Terpaksa Menikahi Gadis Cacat

Terpaksa Menikahi Gadis Cacat
Masa lalu Alby 2


__ADS_3

Tak memiliki pilihan lain, Putri pun akhirnya menerima tawaran dari Alby, untuk diantarkan pulang olehnya.


"Tunggu!" Alby menahan sebelah tangan Putri yang hendak keluar dari mobilnya ketika sudah berada didepan rumah gadis itu.


Tak mengatakan apapun, tapi gadis itu memandangnya dengan sorot bertanya.


"Jadi bagaimana, kita sudah bisa berteman sekarang?"


"Boleh kita berkenalan!" lanjut Alby bersemangat.


"Baiklah!" jawabnya kemudian, setelah beberapa menit menimbang-nimbangnya terlebih dahulu.


Alby tersenyum penuh kemenangan, lalu mengulurkan tangan kanannya.


"Alby!"


Putri mengangguk, dan bergegas keluar dari mobil.


"Hei cantik, kamu belum memberi tahukan namamu!" teriak Alby saat melihat gadis itu pergi begitu saja.


Putri memutar tubuhnya kembali menatap Alby, "Putri." balasnya singkat, sebelum kemudian menghilang dibalik gerbang pintu rumahnya.


"Putri, nama yang cantik secantik orangnya!"


Alby semakin mengembangkan senyumnya sambil bertekad dalam hati harus mendapatkan hati gadis itu bagaimanapun caranya.


******


Keesokan paginya Alby benar-benar membuktikan ucapannya, menyuruh seseorang untuk mengantarkan motor milik Putri kerumahnya.


"Semuanya berapa kak?" tanya Putri sembari mengeluarkan dompetnya dari dalam tas sekolah.


"Tidak usah, saya tidak mau uang."


"Tapi saya tetap harus membayarnya."


"Saya bilang saya tidak mau."


"Tapi_"


"Jika kamu ingin mengucapkan rasa terimakasih kamu, kamu boleh menggantinya dengan cara yang lain." potong Alby tersenyum penuh arti.


"D-dengan cara apa?"


"Makan malam dengan saya, bagai mana?"


"Tapi_"


"Saya tidak akan memaksa kalau kamu tidak mau." balas Alby memperlihatkan wajah sendunya.


Putri menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan, "Baiklah, kapan?"

__ADS_1


"Hah?" Alby mematung dengan kedua bola mata yang membulat sempurna, tak menyangka jika Putri akan menerima ajakannya dengan mudah.


"J-jadi kamu bersedia?"


"Hmm, tapi saya cuma punya waktu dari jam 6 sampai jam 8 malam, lewat dari jam itu saya tidak bisa."


"Ok, ok itu sama sekali tidak masalah, baiklah nanti malam jam 18:30 saya akan menjemput kamu." ujar Alby sumringah.


"Baiklah saya tunggu!"


**********


Alby membawa Putri kesebuah restaurant besar yang belum pernah ia datangi sebelumnya, sedikit canggung saat ia menginjakan kaki untuk pertama kalinya disana, merasa tidak pantas sekaligus tak nyaman, namun ia berusaha terlihat baik-baik saja, dan ingin segera menyelesaikan makan malamnya yang ia anggap sebagai hutang untuk pembayaran perbaikan motornya terhadap Alby.


Setelah memesan makanan pada pelayan Resto, keduanya saling terdiam, menciptakan keheningan yang teramat.


Alby yang biasa lebih banyak bicara pun mendadak canggung, padahal itu bukan kali pertama ia berkencan dengan seorang wanita, sudah tak terhitung wanita yang sudah pernah bersamanya yang bahkan kebanyakan dari mereka selalu berakhir di ranjang yang sama.


Namun kali ini terasa berbeda, gadis yang berada dihadapannya begitu spesial bagi Alby, dan ia sama sekali tidak berniat untuk merusaknya.


"Euhmmz!" Alby berdeham keras berusaha mencairkan kecanggungan diantara mereka.


"K-kamu sudah punya pacar?" tanya Alby to the point, yang membuat Putri menatapnya dengan dahi berkerut.


Terlihat Putri melengos, sedikit gelagapan karena bingung harus menjawab apa.


"Saya tebak, kamu belum punya pacar kan, atau belum pernah pacaran sama sekali." lanjut Alby seraya mengulum senyum.


"Euhmmz saya_ untuk apa menanyakan soal itu." balas Putri memberanikan diri, bahkan ia memasang wajah datar tanpa ekpresi, meski dalam hatinya gugup bukan main.


