
Setelah mereka asyik liburan ke tempat Pemandian Air Panas. Anak-anak mereka mendapatkan pengalaman baru selama liburan. Kini waktu liburan mereka sudah habis, dan besok orang tua mereka harus kembali bekerja seperti biasa. Meski liburan kali ini waktunya sangat singkat, namun mereka semua sangat bahagia bisa berkumpul dengan keluarga dan teman-teman.
Setelah mereka menghabiskan waktu liburannya, kini saatnya mereka berkemas-kemas untuk perjalanan pulang ke rumah. Meski di sana selama menginap di hotel terdapat hal-hal yang kurang menyenangkan namun mereka bisa melewatinya dengan baik.
Daffa dan Mika sangat antusias untuk berendam di pemandian air panas. Mereka masih ingin menikmati liburannya di sana, bahkan Daffa ngambek tidak mau pulang dan meminta ayahnya untuk memundurkan kepulangan mereka sehari lagi.
"Ayah, bisakah kita pulangnya besoknya lagi yah? Aku masih ingin berenang di pemandian air panas. Tempatnya enak yah dan suasananya juga nyaman. Aku betah di sini tidak mau pulang. Bisa ya yah, kita undur kepulangannya sehari lagi." Daffa merengek minta diundur kepulangannya.
"Daffa, waktu liburan kita sudah selesai. Ayah dan Om Budi besok harus kembali bekerja. Jika ayah tidak bekerja kita mau makan apa? Kamu juga bukannya besok juga harus bersekolah. Kita tidak bisa memundurkan kepulangan kita. Lain kali nanti ke sini lagi. Kamu mengerti kan?" Rio menjelaskan kepada putranya yang sedang ngambek.
"Iya, ayah aku mengerti. Ya udah sekarang aku mau merapikan barang-barang aku dulu. Memangnya kapan kita pulang yah?" Tanya Daffa dengan nada terpaksa.
"Sore hari ini kita pulang ke rumah. Kamu bereskan saja barang-barang kamu. Jangan sampai ada yang tertinggal." Ucap Rio
"Baik yah."
Sementara itu, Rina beserta keluarganya sedang beberes barang-barang mereka. Keluarga Budi, mika dan istrinya meminta izin untuk keluar sebentar untuk membeli oleh-oleh pesanan saudara mereka.
"Rio... Aku mau keluar sebentar ya, ada yang harus aku beli dulu. Saudaraku ada yang menitip oleh-oleh. Apa kamu menitip juga, nanti aku belikan?" Tanya Budi kepada Rio.
"Tidak usah Bud, nanti dalam perjalanan kita akan mampir dulu ke pusat oleh-oleh." Jawab Budi.
"Baiklah kalau begitu, kami pergi dulu ya..." Ujarnya lagi.
"Oke, nanti kami tunggu di mobil ya. Kalian telpon saja kalau sudah selesai."
"Siap bos..."
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, setelah pergi berbelanja oleh-oleh, Budi kembali ke mobil dengan membawa aneka macam jajanan oleh-oleh yang merupakan pesanan saudara mereka.
"Wah, banyak sekali yang kamu beli Bud, memangnya saudaramu ada berapa?" Tanya Rio kepada Budi.
"Banyak Rio, ada 5 saudaraku. Mereka semua sudah pada menikah dan masing-masing memiliki 3 orang anak. Jadi aku harus banyak membelikan oleh-oleh untuk mereka agar semua kebagian." Jawab Budi sambil membawa banyak kantong oleh-oleh.
"Kerupuk itu harganya berapa mba Mala? satu kantongnya banyak banget isinya." Tanya Rina kepada Mba Mala sambil memegang sekantong kerupuk.
"Murah mba Rina, satu kantongnya hanya sepuluh ribu rupiah. Mba Rina mau? kalau mau ini aku kasih satu kantong kerupuk." Ujar mba Mala.
"Tidak usah mba, itu buat keluarga mba Mala saja. Nanti kami bisa beli di perjalanan pulang."
Ucap Rina kepada Mala.
