
Setelah pulang ke rumah Daffa dan Diva terkejut melihat ayah mereka yang duduk di sofa rumah mereka. Mereka tak menyangka, setelah beberapa bulan lamanya ia bisa melihat ayahnya lagi.
"Ayah... aku senang bisa melihat ayah lagi. Ayah ke mana aja yah...? Aku sudah lama kangen sama ayah." Ucap Diva sambil memeluk ayahnya.
"Maafkan ayah ya, Nak. Ayah tidak bermaksud meninggalkan kalian. Waktu itu pikiran ayah sedang kacau, sehingga tidak bisa mengontrol diri sendiri. Makanya ayah pergi meninggalkan kalian untuk sementara. Ayah sangat berharap bisa berkumpul lagi dengan kalian semua." Ucap Rio kepada anak-anaknya yang sekarang sudah mulai menginjak remaja.
Sementara itu, Daffa hanya bisa terdiam seperti patung. Bibirnya kelu seakan tak bisa berkata apa-apa. Hatinya masih menyimpan rasa sakit dan kekecewaan yang mendalam sehingga tubuhnya meronta saat Rio ingin memeluknya.
Tatapannya terlihat sangat tajam, seakan ingin memangsa apa yang ada di dekatnya.
"Daffa, anakku... maafkan ayah ya, Nak. Ayah selama ini kurang memperhatikan kalian. Ayah sudah berbuat jahat sama kalian, sehingga kalian merasa kecewa dengan ayah.
Sambil menangis Daffa masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan ayahnya yang sedari tadi menunggunya di ruang tamu.
Melihat Daffa menangis tersedu-sedu Rina pun bergegas menghampiri putranya itu, ia ingin menghibur dan menasihati anaknya. Ia tahu anaknya itu marah bukan karena benci kepada ayahnya. Melainkan ia merindukan ayahnya yang sangat mendalam. Daffa menangis bukan karena kecewa saja melainkan karena ia juga merasa senang karena ia bisa bertemu kembali dengan ayahnya itu yang sudah lama dirindukannya. Biasanya ia ke manapun ia pergi ia selalu ditemani ayahnya. Namun, semenjak perceraian dengan ibunya ia rindu akan kasih sayang dan belaian dari kedua orang tuanya.
Tok..tok..tok...
__ADS_1
"Daffa... Bolehkah mama masuk ke kamarmu?" Tanya Rina sambil mengetuk pintu.
Namun Daffa hanya terdiam dan menangis di dalam kamarnya. Karena Daffa tidak berkata apa-apa. Rina pun masuk ke kamar putranya dan berusaha untuk menghiburnya.
"Daffa... Kenapa kamu menangis? Bukankah orang yang sangat kamu rindukan selama ini ada di ruang tamu. Bicaralah sama ayahmu. Mama tahu kamu kecewa, akan tetapi ia ayahmu. Ia juga masih peduli sama kamu. Kalau memang ia sudah tidak peduli sama kamu. Ayahmu tidak akan ke mari menemui anak-anaknya. Mama tahu, ayahmu juga sangat sayang kepada. Mama akui ayahmu selama ini khilaf sehingga ia tersesat di jalan yang tidak benar. Mungkin sekarang ayahmu sudah berubah Daffa. Temuilah ayahmu sekarang, jangan sampai kalian berdua menyesal." Ucap Rina sambil mencoba menenangkan putranya yang sedang bersedih.
Mendengar ucapan mamanya. Daffa yang sedang menangis karena belum bisa menerima kenyataan kedua orang tuanya berpisah, kemudian ia memeluk ibunya.
"Maafkan Daffa ya mah, Daffa tidak benci sama ayah. Daffa merasa senang bisa bertemu dengan ayah lagi. Hanya saja Daffa merasa sedih bila ayah pergi lagi seperti waktu itu. Daffa takut mah, bila harus kehilangan ayah lagi." Ucap Daffa kepada ibunya.
