
Beberapa hari kemudian, Angga mendapatkan tender besar. Ia mulai sibuk dengan pekerjaannya. Banyak hal yang harus dia kerjakan. Dan dia banyak menghadiri meeting dengan klien dan beberapa staf lainnya.
Hal ini tentu saja sangat menguras tenaganya. Ia hampir saja kelelahan karena pekerjaannya tersebut.
Pekerjaannya ini benar-benar sangat menyita waktunya. Ia bahkan tidak pernah punya kesempatan untuk bertemu dengan Deva. Jangan kan Untuk bertemu, menelpon saja ia tak ada waktu.
Banyak klien yang menghubunginya. Pekerjaannya ini merupakan proyek besar. Ia tidak mau gegabah dalam bekerja. Semua dilakukannya dengan profesional.
Asisten pribadinya pun turut kewalahan untuk menyeimbangkan dengan bosnya.
Deva yang merasa kesepian tanpa kehadiran Angga, tampak sedih dan ia mulai menghabiskan waktunya bersama dengan sahabat-sahabatnya.
Sementara itu dalam kesibukannya, akhirnya Angga teringat akan Deva. Ia pun meluangkan sedikit waktunya di saat jam istirahat. Ia menelpon Deva dan menanyakan kabarnya.
__ADS_1
"Halo Dev. Ini aku Angga. Bagaimana kabarmu? Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Angga lewat telpon.
Iya mas. Alhamdulillah aku baik-baik saja. Bagaimana kabar mas Angga sendiri? Sehat juga kan?"
Alhamdulillah mas Angga juga sehat. Maafin mas Angga ya Dev, karena mas Angga tidak menelepon Deva. Akhir-akhir ini pekerjaan mas Angga sangat banyak. Jadi mas Angga hampir tidak ada waktu untuk istirahat. Banyak yang harus mas Angga kerjakan. Jika mas Angga tidak kerjakan maka perusahaan akan bangkrut, karena klien mas Angga tidak mau bekerjasama dengan perusahaan yang lambat kerjanya. Karena itulah mas Angga harus bekerja ekstra untuk memuaskan klien." ucap Angga.
"Iya mas, Deva faham. Mas Angga juga harus jaga kesehatan, jangan sampai kelelahan nanti mas Angga sakit." ucap Deva.
"Baik kak. Semangat kerjanya ya kak." ucap Deva
"Tentu saja Dev." Balas Angga
Setelah mereka berdua berteleponan. Mereka pun kembali beraktivitas seperti semula.
__ADS_1
Angga melanjutkan pekerjaannya yang sedang menumpuk. Sedangkan Deva harus belajar untuk ujian sekolah.
Di hari yang sama, di saat Deva sedang belajar untuk ujian sekolah. Daffa kakak dari Deva pulang ke Indonesia setelah menempuh pendidikannya. Ia pulang dari luar negeri tanpa memberi kabar Deva dan ibunya. Ia berniat memberi kejutan kepada mereka berdua.
Kali ini ia sudah berada di bandara internasional Soekarno Hatta. Ia turun dari pesawat dan sangat senang bisa kembali ke negara asalnya.
"Alhamdulillah akhirnya sampai juga ke tanah air." ucap syukurnya karena telah sampai di Indonesia.
Setelah turun dari pesawat ia pun bergegas mencari taksi. Ia sudah tak sabar ingin segera pulang ke rumah. Karena terlalu banyaknya penumpang, ia pun tak kebagian mendapatkan taksi. Ia harus menunggu sampai beberapa menit ke depan.
Setelah sekian lama menunggu taksi dan harus berebut dengan penumpang lainnya. Akhirnya ia dapat juga taksi dan segera berangkat pulang menuju rumahnya.
"Rupanya sangat jarang sekali taksi di bandara ini ya Pak.? Tanya Angga kepada pak supir taksi. "Iya pak, karena sekarang sudah banyak taksi online jadi sudah jarang banget ada taksi yang ngetem di bandara. Karena sudah semakin banyaknya kendaraan umum jadi persaingan meningkat. Dan banyak juga dari supir taksi ngetem yang beralih ke taksi online.
__ADS_1