
Sore harinya, keempat laki-laki yang memiliki perawakan tinggi itu memasuki Bar dengan raut wajah freshnya.
mencari tempat duduk dengan letak yang nyaman untuk mereka duduki.
"Lo kapan balik ke Jakarta Ben?" Algar memulai percakapan mereka terlebih dahulu, sementara yang ditanya hanya menggidikan bahu.
"Nggak kangen sama bokap lo! dia kayaknya kangen banget deh Ben sama elo?"
"Sok tahu lho!"
"Gue serius, kemarin pas gue pulang gue ketemu dia di Mall."
"Gue nggak berniat buat pulang." jawab Ben sekenanya.
"Yaudah ok, terserah lo aja!" Algar yang mengerti hubungan Ben dan keluarganya tidak baik-baik saja, memilih untuk tak melanjutkan kata-katanya, mengambil satu botol minuman dari salah satu pelayan Bar, dan menuangkannya kedalam 4 gelas.
"Njirrr, ssstttt!"
"Ck apaan sih, lepasin nggak!" Arsen menatap tajam tangan Raka yang menggenggam erat tangannya.
"Lihat dulu kunyuk, di belakang elo!" bisik Raka, sembari menggerak-gerakan alisnya.
"Apaan?"
"Tuh!" menunjuk 2 orang wanita yang tengah mengobrol disalah satu meja yang tidak jauh dari mereka, repleks Arsen mengikuti arah pandang Raka, dan ia terbelalak saat melihat salah satu dari wanita itu mengenakan pakaian yang sangat terbuka, seperti kurang bahan.
"Wow! Se xy!" ucap Arsen tanpa sadar, dengan kedua bola mata yang tak berkedip.
"Ck terpesona kan lo, tadi aja melototin gue anjir!"
"Ngeributin apaan sih lo berdua, berisik banget tahu nggak?" Algar yang sejak tadi mengobrol dengan Ben menjadi terusik akibat melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
"Tuh!" Arsen menunjuk 2 wanita itu menggunakan dagunya.
Merasa terus diperhatikan kedua wanita itu beranjak dari duduknya menghampiri meja Ben dan ketiga sahabatnya.
"Hai, boleh kita berdua bergabung? sepertinya kalian butuh teman tambahan." ujar salah seorang wanita yang menggunakan baju paling minim dan terbuka.
Arsen mengerling genit, "Dengan senang hati nona!" mengambil 2 buah kursi dari meja sebelahnya.
"Silahkan duduk!"
"Terimakasih."
"Kenalan boleh dong!" lanjut Arsen seraya mengulurkan tangannya, yang disambut dengan riang oleh wanita dihadapannya.
"Arsen."
"Sonia."
"Wow, nama yang cantik, seperti orangnya!" Arsen mencium punggung tangan wanita itu tanpa merasa canggung sedikitpun, membuat Raka dan Algar mendelik kesal, dan segera menarik paksa tangannya, melepaskannya dari tangan Sonia.
__ADS_1
"Sialan lo berdua,"
"Kenalin cantik, aku Raka."
"Algar!" lanjut Algar menepis kasar tangan Raka, yang membuat Sonia tersenyum geli.
Sementara Ben memilih beranjak dari duduknya.
"Mau kemana lo, jangan bilang lo mau pulang, anjir nggak asik lo!" Arsen menahan pergelangan tangan Ben saat laki-laki itu mulai melangkah meninggalkan meja.
"Toilet!" jawabnya singkat.
10 menit berada didalam toilet sudah cukup membuat pusing dikepala Ben sedikit berkurang, dan memutuskan untuk kembali bergabung dengan teman-temannya.
Ben berjalan dengan sedikit menunduk, memasang jam tangannya yang sempat ia lepas saat mencuci wajahnya tadi.
Brukkk..
"Maaf, anda tidak apa-apa?" tanya Ben.
"Tidak, tidak apa-apa!" jawab wanita itu santai, dan tersenyum canggung.
"Eh, bukannya kamu temannya wanita yang berada di meja tadi, betul?" tanya Ben setelah memastikan bahwa ia memang tak salah lihat.
"I-iya!"
"Sekali lagi saya minta maaf!"
*****
Sejak hari itu, Ben lebih sering mendatangi tempat tersebut, tak perduli disaat teman-temannya berada disana atau tidak, dan bulan berikutnya ia memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya pada Sandra, yang dibalasnya dengan perasaan yang sama.