"kamu tidak perlu bersedih Daffa, ayah dan mama akan selalu menyayangimu. Mama akan selalu ada untuk kamu. Meskipun mama dan ayah berpisah, akan tetapi perhatian kami ke kalian masih sama, tidak ada yang berkurang. Sudah kamu jangan menangis, ayo sana temui ayahmu sana. Kasihan ayahmu sudah menunggumu lama." Ucap Rina memberikan pengertian kepada putranya.
Di sekolah ia tak mempunyai teman. Karena dinilai dengan keegoisannya. Maka temannya sudah agak menjauh darinya. Tak heran bila ia dijuluki dengan Mr. cooler.
Dengan kehadiran ayahnya Daffa mendapat pengertian dari ibunya. Perlahan-lahan sikap Daffa kembali seperti semula. menjadi pribadi yang menyenangkan dan suka menolong terhadap sesama. Sikap dinginnya itu ia tanggalkan dan memulai lembar persahabatan dengan banyak orang.
Tentu saja dengan perubahan ini. Banyak orang yang bersimpati dengan Daffa. Ibu dan ayahnya menjadi sangat senang karena Daffa bisa tersenyum kembali.
__ADS_1
Mereka berjanji akan menyediakan waktu mereka untuk bersama anak-anak setiap 2 Minggu sekali mereka mengadakan pertemuan.
Hal ini dimaksudkan agar anak-anak mereka tetap mendapatkan haknya.
Meskipun keduanya agak canggung, karena keduanya sudah resmi bercerai. Tetapi demi anak-anak, mereka bersepakat mengadakan perjanjian.
Sebentar lagi liburan sekolah akan dimulai. Daffa dan Diva meminta ayah dan ibunya agar bisa berwisata bersama. Kali ini Daffa berkeinginan untuk menghabiskan liburan sekolahnya di luar negeri. Mengingat sekarang ayahnya sudah mendapatkan pekerjaan yang layak. Bahkan ia ditunjuk untuk menjadi direktur perusahaan. Ayahnya pernah menjanjikannya liburan ke luar negeri. Karena kebetulan sudah masuk liburan sekolah. Maka Daffa menagih janji ayahnya untuk mengajaknya keluar negeri.
Daffa dan diva ingin melihat ayah dan ibunya kembali rujuk. Maka setiap ada peluang ia selalu menggunakan berbagai cara agar ibu dan ayahnya tidak menaruh curiga.
Diva yang masih duduk di bangku sekolah dasar dimintanya untuk pura-pura sakit. Agar ayah dan ibunya bisa saling bertemu setiap hari. Melihat kelakuan anak-anaknya yang pura-pura sakit Rina hanya bisa tersenyum.
Hari yang dinantikan pun telah tiba. Daffa begitu senangnya sampai semalaman ia tak tidur, untuk packing-packing pakaian yang akan dibawanya ke luar negeri. Kali ini perjalanan pertamanya. Karena sebelumnya ia gagal liburan ke luar negeri. Sebelum keluar negeri ia harus mengurus visa agar ia bisa liburan di sana.
Malam sebelum berangkat ia selalu saja menanyakan kepada ibunya tentang keadaan di luar negeri. Mengingat ini adalah perjalanannya ke luar negeri. Dan baru pertama kalinya ia melakukan perjalanan dengan menaiki pesawat terbang.
"Mah... biasanya di sana itu bagaimana sih mah, aku kan sangat ingin mengetahui sikap orang-orang di sana? Kalau kita tidak bisa bahasa mereka bagaimana mah? Kita tidak akan tersesatkan mah?" Tanya Daffa penasaran.
__ADS_1
"Daffa, kamu lugu banget sih, kaya anak kecil aja... kamu kan dah mulai dewasa. Ya udah sana, sekarang kamu persiapkan kamus bahasa asing atau kamu tinggal searching di Mbah Google." Jawab ibunya.
Daffa pun langsung teringat dan akan membawa buku kamus dan percakapan , bahasa asing.