
Saat perjalanan pulang dari kantor, Ben memutuskan untuk mampir terlebih dahulu di pondok sate milik pak Cipto, mengajak serta istri kecilnya untuk makan disana, ia yakin istrinya pun merasa lapar karena sejak pulang kuliah tadi ia belum memakan apapun sama seperti dirinya.
Pekerjaan yang ia yakini akan menghabiskan waktu 15 menitan nyatanya malah menghabiskan waktu hingga satu jam lebih.
Seperti biasa Ben memesan sate untuk dirinya sebanyak 2 porsi, dan satu porsi untuk Putri.
"Ben, lo disini juga? anjirr tahu gitu tadi gue samperin lo kekantor bareng si Raka sama si Algar."
"Ngomong-ngomong sama siapa lo kesini, bini?" lanjut Arsen yang kini berdiri dibelakangnya hendak memesan sate.
"Sorry, gue sih nggak ada rencana dari sebelumnya mau kesini."
Arsen memicingkan mata, "lah terus?"
Terlihat Ben yang sedikit kebingungan, dengan pertanyaan sahabatnya.
"Lo bener, gue bareng bini!" balasnya yang langsung melengos pergi menuju meja dimana istrinya berada.
"Wasyeek, di akui juga sekarang!" ucap Arsen berbicara sendiri seraya terkekeh kecil.
"Lama banget lo, mampir kemana dulu?" tanya Algar yang sedang memakan kerupuk yang disediakan pak Cipto didalam kaleng disetiap masing-masing meja.
"Beli cangkul dulu!" jawab Arsen sekenanya.
"Hah?" Algar dan Raka terlihat bingung, dengan mulut menganga.
Sementara Arsen mematahkan kerupuk hingga dua bagian lalu menyumpal mulut kedua sahabatnya dengan kerupuk tersebut, hingga keduanya terperanjat kaget.
"Anjirr, sialan!" umpat keduanya bersamaan, namun tak lantas membuang kerupuknya, melainkan malah memakannya.
"Gue tadi ketemu sama si Ben."
"Hah, dimana?" sahut Algar dan Raka bersamaan.
"Ck, kompak banget lo berdua, gue kasih gelar juga nih!"
"Duo kecebong."
"Ck!"
"Tuh dia di pojok sana!" Arsen menunjuk keberadaan Ben menggunakan dagunya, membuat Algar dan Raka mengikuti arah pandangannya.
"Beuuhhh, kemarin aja bilangnya kagak sayang! eh sekarang malah dia yang nggak bisa berpaling." Raka mencibir sembari memperhatikan cara Ben menatap istrinya.
"Ck, lain di bibir lain di nanti, mana mungkin dia tahan sama pesona nya Putri!" timpal Algar.
"Dihati be go, bukan di nanti!" Raka menyela.
"Elahhh, melenceng dikit! ribet lo."
"Bener yang gue bilang kan, lama-lama tuh bocah jatuh cinta juga sama bininya, lagian dulu dia nggak mikir apa ya sebelum bertindak, otak buntu emang!" Arsen bersungut-sungut.
__ADS_1
"Iya persis kaya elo ke si Vanya kan dulu." ucap Raka, yang seketika membuat raut wajah Arsen berubah sendu.
"Lo apaan sih?" bisik Algar sembari menendang kakinya.
"Sorry, gue keceplosan!" balas Raka yang tak kalah berbisik.
*****
Setelah 10 menit menunggu, akhirnya pesanannya sudah jadi, dan di sajikan di atas meja dihadapan Ben dan Putri oleh salah satu karyawan pak Cipto.
Ben terlihat berbinar, dan segera menikmati makanan favoritenya itu dengan sangat lahap.
Sementara Putri hanya melihatnya dengan bertopang dagu, melihat suaminya makan dengan lahap pun sudah membuatnya merasa kenyang, terlebih porsinya yang membuat Putri menggeleng-gelengkan kepala.
"K-kak?" Putri terlihat ragu untuk bertanya.
Ben yang sedang mengunyah pun cepat-cepat menelan makanannya.
"Kenapa?" tanyanya terlihat bingung, khawatir jika Putri tidak menginginkan makanannya, terlebih saat ia melihat piringnya yang masih utuh dengan 15 tusuk sate.