Ben tak segan-segan mengenalkan Sandra wanita yang menurutnya sangat tepat untuk menjadi pendampingnya itu kepada kedua orang tuanya, sebagai bukti pada Sandra bahwa ia benar-benar serius dengan perasaannya.
"Siapa dia Ben?" ucapan Maura terlontar begitu saja, ketika melihat diambang pintu rumahnya Ben tengah menggandeng seorang wanita yang sudah berulang kali ia lihat di beberapa tempat.
"Ini Sandra ma, Ben akan segera menikahinya."
"Ikut mama!" menarik pergelangan tangan Ben menuju ruangan tengah.
"Ben, kamu jauh-jauh datang dari Bandung hanya untuk mengenalkan perempuan itu pada mama,?"
"Salahnya dimana?!" tanya Ben tidak mengerti.
"Mama tidak setuju."
"Ma?"
"Ben, dengarkan mama, mama hanya ingin yang terbaik buat kamu, dia bukan gadis baik-baik Ben."
"Mama tahu dari mana, kenapa mama menyimpulkan seperti itu?" Ben tak terima.
__ADS_1
"Mama sering melihat perempuan itu berada di Jakarta, dan dia selalu bersama laki-laki yang berbeda, mama yakin mama tidak salah lihat Ben."
"Ben yakin itu hanya perasaan mama!"
"Jadi kamu tidak mempercayai mama?"
"Ben kesini hanya ingin mama tahu, bahwa Ben akan segera menikahinya dalam waktu dekat."
"Ben?"
"Izinkan Ben menikahinya ma!" ujar Ben memohon, membuat Maura menyentak nafasnya frustasi.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat."
"Apa itu?"
"Kamu selidiki kehidupan dia terlebih dahulu, jika selama satu bulan itu kamu tidak mengetahui apapun, maka kamu boleh menikahinya."
Setelah berperang dengan hatinya selama beberapa menit akhirnya Ben menyetujui syarat yang diajukan sangat mama.
"Baiklah! kalau begitu Ben pamit pulang ma!"
"Yasudah hati-hati dijalan." Maura mengusap kepala Ben yang tengah menunduk menyalami dan mencium punggung tangannya, ada perasaan rindu yang menggunung dalam hati Maura, namun ia begitu sulit mengungkapkannya.
"Pulang juga lo?" ujar seseorang yang berada dibelakangnya, yang seketika membuat langkah Ben terhenti detik itu juga.
"Bawa cewek, lo pikir lo bisa melangkahi gue terlebih dulu Ben, nggak akan gue biarkan!"
Tak ingin berdebat, Ben memilih mengabaikan ucapan Alby dan melanjutkan langkahnya untuk segera pulang bersama Sandra.
********
Keduanya terlihat tampak serasi dan bahagia, Ben selalu memberikan apapun yang Sandra inginkan, karena bagi Ben Sandra adalah segalanya.
Hingga suatu hari tepat saat hubungannya dengan Sandra melangkah ke tahap yang lebih serius, bahkan Ben sudah menetapkan tanggal pertunangannya ketiga sahabatnya tidak sengaja memeregoki Sandra yang tengah bermesraan dengan Alby, kakak dari Ben sendiri.
Awalnya Ben tak percaya, hingga suatu hari ia membuktikan sendiri ucapan sahabatnya.
Sore itu Ben hendak menemui Sandra untuk memperlihatkan cincin tunangan mereka yang baru saja diambilnya dari toko yang pernah mereka datangi untuk memesan cincin tersebut,
Ben sengaja tidak memberi tahu Sandra terlebih dulu prihal kedatangannya ke Apartemen miliknya.
Mengetikan sandi untuk membuka pintu Apartemen Sandra yang tentu sudah ia ketahui, karena sebelumnya sudah diberi tahu oleh Sandra sendiri.
Melangkah pelan dengan penuh senyuman yang menghiasi wajahnya, tanpa memikirkan bahwa ia akan mendapat kejutan tak terduga dari kekasihnya.
Ben mengedarkan pandangannya ke setiap sudut Apartemen yang terasa sunyi senyap seperti tak berpenghuni, lalu melanjutkan langkah menuju kamar Sandra tanpa berteriak memanggil namanya.
Hingga suara-suara aneh dari kamar Sandra membuat tubuh Ben membeku seketika.
.
__ADS_1
.