
Saat-saat yang dinantikan telah tiba. Daffa bisa mewujudkan mimpinya untuk berlibur keluar negeri. Kali ini kunjungan pertamanya ia memilih ke Amerika. Di sana ia berjumpa banyak orang bule. Ia merasa sangat kebingungan bila harus berkomunikasi dengan warga di sana. Karena baginya sangat asing bila berhadapan langsung dengan mereka.
Tentu saja liburan kali ini ia tidak sendiri, namun didampingi oleh keluarga yang sangat menyayanginya. Ayah dan ibunya meskipun sudah berpisah namun mereka tetap mendampinginya. Meskipun Daffa tahu orang tuanya telah berpisah, namun ia tak pantang menyerah niatnya ingin menyatukan keutuhan keluarganya. Walaupun ia tak kekurangan kasih dan sayang dari kedua orang tuanya. Namun ia tetap ingin menyatukan keduanya.
Selama liburan di sana Daffa dan adiknya berkeliling ke tempat-tempat yang biasa dijadikan tempat shooting artis dan aktor Hollywood.
"Kak, kita pergi ke mana lagi nih kak?" tanya Diva sambil berfoto-foto.
"Di sini tempatnya bagus dan indah ya Diva, beruntung sekali kita bisa liburan di sini." ucap Daffa menghampiri Diva yang sedang asyik berfoto-foto.
"Iya, kak. Di sini tempatnya indah. Coba kita bisa sering-sering liburan ke mari pasti akan sangat menyenangkan. Iya kan kak?"
"Tentu saja, sayang sekali kita hanya bisa liburan ke sini selama seminggu. Yuk ah kita kembali ke tempat mama dan ayah. Nanti mereka kebingungan mencari kita." Ajaknya kepada Diva.
Mereka pun kembali ke tempat di mana ayah dan ibunya menunggu. Di sana ia melihat ayah dan ibunya merasa was-was karena khawatir Daffa dan Diva tersesat. Saat mereka melihat Daffa dan Diva kembali. Betapa senangnya mereka karena kecemasannya kali ini sangat berbeda dengan di negerinya sendiri. Di Amerika Daffa dan Diva tak mempunyai sanak saudara, untuk berbicara dalam menggunakan bahasa Inggris pun masih terbata-bata. Oleh sebab itulah kedua orang tuanya sangat khawatir terhadap mereka.
Hari pun sudah malam, suasana di sana sangat berbeda dengan di Indonesia. Daffa mengajak ayah dan ibunya keluar untuk menikmati pemandangan di malam hari. Namun, saat mereka berjalan-jalan dengan banyaknya kerumunan orang, tiba-tiba Diva menghilang entah ke mana. Tentu saja hal ini sangat membuat panik mereka semua. Mereka bertiga berpencar untuk mencari keberadaan Diva. Rio pergi ke arah selatan sementara Rina dan Daffa pergi ke arah Utara. Banyaknya kerumunan orang yang berlalu lalang sehingga menghalangi pencarian mereka untuk menemukan Diva. Hari pun sudah semakin larut. Namun, Diva belum diketemukan juga. Mereka mencari ke sana ke mari tak membuahkan hasil. Karena terbentur dalam berbahasa menambah kesulitan mereka dalam pencarian.
Sementara itu, di lain tempat Diva menangis karena tak menemukan ayah, ibu dan kakaknya. Ia merasa asing di negeri orang. Untuk menyapa saja ia tak tahu harus ngomong apa. Hanya menangis dan mondar mandir yang dapat ia lakukan.
"Mama, ayah, kak Daffa... di mana kalian? Aku takut di sini mah, ayah tolong aku. Aku di sini sendirian tanpa ada yang menemani dan aku tak kenal dengan siapa-siapa." ucap Diva sambil menangis.
__ADS_1
"Mas, bagaimana? kamu sudah menemukan Diva?" Tanya Rina merasa panik.
"Belum, Rin. Aku belum menemukan keberadaan Diva. Aku sudah ke sana ke mari namun belum menemukannya. Bagaimana dengan kalian. Apakah kalian juga tidak menemukannya?" Tanya balik Rio.
