Terpaksa Menjadi Janda

Terpaksa Menjadi Janda
Malam Minggu


__ADS_3

Suatu malam yang indah, rembulan bersinar dengan terang. Angin malam berhembus sepoi Sepoi. Sebuah mobil sedan berwarna hitam terparkir di depan rumah Rina.


Seorang sopir yang biasa menemani pak Burhan keluar dari mobil sedan berwarna hitam itu untuk menjemput Rina yang masih berada di dalam rumah. Atas perintah sang atasan ia pun segera menemui Rina.


Sesampainya ia di depan pintu rumah Rina. Ia pun mulai mengetuk pintu Rina yang masih tertutup dengan rapat.


Tok.... tok... tok.... terdengar suara pintu mulai diketuk.


"Assalamu'alaikum.... Assalamu'alaikum...


Bu Rina... Bu Rina... Apakah ada orang di dalam?" tanya Pak Dika, Sopir pribadi dari Pak Burhan.


Karena pintu rumah yang masih tertutup rapat, seolah-oleh tidak ada orang yang berada di dalam rumah.


Ia pun mengulanginya kembali. Kali ini ia mulai mengetuk pintu agak keras.


Tok... tok.. tok... Assalamu'alaikum, Bu Rina.. apakah ada di dalam? teriaknya lagi.


Mendengar ada suara orang yang memanggilnya, Rina pun bergegas keluar dari kamar mandi. Ia langsung mengambil handuk yang masih tergantung di atas tali kamar mandinya, lalu ia mengenakan handuk tersebut dan bergegas keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum... Bu Rina." ucap pak Dika kembali mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam, iya pak." Rina menjawab salam Pak Dika.


"Bapak siapa ya...?" tanyanya lagi.


"Ini saya Bu... sopirnya pak Burhan." jawab Pak Dika.


"Sebentar ya pak... saya mengenakan baju dulu." ucap Rina dari dalam rumahnya.


Setelah ia mengenakan baju dengan lengkap, ia pun mendekati arah pintu. Lalu, segera ia buka.


"Saya diminta Pak Burhan untuk menjemput ibu di rumah. Sekarang Pak Burhan masih menunggu ibu di dalam bunga." ucapnya lagi sambil menunjuk ke arah mobil yang terparkir di halaman taman yang berada dekat dari rumahnya.


Sementara itu Pak Burhan, yang masih setia menunggu Rina mengirimkan pesan ke Bu Rina. Ia mengajak Rina untuk membeli barang keperluannya di luar.


Sebelum berangkat menuju ke arah Pak Burhan. Rina mulai bersiap-siap untuk membawa tas yang sudah dipersiapkannya.


Setelah semuanya siap, ia pun berangkat menuju ke arah Pak Burhan yang masih setia menunggunya di dalam mobil.

__ADS_1


Meski pun agak lama. Namun, Pak Burhan setia menunggunya. Tak seperti biasa kadang ia bukan tipe laki-laki yang suka menunggu seseorang. Namun, kali ini ia bersikap sangat lain.


Setelah sampai di depan mobil. Pak Didi langsung membukakan pintu mobil dan mempersilahkan untuk Bu Rina, agar segera masuk.


"Silahkan masuk Bu, ucap pak Dika sambil membukakan pintu mobil lalu mempersilahkannya untuk segera masuk ke dalam.


Di dalam mobil sudah tampak Pak Burhan yang sedang duduk sambil membaca koran.


"Ayo masuk, kenapa kamu diam saja?" ajaknya dari dalam mobil.


"Baik Pak." jawabnya lalu ia segera masuk ke dalam mobil.


Saat semuanya sudah siap. Pak Dika mulai menancapkan kendaraannya dan berlalu pergi menuju mall yang berada di Jakarta.


Selama dalam perjalanan mereka pun saling berbincang tentang kesukaan mereka masing-masing.


Saat mobilnya tiba. mereka pun keluar dari mobilnya untuk berbelanja.


Mereka pun menaiki eskalator. Sebelum membeli barang barang kebutuhan kebutuhannya. Pak Burhan mengajak Rina untuk membeli keperluan make-upnya sehari-hari.

__ADS_1


__ADS_2