
Rina dan suaminya pun sering cekcok karena adanya adik iparnya yang tinggal serumah dengannya.
Rina merasa kesal karena mereka tidak membantu apa-apa, tetapi seenaknya mereka memperlakukan Rina seperti pembantu.
"Ya, kamu memang kerja di luar cari uang. Akan tetapi kamu tidak pernah memberi aku uang gajian kamu. Semuanya aku beli dari hasil kerjaku sendiri. Tetapi di rumahku sendiri kalian perlakukan aku begini." ucap Rina dengan kesal kepada suaminya.
"Terus mau kamu apa, Rin? Kamu mau pisah dari aku?" Tanya Rio kepada Rina.
"Iya, aku sudah tidak tahan lagi dengan perlakuanmu. Kamu tidak pernah membelaku tetapi kamu ikut-ikutan memperlakukan aku seperti pembantu. Kalau kamu masih terus memanjakan adikmu lebih baik kita pisah." Ucap Rina ke Rio.
"Baik kalau itu keinginanmu, kita pisah." Bentak Rio ke Rina.
"Rio, apa yang kamu ucapkan. Kamu mau pisah? Kalau kamu pisah dengan istrimu bagaimana kita tinggal. Kita kan sudah tidak punya rumah lagi Rio. Ini semua rumah peninggalan dari keluarganya Rina. kamu pikirkan lagi Rio!" Ucap ibu mertuanya Rina sambil membujuk anaknya agar tidak jadi bercerai.
"Iya, kak. Kalau kakak pisah dengan kak Rina, bagaimana kita bisa tinggal?" Timpal adiknya Rio, Hana.
"Sudahlah ini keputusanku. Kalian juga kan yang sudah memperlakukan Rina seperti pembantu. Ya kalian terimalah resikonya juga." ucap Rio kepada ibu dan adiknya.
__ADS_1
Seminggu kemudian, Rio dan Rina resmi berpisah. Hak asuh anak-anak mereka jatuh ke tangan Rina.
Ibu mertua dan adik iparnya sekarang sudah tidak bisa lagi memperlakukan Rina seperti pembantu. Karena Rina dan Rio sudah resmi bercerai. Dan mereka pun sudah tidak punya hak lagi untuk tinggal di rumah peninggalan orang tua kandung Rina.
"Semenjak Rio dan Rina resmi berpisah. Rio memang sudah tidak pulang ke rumah lagi. Rio menghabiskan waktunya di kantor. Ia sekarang memang tinggal di kantor tempat kerjanya. Karena itulah ibu dan adiknya Hana, sekarang merasa menyesal karena telah memperlakukan Rina seperti pembantu.
"Rin, maafkan mama ya." ucap ibu mertuanya.
"Iya, Kak. Maafin aku juga. Aku selama ini sudah berbuat salah sama kakak. Aku menyesal kak." Ucap Hana ke kakak iparnya.
"Iya, aku maafkan kalian. Aku harap jika kalian mempunyai kakak ipar lagi, kalian tidak akan memperlakukannya seperti yang pernah aku alami. Maafkan aku juga, mulai sekarang kalian bukan siapa-siapa aku lagi. Jadi mohon maaf kalian harus meninggalkan tempat ini. Aku harap kalian bisa berubah menjadi lebih baik lagi." Ucap Rina.
Setelah mereka pergi meninggalkan rumah Rina. Kini Rina mulai menata hidupnya. Rina bersama anak-anaknya mulai hidup bahagia tanpa ada yang mengusik kehidupannya. Seperti biasa untuk menafkahi keluarganya Rina bekerja keras agar bisa membahagiakan kedua anaknya.
"Ma, besok mama ada waktu ga?" Ucap Diva Putri bungsu Rina.
"Kenapa Diva? Seperti biasa Mama kan bekerja untuk mencari uang. Memangnya kamu mau apa?" Tanya Rina kepada putrinya.
