
Semenjak kehadiran ibu mertuanya tinggal serumah dengannya. Hampir setiap hari rumah tak pernah sepi. Selalu saja terjadi pertengkaran di antara keduanya karena hasutan ibu mertua.
"Rin, kamu belum masak apa-apa ya? Mama dah laper nih. Kamu kok belum masak juga." Tanya ibu mertuanya.
"Bagaimana aku mau masak ma, pekerjaan aku saja belum kelar. Masih banyak yang harus aku kerjakan. Lagi pula ini, masih pagi. Aku selesaikan pekerjaan aku dulu baru setelah itu masak." Jawab Rina.
"Kerjaan kamu kan bisa nanti kamu kerjainnya. Sekarang mending kamu masakin dulu buat mama. Udah laper nih perut mama. Ga mau ngertiin banget sih kamu jadi menantu."Ucap ibu mertuanya lagi.
"Iya, ma... tunggu sebentar aku masakin dulu buat mama. Mama tunggu aja di sana. Nanti kalau sudah matang aku panggil mama."Jawab Rina sambil menyiapkan makanan untuk ibu mertuanya.
Setelah masakan Rina sudah matang, ibu mertuanya langsung menyantap masakan yang sudah tersedia di meja makan. Bahkan ibu mertuanya menghabiskan lauk pauknya semua, ia tidak meninggalkan sedikit makanan pun di atas meja makan. Rina hanya bisa mengelus dada melihat sikap ibu mertuanya seperti itu.
"Ma, aku lapar... aku makan ya ma, mama masak apa? Teriak Daffa dari ruang tamu.
"Bentar ya, Nak. Mama masakin kamu dulu. Kamu tunggu aja dulu ya, yang sabar."Ucap Rina dengan lembut sambil menenangkan Daffa yang sedang lapar.
"Kenapa mama masak lagi? Bukankah mama tadi sudah masak. Tadi aku lihat nenek sudah makan. Kenapa aku belum boleh makan? Tanya Daffa penasaran.
"Maafin mama ya Daffa. Tadi, mama masaknya cuma sedikit. Jadi tidak cukup kita semua. Makanya sekarang mama mau masak lagi buat kita makan. Kamu yang sabar ya, Nak." Ucap Rina dengan lembut.
__ADS_1
"Baik ma, aku akan sabar menunggu sampai masakan mama siap."Jawab dengan sabar.
"Terima kasih ya sayang, kamu memang anak yang baik. Mama titip adikmu Diva. Tolong jagain, mama mau masak dulu, khawatir Diva main jauh-jauh." Ucap Rina kepada putranya.
Daffa pun menganggukkan kepalanya tanda ia setuju.
"Baik, ma... aku akan jagain Diva. Mama tidak usah khawatir. Aku kan anak hebat Jadi bisa diandalkan."Jawab Daffa.
"Terima kasih sayang. I love you my honey." Ucap Rina sambil mengelus kepala putranya itu.
Setelah percakapan antara Rina dan putranya. Lalu ia melanjutkan tugasnya memasak kembali, kali ini ia memasak makanan kesukaan untuk buah hatinya, Daffa dan Diva.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya masakan Rina pun Telah matang. Dan siap untuk dieksekusi. Lalu Rina memanggil buah hatinya, Daffa dan Diva untuk segera makan.
Daffa dan Diva sedang asyik bermain bersama. mendengar teriakan ibunya yang menyuruhnya makan. Mereka pun turun dari lantai dua. Mereka menuju ruang makan yang terdapat di lantai bawah.
"Baik, ma... kami datang. wah makanan kesukaan aku. Aku pasti lahap makannya." Ujar Daffa sambil menyendok sepiring nasi.
Diva pun tidak mau ketinggalan. Ia juga buru-buru menyendok nasi. Wah lezat sekali masakan mama. Aku senang punya mama yang bisa buat masakan enak." Celetuk Diva.
__ADS_1
Mendengar hal itu Rina merasa sangat bahagia. Karena lelahnya terbayar sudah. Ia dikaruniai anak-anak yang hebat dan sangat mandiri.