"Ambil saja mba tidak apa-apa, tidak usah beli di jalan. Ini saya beli banyak ko. Masih cukup untuk saudara saya." Mba Mala sambil memberikan sekantong plastik kerupuk.
"Sama-sama mba." Jawab Mala.
Setelah semuanya sudah rapih. Barang-barang juga sudah dibereskan dan tidak ada yang tertinggal. Mereka langsung berangkat pulang ke rumah. Selama dalam perjalanan pulang Mika menceritakan pengalamannya berenang dan berendam air panas di Bandung. Rasanya sungguh menyenangkan Mika tidak henti-hentinya menceritakan kekagumannya akan suasana selama di Bandung. Dan dia berharap bisa berlibur lagi di sana.
Namun Daffa tampak diam saja, tidak ikut bercerita karena ia masih sedikit kecewa karena tidak bisa berlama-lama di sana. Padahal dia sangat senang sekali berenang dan berendam di pemandian air panas.
"Daffa, bagaimana denganmu? bukankah kamu senang berenang dan berendam di pemandian air panas itu. Kenapa kamu diam saja? Tanya Mika sambil menepuk pundak Daffa yang diam saja.
"Sudah, kamu tidak usah bawel. Aku malas cerita. Kalau kamu ingin cerita, cerita saja sendiri tidak usah ajak- ajak aku. Aku mau istirahat. Kamu jangan ganggu aku. Jawab Daffa dengan ketus.
"Daffa, kamu jangan ketus gitu dong. Kasihan kan Mika. Memangnya dia punya salah apa sama kamu?" Tegur Rina kepada putranya.
__ADS_1
"Aku bilang, aku malas bercerita mah. Kenapa kalian selalu mengganggu aku. Aku cape mah, ingin istirahat. Jawabnya lagi dengan nada sewot.
"Sudah mba, biarkan saja. Mungkin Daffa lelah sehingga tidak mau bercerita. Dan kamu Mika, jangan ganggu Daffa lagi. Kasihan Daffa nya ingin istirahat. Lebih baik kamu juga istirahat, nanti kamu mabok lagi." Nasihat Mala kepada putrinya.
"Baik, mah...
Daffa maafin aku yah. Aku sudah mengganggu kamu sehingga kamu merasa tidak nyaman." Mika berkata kepada Daffa sambil menyodorkan tangannya, meminta maaf.
"Sudahlah, tidak perlu meminta maaf. Aku bilang kan aku lagi malas berbicara. Bisa tidak sih, kamu tidak ganggu aku. Cape tau." Jawabnya dengan ketus.
"Daffa, kenapa kamu begitu sih. Mika kan hanya ingin meminta maaf saja. Kenapa kamu jawabnya begitu." Tegurnya lagi kepada Daffa.
"Mamah, aku kan sudah bilang. Tolong jangan ganggu aku. Aku mau istirahat tidur. Jadi kalian bisa kan tidak ganggu aku." Jawab Daffa dengan kesal.
"Mika, maafkan Daffa ya. Dia mungkin masih sedikit kecewa, karena liburan kali ini tidak bisa berlama-lama di sana. Daffa masih sedikit sedih." Permohonan maaf Rina kepada Mika.
"Iya Tante, tidak apa-apa. Aku juga yang salah. Sudah tahu Daffa masih sedikit kecewa, aku malah mengganggunya."Jawab Mika dengan sabar.
"Main sama aku saja kak Mika." Celetuk Diva yang sedang main game di handphone.
"Memangnya kamu mau main sama kakak? kamu kan masih anak kecil?" Jawab Mika dengan lembut.
"Ya maulah kak. Aku kasihan sama kakak tidak ada temannya. Kak Daffa sedang marah sama kakak, jadi tidak bisa bermain dengan kak Mika." Celetuknya lagi.
"Kamu memang anak yang hebat Diva, kamu masih peduli sama kak Mika." Jawab Mika sambil mengelus-elus kepala Diva.
"Iya dong, anak siapa dulu." Jawabnya lagi.
__ADS_1
Akhirnya suasana di mobil selama perjalanan pulang mereka ke rumah kembali menjadi tenang. Dan perjalanan mereka cukup lancar