
"Bunda hari ini bunda gak usah jemput Noval ke sekolah, nanti Oma sama Opah yang bakalan jemput Noval" Ucap Noval ketika mereka tengah bersiap berangkat sekolah.
"Noval jadi ke rumah Oma sama Opah?" Kata Arin ketika ia sudah selesai menyiapkan bekal untuk Noval.
"Jadi, bunda! Noval mau bawa oleh-oleh" Jawabnya.
"Kak Noval mau kemana?" Cicit Meimei mendengar obrolan anak dan Ibu itu, ia pun dibuat penasaran.
"Mau ke rumah Oma sama Opah, nanti siang Meimei gak usah jemput kak Noval"
"Kalau kak Noval pergi Meimei nanti main sama siapa?" Lirih nya murung.
"Meimei main aja sama anak yang ada di taman"
"Gak mau!" Meimei mengerucutkan bibirnya sebal, semenjak mengenal Noval ia sudah jarang bermain dengan anak tetangga yang lain.
"Kan ada tante yang nemenin Meimei main" Sergah Arin menyela.
"Kak Noval kan udah janji mau main rumah-rumahan sama Meimei!"
"Main rumah-rumahannya nanti aja, jangan hari ini" Ucap Noval mengingkari janjinya pada Meimei.
"Tuh kan! Kak Noval jahatttt....!!" Teriak Meimei marah.
Gadis itu berlari ke arah Arin, memeluk kaki wanita dewasa tersebut dan menangis disana.
"Huwaaaaaaa.......... Kak Noval jahatttt!!!"
"Eh kok malah nangis? Sini sini.... Uhhh sayangnya tante jangan nangis dong" Arin menggendong tubuh mungil Meimei membujuk bocah kecil itu untuk berhenti menangis.
"Iya, Meimei jangan nangis dong" Seru Noval, ia mendekat dan mengelus-elus pundak Meimei.
Sikap Noval sudah seperti seorang kakak, sikap manja Meimei sudah menjadi asupan sehari-hari bagi dirinya dan Arin. Noval mengerti jika ia harus mengalah.
"Kak Noval kan mau bawa oleh-oleh juga buat Meimei, Meimei mau kan oleh-oleh?" Ujar Arin masih berusaha membujuk Meimei.
"Bener kata bunda, nanti kak Noval bawa oleh-oleh buat Meimei!" Sahut Noval menyetujui perkataan Ibunya.
Tangis Meimei mulai melunak, mendengar perkataan Arin dan Noval yang menyebutkan jika ia akan mendapatkan oleh-oleh juga.
"Tapi kak Noval pulangnya lama gak?" Cicit Meimei dengan suara bergetar akibat tangisan.
"Enggak kok, kak Noval cuma sehari disana"
"Nanti kalau kak Noval pulang kita main rumah-rumahan kan?"
"Iya"
Seketika Meimei langsung tersenyum malu, ia menghapus air matanya yang berjatuhan.
__ADS_1
"Nah gitu dong, kalau senyum kan tambah cantik. Kita anterin kak Noval sekarang ya?" Dan langsung diangguki oleh Meimei.
Mereka bertiga lantas naik ke dalam mobil Arin, dengan hati-hati arin mengendarai kendaraan beroda empat itu menuju tempat tujuan.
"Bunda, nanti waktu Noval libur semester Noval pingin liburan bareng Meimei. Kita udah punya tujuan mau kemana" Seru Noval ditengah perjalanan.
"Oh ya? Liburan kan masih lama, sekitar empat bulan lagi. Emang kalian mau liburan kemana sampai udah direncanain?" Tanya Arin cukup terkejut.
"Kita mau ke Vila yang ada tempat mainnya!" Jawab Meimei bersemangat.
"Waww..... Kayaknya seru!"
"Boleh ya, bun?" Pinta Noval memelas.
"Emm... Nanti deh bunda ngobrol dulu sama Om Sonny" Imbuh Arin tak langsung menyetujui.
"Yahhh....bunda! Ya udah deh" Lirih Noval cukup kecewa.
"Nanti kalau Om Sonny izinin Meimei buat liburan kita kesana bareng-bareng"
"Meimei juga pingin liburan bareng papah" Seru Meimei menyela percakapan mereka.
"Kita kan bakalan nginep, Om Sonny pasti gak bisa karena harus kerja" Imbuh lelaki berusia delapan tahun tersebut.
