
Sore hari Mita memutuskan untuk pulang karena sebentar lagi suaminya akan pulang kerja jadi ia harus sudah berada di rumah.
Arin mengantarkan Ibunya sampai ke depan pintu, mereka pun bersalam-salaman sebelum Mita pergi.
Hari ini banyak sekali hal yang membuat wanita paru baya itu terkejut, untung saja jantungnya yang sudah tua ini tidak mengalami dampak dari keterkejutan itu.
"Mamah pamit pulang dulu ya Rin, nanti mamah akan datang lagi. Tapi lain kali kenalkan mamah dengan kekasih baru kamu itu, mamah pingin tau dia itu seperti apa" Pinta Mita yang sepertinya sudah sangat penasaran dengan sosok Sonny.
Arin tersenyum paksa sambil mengangguk, "i-iya mah, nanti kalau ada waktu Arin perkenalkan mas Sonny pada mamah dan papah. Tapi Arin belum tau kapan"
"Gapapa Rin, yang penting kami bisa memastikan apakah dia pantas untuk kamu atau tidak meskipun kami yakin kamu sudah memilih yang terbaik" Ucap Mita mengelus salah satu lengan Arin guna memberi semangat kepada putri satu-satunya.
"Iya mah, maaf kalau Arin baru memberi tahu hal ini"
"Enggak masalah nak, kalau gitu mamah pulang sekarang ya. Hati-hati di rumah, mamah pamit dulu"
"Hati-hati juga mah, salam buat papah"
__ADS_1
Dan saat itu juga Mita memasuki mobil pribadinya dan pergi dari sana.
***
"Tadi ada tamu yang datang ke rumahmu?" Tanya Sonny yang baru pulang dari kantor, seperti biasa ia singgah dulu ke rumah Arin.
"Iya mas, tadi mamah datang kesini untuk anterin Noval pulang" Jawab Arin mengatakan siapa orang tersebut.
"Ohh... Orang tua kamu ya, aku belum sempat bertemu" Sahut Sonny.
"Emm.... Mas... " Seru Arin.
"Mamah... Sudah tahu kalau kita ini berpacaran, mamah juga pingin cepat-cepat bertemu sama mas Sonny" Ujarnya.
Sonny hampir tersedak ludah sendiri, pria itu mendekatkan posisi duduknya lebih dekat dengan Arin.
"Apa? Kamu memberitahu orang tua kamu?" Tanya Sonny sedikit terkejut.
__ADS_1
"Bukan aku" Bantah Arin.
"Lalu?"
Arin lantas menceritakan apa yang terjadi dan kenapa Ibunya bisa mengetahui hal ini. Arin menjelaskan semuanya dengan sangat detail, terlihat raut kegelisahan selama ia bercerita, ketakutan karena telah membohongi orang tuanya sendiri, sejujurnya Arin menyesali perbuatannya itu.
"Jadi begitu mas, aku merasa makin bersalah pada semua orang" Sesalnya sembari menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Sonny mengerti apa yang sedang dirasakan oleh istrinya, sejujurnya hal inilah yang ia tidak mau sedari awal menikah, namun Sonny menghargai keputusan Arin untuk menutupi masalah pernikahan mereka. Tetapi ini memang sudah terlalu lama, wajar jika berbagai masalah muncul silih bergantian.
"Apakah ini sudah waktunya untuk kita membeberkan tentang pernikahan kita Rin? Karena mau serapat apapun kita merahasiakannya semua pasti akan terbongkar pada akhirnya" Ungkap Sonny.
"Aku tidak tau mas, tadi mamah sempat bertanya apakah Noval setuju kalau semisal kita menikah. Tapi Noval belum bisa menjawabnya, dia juga sepertinya masih bingung"
Sonny menghela nafas berat, jika ia menjadi Arin pun Sonny pasti akan berpikir dua kali, tapi bedanya Meimei memang sudah menyukai Arin dan tak ada halangan dari gadis itu merestui ia dan Arin menikah. Berbeda dengan Noval yang didasari rasa trauma melihat perpisahan antara Ibu dan Ayahnya.
"Sudahlah, jangan terlalu dikhawatirkan. Setidaknya kedekatan kita tidak terlalu dicurigai, mereka sudah mengira bahwa kita ini berpacaran, tapi kita juga harus terus berusaha supaya Noval bisa mengizinkan kamu menikah lagi" Kata Sonny berusaha membuat Arin lebih tenang.
__ADS_1
Arin pun mengiyakan dan mencoba untuk tidak terlalu cemas akan hal ini, ia akan lebih membujuk putranya untuk menerima Sonny sebagai suami serta Ayah sambung Noval.
"Oh ya, ngomong-ngomong kamu belum memberitahuku kenapa kemarin kamu menangis. Sekarang katakanlah, aku ingin tahu"