Terpaksa Menikahi Gadis Cacat

Terpaksa Menikahi Gadis Cacat
Penyesalan Maura


__ADS_3

"Maaf ma, Putri pamit ke belakang ya, kepala Putri agak pusing." pamit Putri beralasan, agar ibu dan anak di hadapannya itu bisa mengobrol berdua dengan leluasa.


"Kamu pusing sayang, mau ke Dokter?" tanya Ben dengan nada yang terdengar sangat khawatir, lalu menghampiri sang istri.


"Nggak_ nggak kak, pusing dikit mungkin butuh istirahat aja." Lagi-lagi Putri beralasan.


"Tapi_"


"Kak, nggak apa-apa, beneran deh! kakak lanjut ngobrol aja ya sama mama." potong Putri sembari melihat kearah Maura yang juga ikut berdiri hendak menghampirinya.


"Sayang kamu yakin nggak apa-apa, mama setuju deh sama sarannya Ben, mending ke Dokter aja ya!"


Putri menggeleng seraya tersenyum kecil, untuk menunjukan pada keduanya bahwa ia baik-baik saja.


"Cuma butuh istirahat ma, nggak perlu ke Dokter."


"Yasudah kalau begitu, Ben antarkan lah istrimu ke kamar, biar dia istirahat, ibu hamil itu memang harus banyak-banyak istirahat, jangan sampai kecapean."


Ben menurut, memapah istrinya menuju kamarnya, "Istirahatlah sayang!" Ben mengecup kening Putri sekilas lalu duduk disisi ranjang.

__ADS_1


"Lho, kok kakak ikut duduk? balik lagi ke mama gih, kasihan lho mama." protes Putri, seraya mendorong pelan tubuh Ben.


"Mau nemenin kamu dulu sayang, mana tahu kan muntah-muntah lagi kaya kemarin."


"Nggak kak, udah deh temenin mama aja gih, gak sopan lho ninggalin tamu sendirian." ujar Putri seraya mendorong tubuh Ben agar keluar dari kamar.


"Ck, iya-iya." balasnya dengan penuh keterpaksaan.


****


****


"Ben?" ujar Maura pelan sembari menatap putra keduanya dengan tatapan yang sulit di artikan, ada banyak hal dalam benaknya yang ingin ia keluarkan, hingga membuatnya bingung untuk memulai pembicaraan.


Hening...


Lama Maura terdiam, dan setelah beberapa menit kemudian ia mulai terisak, mengusap beberapa kali buliran bening yang memaksa untuk terjun bebas di kedua pipinya, membuat Ben bingung dan merasa serba salah.


"Ma?"

__ADS_1


"Mama minta maaf Ben, dengan semua yang terjadi dan yang mama lakukan terhadapmu di masa lalu."


"Maafkan mama, karena mama sudah menjadi seorang ibu yang gagal untuk semua anak-anak mama, terutama untuk kamu, mama gagal mendidik Alby, mama salah karena terlalu memanjakan dan membelanya dalam segala hal."


"Mama gagal menjadi ibu yang baik untukmu, mama sudah menelantarkan kamu nak, melihat kamu hanya di satu sisi, membiarkanmu menanggung rasa sepi tanpa kami di sisimu." lanjut Maura dengan isakan yang terdengar pilu.


"Mama salah, sangat salah!" Maura menunduk dalam, tampak jelas bahwa ia sangat menyesali perbuatannya.


Sementara Ben menghela nafas beberapa kali, berusaha terlihat santai dan tegar.


"Ma, semua yang terjadi biarlah terjadi, dan yang sudah berlalu, biarlah berlalu, tidak ada yang perlu di sesalkan, anggap saja itu adalah pelajaran hidup untuk ku ma." balas Ben setelah hanya diam mendengarkan, meraih kedua tangan Maura dan menggenggamnya erat, tubuhnya merosot dengan kedua lutut yang bertumpu di atas lantai.


"Rasa sayang dan cinta Ben terhadap mama sebagai anak tidak pernah berkurang sedikitpun, semuanya masih sama, dan sampai kapanpun akan tetap sama ma."


"Ben_" Maura semakin terisak, dengan tangan kanannya yang membingkai wajah Ben dengan perasaan sedih yang bercampur penuh penyesalan, menyesal karena telah menelantarkan anak keduanya itu, menyesal karena tak dapat memberinya cukup kasih sayang, menyesal karena baru menyadari bahwa Ben begitu menyayanginya.


"Mama minta maaf Ben, mama gagal!"


"Nggak ma, mama nggak gagal dalam hal apapun, termasuk menjaga kami, bagi Ben mama tetaplah ibu yang terbaik."

__ADS_1


.


.


__ADS_2