesuatu yang ada di sekitarnya.
Ben memang sudah beberapa kali bertemu dengan keluarga Putri, namun saat itu ia belum peduli dengan apapun yang berhubungan dengan Putri.
Namun kesan yang Ben rasakan saat pertemuan pertamanya dengan keluarga Putri, hubungan mereka tidak seakrab yang terlihat, dan ternyata dugaannya selama ini benar, hubungan Putri Dan keluarganya memang kurang baik sama seperti dirinya.
__ADS_1
"Sayang, tunggu sebentar!" Ben menahan tangan Putri yang sudah terayun hendak mengetuk pintu Kayu berwarna coklat di hadapannya.
"Kenapa?"
"Ka_"
Cklekkk..
Pintu yang belum sempat di ketuk itu tiba-tiba terbuka, menampilkan seseorang yang hampir terlonjak seolah kaget saat melihat keduanya berada di depan pintu yang hanya diam memandanginya.
Namun di menit kemudian, seorang wanita yang tak lain adalah Evelyn yang berstatus adik tiri Putri itu, mendengus menatap Putri dengan tatapan penuh cemooh.
"Elo?! masih inget jalan pulang rupanya, ngapain lo kesini, kalau lo datang kesini mau nyari ayah, sorry ayah nggak ada dirumah." ujar Evelyn ketus, dengan kedua tangan yang ia lipat di depan dada.
"Eve, apa kabar?"
"Eve_"
"Apa, lo mau pamer ke gue kalau lo itu udah merasa hebat sekarang, elo merasa udah punya segalanya, begitu?"
"Kamu ngomong apa sih Ve, aku nggak ngerti deh!"
"Cih! Lucu, sok polos lo!"
"Eve, aku kesini ingin bertemu ayah dan ibu, bukan untuk berantem nggak jelas sama kamu kaya gini."
__ADS_1
"Apa barusan! Ibu lo bilang, heh nggak salah lo,"
"Eve_"
"Apa??"
"Apakah anda tidak bisa menunjukan sedikit sopan santun anda terhadap tamu,?" ujar Ben dengan wajah datarnya, membuat Evelyn seketika terdiam, dan memasuki rumah dengan kaki yang di hentak-hentakan.
"Kak?" Putri menggenggam tangan Ben yang sudah terkepal erat, berharap sentuhan lembutnya dapat meredakan amarah Ben yang begitu jelas terlihat dari raut wajahnya.
"Keterlaluan!"
"Eve memang begitu kak, itu udah biasa."
"Biasa kamu bilang?" repleks Ben menarik tangannya hingga genggaman tangan Putri terlepas, menghela nafas dalam lalu meletakan bingkisan yang dibawanya di atas meja yang terletak diteras.
Putri mengangguk ragu, seraya memandangi tangannya yang sedikit gemetar, sementara Ben membalikan badan melangkah kembali menuju mobilnya.
"Kak?" Putri mengejar langkah Ben, lalu memandangi wajah laki-laki yang berstatus suaminya itu, yang kini tidak seantusias tadi.
"Maaf sayang, sepertinya aku berubah pikiran, nggak apa-apa kan kalau lain waktu kita kesini lagi?" ujar Ben, dan di menit kemudian memasuki mobilnya begitu saja.
Putri menunduk dalam, ada perasaan tak enak dalam hatinya karena telah membuat Ben merasa kesal akibat ulah dari salah satu anggota keluarganya.
.
__ADS_1
.