"Kalau iya kenapa, dan kalau tidak juga kenapa?"


Alby kembali mengulum senyum, "Kalau iya saya kecewa, tapi saya tidak akan menyerah dan mau kalah, dan kalau jawabannya tidak saya sangat senang!"


"Hah?" Putri termangu, mencerna kata demi kata yang di ucapkan oleh Alby.


"Sudahlah lupakan, makanlah! bukankah kamu bilang waktu kamu sangat terbatas.?"


"Hmmz."


"Kalau boleh tahu alasannya kenapa, apakah orang tua kamu tidak mengizinkan kamu pulang larut, apa saya harus meminta izin dulu kepada mereka?"


"Eh nggak, bukan begitu! saya membatasi waktu karena setiap malam saya harus pergi kerumah pak Rt untuk mengajari anaknya belajar."


"Semacam guru les?"


"Hmmz, bisa dikatakan begitu."


Alby menganggukan kepala, dengan kedua tangan yang mencengkram meja, "Kamu benar-benar gadis luar biasa, cantik, rajin dan mandiri."


Putri terkekeh pelan, "Mandiri karena keadaan kak."

__ADS_1


Keduanya pun larut dalam obrolan, hingga hampir melewati batas waktu yang ditentukan.


********


Hari demi hari keduanya pun semakin dekat, Putri yang dianggap Alby adalah gadis pendiam dan tertutup, namun ternyata setelah ia mengenalnya, gadis itu gadis periang dan mudah akrab.


Dan Alby sangat menyukainya.


3 bulan kebersamaan mereka, Alby bertekad untuk menyatakan perasaannya, menurut yang ia rasakan Putri sangat perhatian selama ini, dan ia yakin Putri sendiri memiliki perasaan yang sama terhadapnya.


Dan benar saja, meski awalnya gadis itu terlihat ragu, namun pada akhirnya ia menerima Alby sebagai kekasihnya.


Namun baru saja mereka memulai hubungannya selama beberapa bulan, Putri harus menerima kenyataan pahit bahwa dirinya harus merelakan Alby menikahi perempuan lain atas permintaan Maura mamanya Alby.


"RI, maukah kau menikah denganku,?" pinta Alby yang tampak putus asa.


"Maaf kak, kenapa secepat ini aku masih harus melanjutkan sekolah." balas Putri sendu.


"Tapi mama meminta agar aku segera menikah Ri, kamu tahu sendiri usiaku hampir 30an."


"Baiklah aku mengerti, tapi bisakah kakak menunggu sampai aku lulus sekolah beberapa bulan lagi."


"Tidak bisa, mama mau aku menikah sekarang."


"Kak?"


"Aku minta maaf Ri, hubungan kita harus berakhir sampai disini!"


"Kak Alby tidak mau menungguku, sebentar lagi?"


Alby menggeleng, "Maaf tidak bisa."


"Kak Alby tidak mau mempertahankan hubungan kita?" tanya Putri yang mulai berkaca-kaca.


Alby menghela nafas beratnya, menatap gadis dihadapannya dengan perasaan tak tega, tetapi ia juga memikirkan masa depannya, ia tak mau kehilangan semuanya hanya karena satu wanita, karena ia yakin dengan semua yang ia miliki, ketampanan, kekayaan dan kekuasaannya semua wanita akan bertekuk lutut padanya.


Sedangkan jika ia terus mempertahankan Putri, ia tak akan memiliki apapun, karena selain mamanya tak setuju ia memiliki kekasih anak sekolah, ia juga akan kehilangan hak warisnya.


"Mungkin suatu saat akan ada seseorang sebagai penggantiku, maafkan aku Ri, aku akan menikahi Alisa sesuai permintaan mama." setelah mengatakan itu Alby pun bergegas meninggalkan Putri tanpa menoleh lagi kearahnya.


Sementara itu Putri luruh terduduk lemas memegangi pintu gerbang rumahnya yang belum sempat ia buka.


Marah, kecewa, sakit, bercampur sesak, yang Putri rasakan saat ini, ia tak menyangka bahwa pada akhirnya ia dan Alby akan berpisah disaat ia mulai membuka hatinya untuk laki-laki itu.


.


.


Hallo readers tercinta๐Ÿฅฐ semoga semuanya selalu dalam keadaan sehat ya! ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


Terimakasih yang sudah mampir, meninggalkan jejak, like dan komen nya. โ˜บ

__ADS_1


.


.


__ADS_2