Daffa pun ikut menjawab: "Iya yah, kami belum menemukan di mana Diva berada."
Rina pun hanya bisa menangis karena belum bisa menemukan putri bungsunya. Batinnya bergejolak. Hati kecilnya pun berkata: "Diva di mana kamu sekarang nak? Mama sangat khawatir dengan dirimu. Apalagi di sini tempat yang sangat asing bagimu. Kamu tidak bisa berkomunikasi dengan orang-orang karena kamu tidak bisa bahasa mereka."
"Sudahlah Rin, kamu jangan menangis. Ayo kita cari lagi di mana Diva berada. kita tidak boleh menyerah. Kita pasti akan menemukannya. Ayo bangkit Rin. kita mulai cari lagi bersama-sama." Ucap Rio sambil menghibur Rina yang merasa putus asa.
"Iya mah, ayo bangun. Ayo kita cari lagi Diva!" Ajak Daffa sambil merangkul ibunya yang terduduk lemas.
Rina hanya bisa pasrah dan menangis pilu. Karena terlalu khawatir anaknya kenapa-kenapa. "Mas, bagaimana ini. Sekarang hujan deras. Bagaimana kita mencarinya? Ayo kita cari lagi mas. Kasihan Diva. Ia pasti kedinginan. Ia pasti sudah mengantuk. Di mana ia akan tidur?" Terus saja Rina berucap tanpa henti.
"Rin, kamu tenang dulu. Kita pasti bisa menemukan anak kita. Kamu sabar ya... Aku tidak akan menyerah. Aku pasti akan mencarinya sampai ketemu.
Sementara itu Diva hanya seorang diri, di tengah hujan deras ia hanya bisa berteduh di emperan toko yang sudah tutup. Ia pun merasa mengantuk namun bajunya kebasahan karena kehujanan. Ia merasa kedinginan dan menahan rasa lapar.
"Ayah, mama.... Aku kedinginan, aku lapar yah. Mama, ayah, kak Daffa kalian ada di mana? Kenapa kalian tidak mencari aku?"ucapnya dalam tangis.
Di tengah hujan deras, Daffa berteriak: "Diva.... kamu ada di mana? Kami semua panik dan khawatir."
__ADS_1
Dalam gelapnya malam. Terdengar sayup-sayup suara Daffa memanggil Diva. Itu suara kak Daffa tanya Diva dalam hati. "Kak Daffa, aku di sini. Di mana kalian kak Daffa?"
Diva pun terbangun dari tidurnya. Ia pun mencari keberadaan suara yang memanggil-memanggil namanya. "Ayah, mama, kak Daffa, aku di sini. Kalian ada di mana. Kalian pasti mencari aku."
"Ayo, mah kita cari di bawah situ. Sepertinya tadi aku mendengar suara Daffa." Ucap Daffa sambil menyemangati ibunya.
"Benar Daffa. Kamu mendengar suara Diva memanggil kita?" Tanya Rina kepada putra sulungnya.
"Iya, mah. Aku tadi mendengar suara Diva memanggil kita. Ayo mah, yah sekarang kita cari lagi Diva. Ia pasti merasa sedih karena tidak bisa bersama kita. Kita harus mencarinya sekarang." Ucap Daffa kepada orang tuanya.
"Ayo kita cari Diva." Ucap Rio kepada istri dan putranya.
"Rio, kamu tadi mendengar suara Diva dari arah mana? Kamu inget tidak?" Tanya Rina
"Tadi aku mendengar suara Diva sepertinya dari arah sana mah." Jawab Daffa.
Sementara itu, dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara teriakan Diva yang memanggil ayah, ibu dan kakaknya.
"Mah, yah itu suara Diva memanggil. Ayo kita sana." Ajak Daffa kepada orang tuanya.
"Iya Daffa, mamah juga dengar suara adikmu. Sepertinya dari arah sana. Ayo lekas kita ke sana." Tutur Rina.
__ADS_1