Terpaksa Menjadi Janda

Terpaksa Menjadi Janda
Merasa Trauma


__ADS_3

Dengan kejadian yang telah dialaminya, Deva merasa sangat trauma. Bahkan untuk keluar rumah sendirian ia tidak mau.


Untuk itulah ibunya setiap hari selalu mengantar dan menjemput Deva ke sekolah.


Mendengar kabar tentang Deva yang sangat trauma dengan kejadian yang menimpa dirinya.


Angga langsung menghubungi Deva. Dan menanyakan kabar tentangnya. Karena masih sedikit trauma, Deva tidak banyak berbicara di telpon. Ia hanya bisa menangis bila harus menceritakan kejadian yang telah dialaminya.


Karena merasa sangat khawatir. Angga kemudian berangkat menuju ke rumah Deva.


Tok...


Tok...


Tok...


Suara pintu ada yang mengetuk. Deva yang mendengar suara itu. Ia langsung menghampiri pintu. Namun, ia tidak berani membuka pintu itu.


"Siapa?" tanya Deva dengan rasa takut.

__ADS_1


"Ini aku Dev, Angga." jawab Angga dengan rasa cemas terhadap Deva.


Mendengar, jawaban Angga. Deva pun langsung membukakan pintu rumahnya.


Setelah membukakan pintu rumahnya. Deva pun langsung menangis dan memeluk Angga.


"Mas, Angga." Sambil menangis ia memeluk Angga dengan sesegukan.


"Kamu, kenapa Dev?" tanya Angga dengan rasa penuh khawatir.


"Aku takut mas." jawab Deva.


Deva pun lalu menceritakan kejadian yang telah menimpa dirinya.


Mendengar cerita Deva. Angga memutuskan untuk mengantar jemput Deva ke sekolah.


"Aku sangat khawatir dengan kejadian yang kamu alami, Dev. Aku akan mengantar dan menjemputmu ke sekolah." ucap Angga.


"Aku sejak kejadian itu. Ibu selalu menemaniku ke mana pun aku pergi. Bahkan untuk pergi ke sekolah ia selalu mengantar dan menjemput aku. Ibu sampai-sampai cuti kerja hanya untuk menemaniku di rumah. Aku juga tidak mau terlalu lama larut dalam kesedihan. dan trauma. Namun, untuk sekarang aku belum bisa melupakan kejadian tersebut." ucap Deva.

__ADS_1


"Untuk itulah Dev, aku bersedia mengantar dan menjemputmu ke sekolah. Aku akan selalu menemanimu. Aku sangat khawatir denganmu. Kamu mau kan aku temani?" tanya Angga.


"Apa tidak merepotkan mas Angga? Bagaimana dengan pekerjaan mas Angga? Apakah tidak terganggu jika mas Angga menemaniku mengantar dan menjemput aku ke sekolah? tanya Deva.


"Kamu jangan khawatir, Dev. Perusahaan itu milik ayahku. Dia tidak akan marah bila aku menemanimu di saat kamu membutuhkan bantuan." ucap Angga.


"Terima kasih mas Angga. Seandainya ayahku tidak berpisah dengan ibuku. Mungkin aku tidak akan kesepian seperti ini. Apalagi kakakku kuliah di luar negeri. Aku sangat merasa kehilangan sosok mereka." ucap Deva dengan rasa sedih.


"Kamu jangan sedih Deva. Aku selalu ada untukmu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu." ucap Angga lalu memeluknya dengan hangat.


"Sekarang, aku ingin mengajakmu ke luar rumah. Ayo kita cari hiburan. Agar kamu bisa melupakan kesedihanmu, Dev." ajak Angga dengan semangat.


"Sebentar mas, aku mau mandi dulu dan bersiap-siap." ucap Deva, lalu ia pun masuk ke kamarnya untuk mengambil handuk.


Sementara itu, Angga menunggu Deva di ruangan tamu. Sambil menunggu Deva selesai mandi dan bersiap-siap. Angga pun membaca koran yang ada di bawah meja.


Tak lama kemudian, Rina ibunya Deva datang. Ia kembali setelah habis berbelanja di pasar. Melihat Angga sedang berada di rumahnya, ia pun merasa terkejut. Lalu ia pun bertanya.


"Loh Angga. Kapan kamu datang? Apa kamu tidak bekerja?" tanya Rina.

__ADS_1


"Belum lama Tante. Tadi Angga mendengar kabar bahwa Deva mendapatkan musibah. Ia diganggu oleh orang yang tidak di kenal. Karena Angga merasa khawatir, lalu Angga bergegas ke mari Tante." ucap Angga.


__ADS_2