
Algar menghela nafasnya beberapa kali sebelum ia menceritakan segala sesuatunya terhadap Ben.
"Saat pertama kali gue lihat dia datang bersama lo, ada sesuatu yang berbeda dalam diri gue, terutama setelah gue memperhatikan setiap inci wajahnya."
"Untuk pertemuan pertama, gue masih bisa berusaha untuk menahan, dan gue anggap itu semua cuma kebetulan doang, "
"Tapi pertemuan-pertemuan berikutnya keyakinan gue justru semakin bertambah saat gue nggak sengaja lihat tanda lahir yang berwarna kemerahan di ujung kelingking tangan kirinya,"
"Gar, kapan lo sering ketemu Putri?" tanya Ben penasaran.
Algar tersenyum kecut, "Sering banget, sewaktu dia baru-baru masuk kuliah, di saat elo belum bisa menerima dia sebagai istri lo."
Deg!
"Gue sering berpapasan dijalan saat dia sendirian nungguin Taxi yang tak kunjung lewat."
Deg!
Lagi-lagi Ben di buat tertegun dengan rentetan kalimat yang diucapkan Algar, yang seolah menjadi pukulan telak baginya, dan membuatnya merasa bagaikan seorang suami yang benar-benar tidak bertanggung jawab kala itu.
"Dan setelah gue selidiki, ternyata benar! dia_ adek kesayangan gue."
"Gue juga baru tahu ternyata, Ayah tinggal di Jakarta juga, karena semenjak mereka berdua pisah, gue nggak tahu dan nggak pernah mau tahu kabar tentang dia." ujar Algar, yang kemudian beranjak dari duduknya.
"Dan untuk lo Ben, jujur gue kecewa banget!"
Deg!
Ben ikut berdiri, menatap wajah Algar, yang kini memasang wajah permusuhan.
"Elo udah buat adek gue menderita selama ini, lo bajingan Ben!" Algar menarik kerah kemeja Ben, dan hendak mengangkat tangan kanannya untuk mendaratkan sebuah pukulan. namun urung, saat Putri tiba-tiba saja datang menghampiri keduanya.
"K-kak?"
Repleks Algar pun melepaskan cengkraman nya dari kerah kemeja Ben, memalingkan wajah dengan hati bergemuruh, menahan amarah yang belum sempat tersalurkan.
Sementara Ben menghampiri istri kecilnya, dengan senyum termanis yang ia miliki.
"Kenapa kesini sayang, udah ngobrolnya?"
__ADS_1
Putri menganggukan kepala, "Udah kak,"
"Yaudah kalau gitu kita pulang sekarang ya!"
"Hmmm."
"Kak, kita pamit pulang dulu ya, makasih lho jamuan makan malamnya." ujar Putri menatap Algar yang dibalas senyuman olehnya.
"Thanks Gar, gue pulang dulu!" ujar Ben, sementara Algar hanya diam dengan tatapan horornya.
"Kak, tante Anita ada didepan, pamitan dulu gih!"
"Aku udah barusan." ujar Putri saat Ben menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
"Yaudah, kamu masuk duluan ke mobil ya, tunggu aku disana."
"Ok."
Setelah memastikan istrinya masuk mobil, Ben melangkah mendekati Anita yang tengah berdiri di teras rumah dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
"Tante, Ben pulang dulu ya, makasih buat undangan makan malamnya," ujar Ben seraya mencium punggung tangan Anita, yang selalu ia lakukan seperti biasanya.
"Sama-sama Ben, sering-seringlah datang kesini, sekalian ajak Putri juga."
"Tunggu Ben!"
Ben yang hendak melangkah pun terhenti, kembali membalikan tubuhnya menghadap Anita.
"Iya tan."
"Tolong jaga Putri baik-baik ya, tante sayang sekali sama dia."
"Baik tan," balasnya seraya mengangguk, dan melanjutkan langkahnya.
*
*
Saat perjalanan menuju pulang kerumahnya, tak sedikitpun Ben bersuara, selain hanya fokus mengendalikan kemudi dengan hati yang berkecamuk, memikirkan bagaimana nasib pernikahannya dengan Putri kedepannya.
__ADS_1
Setelah kebenaran itu benar-benar terungkap, Ben yakin Algar tidak akan tinggal diam, perlakuan buruknya saat itu terhadap Putri, jelas Algar tahu betul, karena ia sering menceritakannya.
Sungguh ia tak ingin berpisah dengan Putri, yang notabene nya benar-benar sudah mengisi sepenuhnya hati yang ia miliki.
"Kak,"
"Kak?? "
"Eh iya sayang, kenapa?"
"Kak Ben, melamun?"
"Ng-nggak sayang, maaf aku terlalu fokus nyetir, sampai nggak denger kamu ngomong, ada apa sayang?"
"Tadi itu kak Algar kenapa sih, kok kaya yang lagi marah gitu, kalian berantem.?" tanya Putri yang membuat Ben gelagapan.
"Kamu bercanda sayang, nggaklah! mana ada kita berantem, "
"Baguslah kalau nggak berantem, pokoknya jangan sampai, kalian kan sahabatan udah lama, kalau ada masalah cobalah dibicarakan baik-baik."
"Iya sayang!" Ben mengacak gemas rambut istrinya, yang semakin hari membuatnya semakin tidak bisa berpaling.
*
*
"Sayang?" Ben memeluk tubuh mungil Putri yang hendak berbaring, bersiap untuk tidur, menoleh menatap wajah Ben yang berada di sampingnya.
"Kenapa kak, kak Ben mau?" tanyanya, yang membuat Ben tersenyum geli, menciumi wajah istrinya tanpa henti.
"Sayang aku mau nanya serius." ujar Ben usai menyudahi menciumi wajah istrinya itu.
"Iya, soal apa?"
"Kamu beneran sayang nggak, cinta?"
"Sama aku?" lanjut Ben, dengan jantung yang berdegup kencang.
Sementara Putri tertawa kecil, menutup mulut dengan kedua tangannya, merasa lucu dengan tingkah Ben yang tidak biasa itu.
__ADS_1
.
.