Melihat Rina makan bersama kedua anaknya. Ibu mertuanya langsung berkata. "Wah enak sekali makanan yang kalian makan. Kenapa kamu tidak sediakan buat mama juga Rin, Pelit sekali kamu. Masakin mama makanan yang kurang enak, sedangkan buat kalian yang enak-enak. Sungguh terlalu kamu Rin." Ucap Ibu mertuanya.
Tak lama kemudian, Rio suami Rina kembali dari kantor tempat di mana ia bekerja. Ia bekerja mengendarai sepeda motor kesayangannya itu. Karena lelahnya ia setelah pulang kerja. Lalu ia memarkirkan kendaraannya di halaman rumahnya. Kemudian ia masuk ke dalam rumah. Membuka pintu dan melepaskan alas kakinya.
Melihat Rio sudah pulang. Lantas ibu mertuanya langsung menghampiri Rio dan mengadukan Rina lagi.
"Rio... untung kamu sudah pulang. Lihat tuh kelakuan istrimu pada mama." Ujar ibu mertua Rina menghasut putranya.
"Rin, apa lagi yang kamu lakukan sih Rin, sampai-sampai ibuku marah lagi kepadamu. Aku cape Rin, setiap hari mama selalu bilang ini dan itu tentangmu. Memangnya kamu tidak bisa apa Rin, menyenangkan ibu aku?" Bentak Rio kepada Rina.
"Yah, mama tidak bersalah. Kenapa ayah marahin mama? Memangnya apa salah mama yah? Ucap Daffa.
"Diam kamu Daffa, ayah sedang marahin ibumu, kamu tidak usah ikut campur. Kamu lanjutkan makan saja." Rio berkata kepada putranya sambil membentaknya.
Tentu saja Daffa dan Diva sangat takut, karena ayahnya begitu sangat marah kepadanya. Langsung saja mereka masuk ke dalam kamar.
'Memangnya apa salahku sih mas, kenapa kamu marah-marah terus. Anak kamu sendiri kamu marahin juga. Aku tidak melakukan kesalahan apa-apa. Kenapa kamu marah lagi ke aku." Ucapnya sambil membela diri.
__ADS_1
" Kamu tuh sebagai istri yang becus dong Rin, kamu jangan pilih kasih begitu. Kenapa kamu tidak masakin mama makanan. Ia kan lapar. Masa kamu sebagai menantu tidak mau masakin buat mama." Tutur Rio kepada Rina.
"Ya ampun mas, siapa sih yang tidak masakin buat ibu kamu. Tadi pagi juga waktu aku mau jemur cucian, ibu kamu nyuruh aku masakin dulu buatnya, katanya perutnya sudah lapar. Aku sudah masakin buat ibu kamu. Tadi Daffa dan Diva mau makan. Tapi kan lauk pauknya sudah dihabiskan oleh ibu kamu semua. Sehingga aku masak lagi. Baru aja aku selesai masakin buat makan Daffa dan Diva. Ibu kamu sudah minta lagi. Malah bicara yang tidak-tidak ke kamu. Memangnya aku dianggap apa sih sama kalian. Aku bukan pembantu mas, aku istri kamu. Kenapa kamu perlakukan aku seperti ini. Kamu selalu saja belain ibu kamu. Kamu selalu dengerin aduan ibu kamu. Sepertinya ibu kamu benci banget ya sama aku. Sehingga apa yang aku lakukan selalu saja salah di matanya. Kalau memang dia mau dibuatkan makan yang enak-enak, anaknya banyak mas. Minta buatkan saja sama mereka. Anak perempuannya juga ada. Jadi tidak mengandalkan aku aja. Aku hanya menantu, yang selalu salah terus. Apa yang aku lakukan tidak pernah dihargai. Aku cape mas, dengan aduan ibu kamu terus. Kenapa sih ibu kamu harus tinggal dengan kita? Kenapa tidak tinggal dengan anak kesayangannya? Jika kamu terus membela ibu kamu lebih baik kita pisah mas." Ucap Rina dengan emosi.