"Uhmz, bagaimana hubungan kak Ben dengan kak Alby, apa sudah lebih baik, kalian berbaikan?"
"Kita bisa bicarakan ini lain waktu, untuk sekarang makanlah dulu, habiskan makananmu." ujar Ben yang berubah dingin, membuat Putri memilih diam dan memaksakan diri untuk tetap memakan makanannya.
Keduanya makan dalam hening, bahkan suara gelak tawa Arsen, Raka dan Algar, yang terhalang oleh 3 meja itupun tak mampu membuat keadaan terasa riuh.
Sesekali Putri melirik Ben dengan sedikit canggung, pasalnya laki-laki itu kini memasang wajah datar dan tanpa ekpresinya.
"Kita pulang sekarang!" ujar Ben setelah memastikan Putri memakan seluruh makanannya.
"Kamu ke mobil duluan!" lanjutnya lalu melangkahkan kaki menuju dimana pak Cipto berada, untuk membayar makanannya tadi.
******
"Ada tempat yang ingin kau singgahi?" tanya Ben di tengah-tengah keheningan yang tercipta diantara keduanya.
Hening..
Putri tak menjawab, dengan wajah yang masih menghadap keluar melalui kaca mobil.
Sementara Ben masih menunggu jawaban dari Putri, sembari melambatkan laju kendaraannya.
Gemas tak mendapat respon apapun, Ben menepikan sejenak mobilnya, menoleh kearah Putri yang masih berada di posisi semula.
"Kenapa?" tanya Putri saat menyadari mobil yang ditumpanginya telah terhenti.
"Kamu tidak dengar yang aku ucapkan tadi?"
"Hah, soal apa?" tanyanya bingung, sedangkan Ben terlihat menarik nafas dalam, dan mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Maaf!" Putri menunduk lesu.
__ADS_1
"Baiklah, saya akan ulangi pertanyaan saya tadi! apakah kamu ingin singgah disuatu tempat, butik, mall, misalkan?"
Putri tampak berpikir, sesekali menoleh kearah Ben yang raut wajahnya sudah berubah lebih baik dari pada saat ia hendak pulang dari pondok sate tadi.
"Ke mini market boleh?"
Ben menganggukan kepalanya, "tentu saja!"
Sesampainya di mini market, Putri sibuk mencari sesuatu yang ia cari, sementara Ben menunggunya di luar.
"Hai cantik, kamu disini juga, bareng si Ben?" tanya seseorang yang berdiri disampingnya.
"Eh, kak_"
"Algar, masa lupa sih?"
"Euhmz iya, tapi bukannya kak Algar tadi lagi di pondok sate juga, kok udah disini aja!"
"Saya tadi kesana sekalian jemput mama saya yang lagi di butik, terus waktu perjalanan pulang, dia meminta saya untuk mampir sebentar kesini, oh iya si Ben kemana?"
"Euhmz begitu, kak Ben nunggu diluar."
"Ngomong-ngomong mana mamanya?" lanjut Putri ingin tahu.
"Tuh lagi nelpon," menunjuk sang mama yang tengah berdiri membelakangi nya dengan jarak 5 meter dari tempat keduanya berada.
"Yasudah kalau begitu saya duluan ya kak."
"Lho, memangnya sudah selesai belanjanya?" melirik keranjang Putri yang hanya berisi suplemen serta minuman herbal yang ia tidak mengerti untuk apa kegunaannya.
"Nggak mau nungguin mama saya selesai menelpon dulu, nanti saya kenalin, saya sudah pernah bilang kan wajahnya mirip kamu."
"Maaf kak, mungkin lain waktu, saya khawatir kak Ben akan marah kalau saya berlama-lama disini."
Algar yang mengetahui sikap Ben terhadap Putri bagaimana, tentu ia sangat mengerti.
"Yasudah nanti lain kali kita ketemu diwaktu yang tepat."
"Baik kak, saya permisi!" pamitnya, lalu melangkah menuju kasir.
"Kamu udah selesai Al?" tanya wanita paruh baya yang berstatus mamanya itu.
"Eh udah ma!" Algar menunjukan keranjang yang ia bawa.
"Hanya itu?" menatap keranjang Algar yang berisi deodorant dan pencukur bulu halus.
Algar mengangguk, sembari mencari-cari sosok Putri yang tidak lagi terlihat keberadaannya.
.
.
__ADS_1