__ADS_1
Dengan raut sedih Diva mengutarakan keinginannya kepada ibunya : " Besok, sekolah mengadakan acara Family gathering. Kalau mama kerja, dan ayah tidak ada di sini. Bagaimana bisa aku menghadiri acara tersebut? Aku iri dengan teman-temanku. Mereka memiliki keluarga yang lengkap. Kenapa aku tidak, ma? Apakah mama tidak bisa lagi berbaikan sama ayah, ma?"
Dengan meneteskan air mata Rina pun menjawab pertanyaan putrinya itu :"Maafkan mama, sayang. Mama belum bisa membahagiakan kamu. Mamanya juga tidak ingin hal ini terjadi pada keluarga kita. Akan tetapi mama tidak bisa berbuat apa-apa. Rumah tangga mama selalu dibumbui dengan pertengkaran dan ini membuat mama tidak bisa tahan lagi. Ayahmu tidak memikirkan perasaan mama, ia selalu mendengarkan dan menuruti perkataan keluarganya. Sehingga mama merasa asing di rumah sendiri. Mama tersisihkan dari keluarga sendiri. Asal kamu dan kakakmu bahagia. Apa pun akan mama lakukan untuk kalian berdua. Sekarang mama hanya fokus bekerja demi menafkahi kamu dan kakakmu. Mama harap kamu mengerti ya, Diva dengan keputusan mama ini."
"Iya, ma aku mengerti. Maafkan Diva ya ma. udah buat mama bersedih. Biarlah acara di sekolah aku tak perlu menghadirinya." Ucap Diva.
"Nanti, mama izin dulu dari kantor ya Diva. Kamu jangan pesimis begitu. Mama berharap bisa menghadiri acara di sekolahmu nanti." Ucap Rina menghibur putri bungsunya yang tampak bersedih.
"Iya, ma... terserah mama aja. Kalau mama bisa hadir aku ikut acara di sekolah. Ya, kalau mama tidak bisa hadir, tidak mengapa aku tidak ikut acara tersebut. Yang terpenting mamaku bahagia. Aku sayang sama mama." Ucap Diva sambil memeluk ibunya.
Sementara itu Rio yang kini telah resmi berpisah dari Rina. Merasa menyesal dengan keputusannya telah mengorbankan kebahagiaan keluarga kecilnya hanya karena hasutan dari ibu dan adiknya. Rio kini tak memiliki tempat tinggal yang tetap. Ia sering kali berpindah pindah kontrakan. Pakaiannya lusuh karena tidak ada yang mengurusinya sekarang. Hampir setiap hari ia pergi ke cafe untuk mencari hiburan. Sampai suatu ketika ia merasa kangen dengan kedua anaknya dan rindu akan sosok istri yang selalu menemaninya saat di kala ia susah. Lalu ia dengan diam-diam pergi ke rumah istrinya Rina. Namun ia tidak berani menghampiri anak dan mantan istrinya itu. Ia hanya bisa melihatnya dari kejauhan.
"Kini kamu bahagia ya Rin. Aku menyesal telah mensia-siakan kamu. Aku dulu lebih percaya ucapan adik dan ibuku. Mereka semua telah merusak kebahagiaan rumah tangga kita." Gumamnya dalam hati.
Setelah melihat mantan istri dan anaknya dari kejauhan. Rio pun berlalu pergi meninggalkan rumah yang memiliki sejuta kenangan saat keluarga kecilnya masih utuh. Di perjalanan pulang dari rumah mantan istrinya itu ia bertemu dengan adiknya itu. Adiknya sedang bersama dengan pria lain yang bukan suaminya. Lalu Rio pun menghampiri adiknya tersebut. Kemudian menariknya dan Rio pun bertanya : "Apa yang kamu lakukan di sini bersama pria itu? Kenapa kamu bisa bersamanya? Di mana suami dan anak-anakmu?"
"Ini bukan urusanmu, terserah apapun yang akan aku lakukan kakak tidak perlu mencampuri urusanku. Aku begini bersama pria itu demi bisa bertahan hidup." Jadi, kakak pergilah dari sini. Lalu Hana pun menarik pergi pria yang tadi bersamanya.
__ADS_1
"Hana.... tunggu. Kakak belum selesai bicara. Di mana kalian tinggal? Apa mama tinggal bersama kalian?"