"Pokoknya Meimei mau ajak papah! Papah harus ikut, nanti Meimei nangis biar papah gak kerja!" Cecar Meimei bersikukuh.
***
Tiga bulan kemudian...
Tak terasa hari-hari telah berlalu begitu cepat, banyak kejadian yang menjadi pembelajaran dalam hidup seorang Arindita.
Ia menjalaninya dengan suka cita, baginya ini adalah ujian Tuhan untuk membuat ia menjadi sosok wanita yang kuat.
Berbagai macam kejadian-kejadian unik yang membuat ia berada dalam situasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Salah satunya menikah dengan Sonny, tetangganya sendiri. Menikah pun terjadi karena hal yang tak wajar.
Arin menjalani rumah tangga dengan lelaki itu selama beberapa bulan terakhir, ia pun semakin dekat dengan Sonny. Namun, tak membuat Arin berani untuk memberitahu soal pernikahan mereka pada siapapun.
Siang itu Arin baru saja mengajak Meimei dan Noval ke supermarket menaiki mobil pribadi Arin, mereka membeli banyak kebutuhan disana.
Pukul satu siang mereka sudah sampai di rumah Arin, Arin memasukkan mobilnya ke dalam garasi lalu mereka pun keluar dari mobil.
“Sini bunda biar Noval yang bawa belanjaannya”
“Beneran Noval bisa? Ini lumayan berat loh”
“Bisa bunda, sini…” noval mengambil satu kantung kresek besar dari tangan Arin dan membawanya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
“Meimei juga mau,tante!”
“Boleh, tapi Meimei yang kecil aja ya” Arin memberikan plastik belanjaan kecil pada Meimei, membiarkan gadis itu melakukan keinginannya.
Meimei berlari menyusul Noval yang sudah masuk ke dalam rumah, sedangkan Arin menutup pagar rumahnya terlebih dahulu.
Ketika ia hendak menutup pagar tersebut tiba-tiba Dewi datang menghampiri Arin.
“Eh mbak Dewi?” Gumam Arin tak jadi menutup pagar.
“Mbak Arin tadi ada yang datang ke sini, katanya mata nemuin mbak Arin tapi mbaknya lagi gak ada di rumah tadi” tutur Dewi memberitahu.
Kening Arin mengerut, ia lantas bertanya.
“Siapa mbak?”
“Emm… Pokoknya laki-laki deh mbak, duh saya lupa namanya… Siapa ya??” Dewi mengingat nama lelaki itu sembari menggaruk-garuk rambutnya yang tak gatal.
“Mungkin papah saya kali, mbak” tebak Arin menduga-duga.
Tetapi langsung dibantah oleh sang tetangga, “Bukan,mbak. Dia masih lumayan muda kok… emm… kira-kira seumuran mas Sonny lah”
Arin menerawang jauh menduga-duga siapa yang datang mencarinya, karena seingat Arin tak banyak yang pernah datang kesini. Apakah orang itu punya informasi penting baginya?
"Mbak Dewi beneran enggak inget namanya?'
Dewi menggeleng cepat, " Saya beneran gak inget mbak, tadi juga saya lagi buru-buru mau ke apotek buat beli obat jadi gak terlalu denger dengan jelas"
"Terus dia bilang apa sama mbak Dewi?"
"Enggak banyak sih mbak, cuma pas saya tanya katanya mau ketemu sama mbak Arin, terus dia juga bilang nanti bakalan kesini lagi" Ujarnya.
Arin belum bisa menebak siapa pria tersebut, namun Arin berharap tidak ada hal buruk ketika mereka bertemu.
"Ya udah gapapa, mbak. Tapi kalau mbak ketemu lagi sama orang itu kasih tau saya ya"
"Iya, mbak. Nanti saya kasih tau mbak Arin lagi, saya pulang dulu kalau gitu"
"Iya, makasih atas infonya mbak Dewi"
"Sama-sama, mbak"
Arin kembali memasuki kediamannya, sambil memikirkan lagi ucapan tetangganya, siapa lelaki itu? Jika bukan orang tuanya lalu siapa? Arin juga tidak begitu dekat dengan teman laki-laki.
Akhhh..... Ia jadi pusing memikirkannya!
Arin mencoba menghiraukan hal itu, toh dia bilang akan kembali lagi nanti.
Ya, sebaiknya ia tidak perlu terlalu mencemaskan orang itu.
__ADS_1