
Usai makan malam, Anita mengajak Putri ke kamarnya dengan alasan untuk membantunya memberikan pendapat tentang beberapa desain koleksi terbaru untuk butiknya.
Sementara Ben dan Algar memilih mengobrol di samping kolam renang rumah Anita yang memang sangat luas dan indah, dan dikelilingi lampu hias disekitarnya.
"Ini kamar tante, euhmz Putri nggak apa-apa nih masuk kesini tan?" ujar Putri yang kini masih berdiri diambang pintu kamar dengan perasaan canggung.
"Iya ini kamar tante, makanya nggak usah canggung, ayok!" Anita berbalik menggandeng tangan Putri lalu menyuruhnya untuk duduk di tepi ranjangnya.
"Tante di rumah ini hanya tinggal berdua?" tanya Putri sembari mengamati setiap sudut kamar tersebut, sementara Anita mencari sesuatu yang ingin ia tunjukan kepada Putri.
"Tante tinggal berempat kok sayang, ada Algar, bi Hanum dan juga mang Deden, penjaga gerbang depan."
"Oh iya ini desain yang mau tante tunjukin, gimana menurut kamu sayang, cantik nggak?" tanya Anita yang kini ikut duduk di samping Putri dengan tangan yang sibuk membuka beberapa lembar kertas hasil desainnya.
"Bagus banget tante, cantik! dari dulu aku pengen banget jadi desainer yang terkenal, makanya saat kak Ben nawarin aku buat lanjut kuliah, rasanya benar-benar senang."
"Padahal sebelumnya aku udah mengubur dalam-dalam impianku, tapi ternyata aku masih dikasih kesempatan untuk menggapainya, nggak nyangka banget tan." lanjut Putri yang begitu antusias saat menceritakannya.
Sementara Anita tampak terkejut, menatap wajah Putri yang memang terasa tidak asing baginya, dari sejak awal pertemuan mereka.
"Kenapa memangnya,?"
"Maksud tante, kenapa Putri sempat mengubur impiannya?"
Terlihat Putri menghela nafasnya menoleh kearah Anita dengan senyum manis seperti biasanya.
"Karena masalah ekonomi tan, terlebih karena saya masih memiliki dua orang adik perempuan yang juga harus sekolah dan kuliah."
"Adik,?"
__ADS_1
"Iya tan."
"Oh iya, tante mau tanya sesuatu boleh?" tanya, Anita dengan sangat hati-hati karena khawatir jika perkataanya melukai perasaan Putri.
"Boleh tante, tante mau tanya soal apa?"
"Euhmz, kemarin kan tante belum sempat ketemu sama kedua orang tua Putri, Kira-kira kemarin itu mereka ada disana juga nggak ya?"
"Oh ibu sama ayah ada kok tan, cuma pas tante datang mereka berdua lagi ngambil minuman."
"Euhmz begitu ya!"
"Oh iya sebentar ya sayang, tante mau ke kamar Algar dulu, Putri tunggu disini aja jangan keluar dulu ya!"
"Iya tante."
Hingga ia berpikir untuk merubah posisi barang-barang yang ada di kamarnya dan juga Ben saat ini.
Deg!
Putri tertegun, saat kilasan matanya tak sengaja menangkap pemandangan yang membuatnya terasa seperti sedang senam jantung.
Tepat disamping jam dinding yang menempel kokoh di dinding kamar itu terdapat sebuah foto berukuran sedang, yang ia yakini adalah foto Anita saat masih muda sedang memeluk seorang anak laki-laki dari belakang.
"Itu_ itu bukannya_" Putri beranjak dari duduknya menghampiri foto tersebut agar bisa melihatnya dari jarak yang sangat dekat, sekaligus untuk memastikan bahwa ia memang tidak salah lihat.
Sementara di tempat yang berbeda, di sebuah kamar yang didominasi putih abu, usai melihat nama orang tua pengantin yang tertera didalam undangan tubuh Anita lunglai, dan tanpa sadar ia terduduk lemas diatas ubin, dengan jantung yang berdebar sangat hebat.
"Seharusnya dari sejak kemarin aku melihatnya, tapi kenapa baru sekarang aku kepikiran." lirih Anita yang kini mulai terisak, mengusap kedua bola matanya yang mengeluarkan buliran-buliran bening yang membanjiri kedua pipinya.
__ADS_1
Dan setelah merasa sedikit tenang, ia pun segera beranjak kembali menuju kamarnya.
"Sayang,?" Anita menghampiri Putri yang telah kembali ke posisi semula, yaitu duduk tenang di sisi ranjang.
"Iya tan." Putri mendongak, hingga netra keduanya bertemu saling mengunci dengan perasaan yang sama-sama bergetar.
"Oh iya tante maaf, itu_ maksud Putri foto yang digantung itu apakah fotonya kak Algar waktu kecil atau bukan?" tanya Putri menunjuk kearah foto tadi menggunakan ibu jarinya.
"Eh, euhmz iya sayang, itu fotonya Algar waktu kecil, kira-kira waktu dia umur 11 tahunan, kenapa memangnya nak?" balas Anita, yang kini kembali duduk disamping Putri.
"Tante maaf sebelumnya jika aku berkata lancang, tapi apakah tante memiliki anak yang lain selain kak Algar?"
Deg!
Anita tampak gelagapan mendengar pertanyaan dari Putri, dan repleks memalingkan wajahnya.
"Begini sayang, tante_ tante memang memiliki anak lain selain Algar, dia_ dia seorang anak perempuan."
Deg!
Kini gantian Putri yang tampak gugup, namun ia berusaha untuk terlihat tenang.
"L-lalu kemana dia tan, maaf sekali lagi?"
"Tidak apa-apa sayang, kalau Putri mau tahu, tante akan ceritakan sekarang."
.
.
__ADS_1