Terpaksa Menjadi Janda

Terpaksa Menjadi Janda
Teman Curhat


__ADS_3

Sementara itu, di tempat terpisah. Rina tidak mengetahui jika mantan suaminya mencari tahu tentang keberadaan mereka tinggal.


Rina sibuk dengan pekerjaannya dan mengurus kedua anaknya di rumah. Ia hampir tidak pernah berdandan untuk berangkat ke kantor, namun ia termasuk karyawan yang sangat cekatan. Bosnya sangat menyukai kinerjanya.


"Rin, setelah selesai bekerja. Bagaimana kalau kita belanja ke mall. Aku mau membeli baju. Bajuku sudah sangat usang. Kamu mau kan menemaniku?" ajak Sinta sambil memberikan secangkir kopi dan meletakkan di atas meja kerja Rina.


"Tapi aku tidak janji ya, Sin. Kamu lihat kan pekerjaanku sangat banyak." jawab Rina sambil mengetik laporan keuangan perusahaan.


"Iya, nanti kalau kamu belum selesai. Aku akan bantuin pekerjaan kamu." Celetuk Sinta lagi.


Tak berselang lama, jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Namun, Pak bos belum juga datang ke kantor. Tak seperti biasanya, ia selalu berangkat pagi untuk menanyakan jadwal rapat dengan klien.


"Eh, Rin. Tumben ya pak bos kok sudah jam 10 belum juga datang ke kantor. Kamu tahu kenapa?" tanya Sinta sambil mendekatkan diri ke meja kerja Rina.


"Iya, Sin. Aku juga tidak tahu kenapa pak bos belum juga sampai di kantor. Biasanya ia mengirimkan pesan kepadaku kalau ia tidak bisa hadir atau terlambat datang ke kantor." jawab Rina sambil memeriksa ponselnya.

__ADS_1


"Mungkin ia terlambat bangun Rin? semalam bukannya pak bos pulang malam karena ada rapat dengan klien?" tanya Sinta lagi.


"Iya, kamu benar, Sin. Mungkin ia terlambat bangun sehingga tidak memberi kabar ke kita." imbuhnya.


Tak berapa lama, di saat Rina dan Sinta berbincang-bincang membicarakan tentang bosnya. Tiba-tiba ada yang membuka pintu.


Ceklek... bunyi suara pintu dibuka.


Langsung pandangan mereka berdua tertuju ke arah pintu.


"Iya, aku juga tidak tahu, siapa yang datang." Jawab Rina penasaran.


Di saat keduanya tampak serius. Setelah pintu itu terbuka. Lalu terdengar suara laki-laki yang berbicara. "Apa yang kalian bicarakan? Sudah sana kalian kerja, jangan ngobrol aja."


Sontak saja mereka berdua tampak kaget.

__ADS_1


Dan mereka berdua pun kembali ke tempat kerja mereka masing-masing.


"oh iya, tolong buatkan aku secangkir kopi!" perintah Pak Burhan, seorang bos eksekutif ternama. Yang memiliki wajah rupawan nan tampan. Bertubuh kekar seperti seorang atletik. Dan berjiwa humoris. Banyak wanita yang menyukai bos mereka.


Selain tampan, ternyata Pak Burhan belum berkeluarga, sehingga pesona ketampanan wajahnya menjadi idaman banyak wanita.


"Baik, Pak. Akan saya buatkan kopi untuk bapak." Jawab Rina sambil berlalu dari ruangan direktur.


Rina pun membuatkan kopi untuk bos mereka. Ia sangat tau benar bahwa bos mereka yang satu ini sangat alergi dengan susu. Sehingga kopi yang ia minum adalah kopi hitam, hanya kopi dan gula saja.


Setelah kopi buatannya sudah siap. Rina pun langsung mengantarkan kopi tersebut ke ruangan bos mereka.


"Nah, ini dia kopi kesukaan aku. Kamu tau benar seleraku. Kamu memang asistenku yang sangat handal, Rin." ucapnya sambil meneguk secangkir kopi.


"Eh Rin, nanti malam temani aku berbelanja parfum di mall. Kamu mau kan?" Ajak Pak Burhan.

__ADS_1


"Baik, Pak. Saya akan menemani bapak." Jawab Rina seketika itu juga.


__ADS_2