
Setelah mendengar cerita dari Pak Didi, Deva merasa terkejut dan berlari ke arah mushola, seakan ia sudah tak sabar lagi ingin bertemu dengan ayah kandungnya yang selama ini jauh darinya.
Sementara itu, Rio yang setia menunggu kedatangan putrinya di sekolah merasa tubuh terasa lelah dan ia pun tertidur pulas di teras mushola. Wajahnya tampak begitu lelah dan lusuh. Seolah tak pernah ia merawat tubuhnya. Dulu ia pernah membuat kecewa anak dan istrinya. Sehingga mereka pun akhirnya berpisah. Hanya rasa bersalah yang selalu menghantui dirinya, seolah-olah ia ingin mengembalikan peristiwa yang telah terjadi.
Dalam tidur lelapnya terdengar sayup-sayup suara putrinya yang memanggil-manggil dari kejauhan. Derap langkah kakinya semakin terdengar nyata sehingga membangunkannya dari tidur lelapnya.
"Ayah... ayah... apakah ayah ada di sini? Aku Deva ayah, putrimu." teriak Deva sambil mencari ke sana dan ke mari sosok ayah yang ia rindukan selama ini.
"Seperti suara putriku, Deva. Suaranya begitu nyata. Apakah dia sudah kembali ke sekolah?" tanyanya dalam hati kecilnya.
"Ayah... Aku Deva, ayah. Ayah di mana?" teriaknya lagi.
__ADS_1
"Benar, itu suara putriku, Deva." Gumamnya dalam hati. Lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya ke luar dari mushola.
Benar saja, ternyata putrinya sudah berada di depan pintu mushola. Rio begitu sangat bahagia akhirnya bisa menemukan putrinya yang selama ini dicarinya. Hari tangis bahagia mewarnai hidupnya. Air matanya tidak bisa dibendungnya lagi. Seakan air mata menjadi saksi kecintaan antara ayah dan putrinya.
'Ayah, aku merindukanmu ayah. Ayah kemana saja? Kenapa baru sekarang ayah mencari ku? Aku kangen sekali." tanya Deva kepada ayahnya sambil meneteskan air mata kebahagiaan. Lalu ia menghampiri ayahnya dan langsung memeluknya, seakan tak mau melepaskannya lagi.
Begitu juga dengan sang ayah, ia pun turut memeluk erat putrinya dan mengusapkan air mata putrinya dengan sapu tangannya.
Setelah keduanya melepaskan rasa rindunya, mereka pun akhirnya duduk berbincang di depan pintu mushola sekolah. Tak berselang lama, Rio mengajak putrinya untuk makan sore di sebuah restoran yang menyajikan menu kesukaan mereka berdua.
Mereka makan dan berbincang-bincang menceritakan seputar kehidupan mereka berdua selama hidup berjauhan.
__ADS_1
Rio tak lupa menanyakan kabar tentang putranya yang bernama Deva, yang tak lain kakak kandung dari putrinya Deva.
"Oh iya, bagaimana kabar kakakmu, Daffa?" Tanya Rio kepada putrinya.
"Alhamdulillah, ayah... Kami semua keadaannya baik-baik saja. Bagaimana dengan keadaan ayah sendiri. Apakah ayah baik-baik saja?" Jawab Deva sambil menunjukkan foto kakaknya yang sudah kuliah.
"Alhamdulillah, keadaan ayah juga baik-baik saja. Ayah sangat senang bisa bertemu kamu lagi Deva." sambungnya lagi.
"Sama ayah, Deva juga kangen sama ayah. Ayah tidak menanyakan kabar ibu?" ucapnya lagi.
"Ayah sangat malu sama ibumu. Ayah sangat bersalah sama kalian semua." ucapnya lagi.
__ADS_1
"Kami tidak dendam sama ayah. Begitu pun juga dengan ibu. Ibu sudah memaafkan ayah. Ibu sudah bekerja keras selama ini untuk menghidupi kakak dan aku yah. Selama ayah sudah tidak bersama lagi. Ibu hampir tidak pernah ke salon. Ia bertanggung jawab dengan masa depan kami yah.