
Hampir setiap hari Rina bertengkar dengan suaminya Rio hanya karena hal sepele. Masalah masakan yang tidak sesuai dan pekerjaan rumah.
"Rin, aku kan sudah bilang kamu masak yang enak jangan malas kamu." Bentak Rio ke Rina.
"Aku masak apa mas? Uang belanja aja kamu tidak berikan. Bagaimana aku bisa masak." Jawab Rina membela diri.
Memang untuk urusan rumah tangga, Rina tidak diberikan uang sama sekali oleh Rio. Untuk membeli beras dan sayuran semua yang mengatur Rio. Untuk belanja di pasar harus bersama Rio. Jika Rio tidak ada uang, urusan keuangan belanja diserahkan kepada Rina. Tentu saja hal ini menjadi permasalahan yang hampir setiap hari diributkan. Uang gaji Rina tidak mencukupi untuk keperluan belanja sehari-hari. Karena penghasilannya hanya cukup untuk membayar cicilan elektronik dan bayar kontrakan.
"Kamu kan bisa belanja pake uang kamu dulu. Kamu kan kerja, kamu yang punya uang jadi kamulah yang harus bayar." Ucap Rio meminta Rina untuk belanja.
"Mas, uang gajian aku kan buat bayar kontrakan dan cicilan elektronik. Memangnya kita mau tinggal di mana kalau kita tidak bayar kontrakan. Biaya sekolah anak-anak saja belum dibayarkan. Karena uangku sudah habis, aku tidak punya uang lagi." Sahut Rina.
"Pokoknya aku tidak mau tau, hari ini kamu masak yang enak-enak buat ibu aku makan. Kalau tidak kamu masakin yang enak, lihat saja nanti. Kamu tanggung sendiri akibatnya." Ucap Rio dengan nada mengancam.
"Aku harus beli pakai apa mas, kita masak yang sederhana saja. Pake telor ceplok. Kalau harus masak yang enak-enak aku ga bisa. Aku ga punya uang." Tutur Rina dengan nada kesal.
"Rio, mama tidak suka ya kalau harus makan dengan telor ceplok. Mama sukanya ayam atau daging rendang. Kalau istrimu tidak masakin mama makanan yang enak. Mama tidak mau makan. Mama mau mogok makan aja." Celetuk ibu Rio.
__ADS_1
Dengan suara lirih menahan sesak Rina berkata : "Bu, tolong mengerti dong, keuangan kita ga cukup kalau harus makan yang enak-enak terus. Aku juga harus bayar kontrakan. Kalau tidak dibayar kita mau tinggal di mana, Bu? Uang sekolah anak-anak saja belum aku lunasi. Ibu tolong mengerti dengan keadaan kita. Mas Rio tidak memberikan aku uang. Bagaimana aku bisa masak yang enak-enak."
"Ya, itu urusan kamulah. Kamu kan ibu rumah tangga, masa sebagai istri kamu tidak mau berkorban sedikit. Harusnya kamu nyenengin mertua. Masa begitu saja tidak mau berkorban." Ucap ibu Rio dengan nada sinis.
"Ya ampun mah, kok mama bicaranya begitu. Aku juga kalau ada uang, pasti aku belikan ma. Tapi kita lihat dulu keuangan kita dan ukur kemampuan kita. Mampu tidak kita beli. Ya kalau memang tidak, ya sudah kita tidak usah paksakan." Ucap Rina sambil membujuk ibu mertuanya.
"Rio, lihat tuh istrimu. Masa sama ibu mertua aja hitung-hitungan. Dia tidak mau nyenengin ibu mertuanya. Istri macam apa itu. Pelit sekali dia." Ibu mertua Rina mengadu kepada Rio.
"Kamu jangan begitu Rin, kamu jadi istri jangan main hitung-hitungan kayak gitu. Kenapa sih kamu begitu banget sama ibu aku? Sudah, pokoknya kamu usahain masak yang enak-enak. Urusan uangnya terserah kamu, mau pinjam ke siapa aja terserah kamu. Yang terpenting ibu aku senang." Ucap Rio sambil memperingatkan Rina.
Setelah situasi yang semakin memanas. Hari sudah mulai agak siang. Rio pun harus berangkat kerja. Kali ini ia tidak menggunakan motornya. Karena ban motornya pecah, belum sempat ia perbaiki motornya di bengkel.
"Tapi mas"
Belum sempat Rina meneruskan kalimatnya sudah langsung dipotong pembicaraannya oleh Rio.
"Kamu tidak usah pake tapi... tapi... cepat berikan uangnya kepadaku. Aku mau berangkat kerja. Nanti keburu kesiangan lagi. Memangnya kamu suka kalau suamimu berhenti kerja?"Tanyanya dengan nada ancaman.
__ADS_1
Akhirnya Rina mengeluarkan dompetnya, lalu menyerahkan uangnya kepada suaminya. Rencananya uang tersebut akan digunakan untuk membiayai SPP sekolah anak-anaknya. Akan tetapi karena Rio ngotot meminta uang mau tidak mau ia harus menyerahkan uang simpanannya itu.
Tak mau ketinggalan ibu mertua dari Rina melihat Rio memegang uang, lantas ia juga turut meminta juga untuk jajan.
Melihat hal itu, Rina hanya bisa mengelus dada. Karena ia sudah bersusah payah mengumpulkan uang untuk keperluan sekolah anaknya. Malah Rio dan ibunya yang mengambil.
"Mas, jangan kamu ambil semua uangnya. Bagaimana dengan biaya sekolah Daffa dan Diva. Mereka kan harus bayar SPP. Kamu jangan boros dong mas." Ucap Rio dengan kesal.
"Kamu jangan pelit Rin, kamu punya uang, ya apa salahnya kamu bagi ke kita juga. Mama kan juga perlu beli yang mana mau. Masa kamu tidak mau nyenengin mertua. Sudah Rio ga usah kamu dengarkan ocehan istrimu. Dia memang pelit. Sama mertua sendiri aja tidak mau ngasih, menantu macam apa itu. Mama benar-benar tidak suka sama Rina. Lebih baik kamu cari aja Rio wanita yang lebih baik dari pada istrimu ini. Yang kaya dan sayang sama mama. Buat apa sih kamu pertahankan pernikahan kamu dengan Rina. Dia itu bukan istri yang sempurna. Dia tidak berguna apa-apa. Lebih baik kamu pikirkan deh. Mama hanya bisa kasih tau kamu." Celetuk ibu Rio.
"Ma, kenapa mama tega sih bicara begitu sama aku ma, memang apa sih salahku? Mama sudah ambil uangku, sekarang mama bilang begitu. Di mana perasaan mama kalau jadi aku? Pasti sakit kan ma?" ucap Rina sambil menangis.
"Sudahlah Rio, kamu urus tuh istri kamu itu, mama males lihat istri kamu lagi. Dia hanya wanita yang ga berguna buat kita." Ucapnya lagi.
"Iya ma, Rio juga males berdebat lagi dengannya. Rio mau keluar aja ma, ketemu sama teman-teman. Dari pada di sini, sumpek lebih baik cari angin aja di luar." Celetukan Rio yang membuat hati Rina tambah terluka.
"Ya udah sana kamu keluar, mama juga ga mau lihat istrimu lagi. Jangan lupa kalau kamu keluar, beliin mama martabak ya yang enak. Mama pengen banget makan martabak." Pinta ibunda Rio.
__ADS_1
Lalu Rio pun keluar rumah untuk mencari makan dan angin segar. Semoga saja keputusannya kali ini benar.